Parenting In Digital Era

A Ricky Suroso, Lead Trainer Adam Khoo Learning, Technologies Group Indonesia A Ricky Suroso, Lead Trainer Adam Khoo Learning, Technologies Group Indonesia

Pentingnya teknologi di era globalisasi tidak bisa dihindari. Gawai atau gadget digunakan oleh orang dewasa bahkan anak- anak. Jika kita perhatikan, tak sehari pun gawai dengan jenisnya yang beragam, terlepas dari tangan dan jangkauan anak-anak. Gawai memang dapat memberikan hiburan, dan tidak berarti anak yang gemar bermain atau  menggunakan gawai berarti tidak pintar. Namun sering ditemukan oleh orang tua bahwa teknologi telah membuat anak mereka menjadi menjadi penyendiri, mudah marah, dan tidak memiliki empati terhadap orang- orang disekitarnya. Hal ini sangat memprihatinkan karena mereka juga cenderung mengharapkan segala sesuatunya dengan cepat dan instan.

“Anak-anak memiliki karakter yang berbeda-beda,dan peran orang tua sangat penting dalam tumbuh kembang anak,”tutur A. Ricky Suroso, Lead Trainer dari Adam Khoo  Learning Technologies Group Indonesia, yang merupakan perusahaan training terbesar dari Singapura. Dengan perbedaan karakter di tiap anak, orang tua menginginkan anak untuk tumbuh secara optimal dengan perkembangan yang signifikan, mulai dari cara berfikir, berimajinasi, berkomunikasi serta pencapaian dalam bidang akademis dan non-akademis. Dengan adanya berbagai jenis gawai seperi ponsel pintar atau smartphone dan tablet, selain kegunaannya yang positif juga dapat menjadi hambatan pencapaian yang diharapkan tadi. Sebagai Trainer yang sudah berkecimpung di dunia anak-anak dan sudah melatih ribuan anak Indonesia melalui program ‘I Am Gifted!’TM Life Transformational Camp, Coach Ricky memaparkan bahwa orang tua perlu mengerti akar dari perilaku anak. Tiga dari sekian banyak perilaku anak yang cenderung negatif adalah:

1. Sifat Membantah

Dalam hal ini, kebutuhan emosional anak perlu dipenuhi sehingga ia merasa aman dan nyaman berada di dekat orang tua. Dengan begitu, orang tua pun dapat memahami apa yang diinginkan oleh anak, dan begitu pula sebaliknya. Ketika anak mulai mencari identitas diri, arahan dari orang tua memiliki peran-peran yang besar jika sudah ditanamkan sejak dini. Lima kebutuhan emosional yang perlu diberikan sorotan adalah: Love, Importance, Acceptance, Freedom, serta Recognition. Sebagai salah satu contohnya, kebebasan untuk memilih adalah hal yang paling penting untuk mencari identitas dari anak-anak. Dengan memberikan kebebasan yang pada porsinya dan pengertian bahwa pilihan memiliki sebuah konsekuensi, anak akan merasa bahwa mereka memiliki kendali terhadap hidupnya.

2. Bersikap tertutup terhadap Orang Tua

Salah satu tantangan orang tua adalah ketika anak lebih suka menggunakan media sosial dari pada berkomunikasi dengan orang tua. Menurut Ricky, orang tua harus memperhatikan hal ini, karena ketika nasihat yang didapat dari orang lain di media sosial tidak sepenuhnya bersifat positif, sehingga membuat anak-anak cenderung bersikap asing saat berada dalam keluarga, kenyamanan mereka dapatkan adalah melalui media sosial. Disitulah orang tua akan memberikan kelima aspek penting untuk meletakkan rasa emotion untuk anak-anaknya, sehingga anak-anak merasa bahwa mereka telah diberikan kasih sayang, pengertian, perhatian, serta rasa kepedulian dari orang tuanya. Mereka membutuhkan hal tersebut, sehingga emotion yang mereka dapatkan melalui orang tua, menjadikan karakter yang selalu dekat dengan orang tuanya hingga tercapai tujuan yang
diinginkan oleh orang tua dan juga sang anak.

3. Minimnya Life Skills

“Hal ini yang sering ditanyakan oleh para orang tua, banyak orang tua yang mengeluh anaknya sudah mendapatkan edukasi yang baik, tapi apakah orang tua mengajarkan Life Skills? Belum tentu,” papar Ricky. Life Skills seperti pantang menyerah saat mengalami kesulitan mengerjakan homework, menolong teman saat terjatuh, bertanggung jawab terhadap disiplin waktu, hal-hal tersebut tidak dipelajari di dalam buku, tetapi dalam proses. Disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan untuk perkembangan anak. Anak menjadi lebih kooperatif dengan orang tua, dan kembali lagi kepada emotion yang dihadapi oleh sang anak. Orang tua mengasah emotion anak untuk dapat merasakan dan memahami perasaan apabila ia menghadapi sesuatu di hadapannya.

Adapun cara untuk melakukan persiapan sejak dini adalah dengan memberikan pondasi yang kuat, yakni hubungan yang sehat dengan keluarga. Dimulai dari komunitas terkecil yaitu Papa, Mama, dan Adik atau Kakak; maka seorang anak dapat mengerti perannya di dalam keluarga, sehingga apabila ia ingin menjelajahi atau mendapatkan informasi melalui internet, ia akan mem-filter dengan sendirinya karena ia sudah mendapatkan emotion yang ia dapatkan melalui keluarga. Orang tua perlu menjadi Role Model (panutan) bagi anaknya, hal ini perlu dipelajari orang tua mengenai bagaimana cara menjadi orang tua sebagai panutan untuk anaknya. Dengan menjadi Role Model yang baik untuk anak, apa yang telah diajarkan kepada anak pun akan terserap baik oleh si anak. “Melalui monitoring dan timing yang baik dalam memberikan teknologi kepada anak, maka hubungan orang tua dan anak menjadi lebih kuat. Anak akan mengetahui apa yang orang tua harapkan, dan orang tua juga memahami apa yang anak lakukan untuk mewujudkan tujuan hidup si anak,” tutur Ricky.

I Am Gifted! - Free Seminar

 

Adam Khoo Learning Technologies Group Indonesia
WISMA BNI 46 – 2nd Floor
Jl. Jend. Sudirman Kav.1
Jakarta 10220
(021) 574 7511

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)