Pertamina Menyiapkan Future Leader Menuju Perusahaan Energi Kelas Global

Mengelola dan menyiapkan pemimpin masa depan untuk perusahaan raksasa sekelas PT Pertamina (Persero) jelas menuntut kecermatan strategi dan nyali tersendiri. Betapa tidak, dari sisi skala organisasi, misalnya, Pertamina mengelola banyak usaha dengan total karyawan sekitar 32 ribu orang. Lalu, dari jumlah aset yang dikelola juga tak main-main, nilainya mencapai US$ 70 miliar (per 30 Juni 2020). Belum lagi kompleksitas tantangan bisnis yang dihadapi makin rumit dan dinamis, hingga menuntut lahirnya pemimpin-pemimpin baru, muda, dan energik yang siap menghadapi tantangan terbaru.

Yulius Bulo, Talent & Leadership Ma­nager PT Pertamina (Persero)

Hal itulah yang sejak lima tahun lalu diakselerasi di Pertami­na. Perusahaan pelat merah ini sangat serius mempersiapkan terbangunnya para pemimpin masa depan (future leaders) perusahaan melalui program-program by design yang sudah digodok oleh Direktorat Sumber Daya Manusia. Diharapkan, seiring dengan perkembangan bisnis Pertamina yang makin menggurita, ketersediaan leader yang baik dan berkualitas dari dalam bisa terus tercukupi, serta terbangun melalui sistim yang andal. “Kami mulai meng­akselerasi leader di Pertamina sejak tahun 2015,” ujar Yulius Bulo, Talent & Leadership Ma­nager PT Pertamina (Persero).

Bila dikilas balik, cerita kiprah pengembangan leaders di Pertamina memang terbilang unik. Pertamina sempat melakukan moratorium tidak melakukan rekrutmen (kar­yawan/leader baru) selama delapan tahun karena kondisi freeze pada 1993-2001.

Dampak dari kenyataan itu baru dirasakan 20 tahun kemudian. “Jadi, saat itu ada fenomena ‘pelana kuda’. Di saat itu para senior kami bersiap memasuki masa pensiun, sementara para juniornya belum bisa mengggantikan, masih ada gap. Lebih dari 60% dari top leaders (posisi direksi anak perusahaan, senior vice president, dan VP) akan pension dalam waktu tiga tahun,” Yulius memaparkan.

Karena itulah, pihaknya lalu melakukan boosting bagi generasi yang gap usianya 8-10 tahun di bawah standar normalnya. “Kami harus melakukan percepat­an, mengakselerasi young leaders itu untuk bisa memastikan bahwa Pertamina akan sustain,” kata Yulius.

Nah, akselerasi pengembangan leaders itu semakin diperlukan karena dilihat dari sisi fakta demografinya, 60% (mayo­ritas) karyawan Pertamina adalah milenial sehingga meng­akselerasi pemimpin muda menjadi sangat penting. Tujuannya agar kelak kalangan muda Pertamina ini bisa berbicara dengan “bahasa” yang sama dengan customer perusahaan yang memang juga merupakan digital native (milenial).

Belum lagi bila dilihat dalam konteks eksternal, faktanya para pelaku bisnis milenial kini menjadi disruptor terhadap tatanan bisnis yang ada. Diharapkan, dengan mengakselerasi para pemimpin muda Pertamina, termasuk pemimpin unit bisnis, mereka bisa punya kerangka berpikir yang sama dengan para disruptor generations itu. Sehingga, nantinya kebijakan perusahaan dan operasional perusahaan ini akan diwarnai generasi yang sama. “Khawatirnya, kalau hal itu tidak dilakukan, akan ada interpretation gap antara tantangan bisnis dan operasi perusahaan kami,” Yulius kembali menegaskan.

Program mengakselerasi leaders dimulai di Pertamina pada 2015. Namanya adalah Trailblazer yang awalnya dulu disebut talent development acceleration program. Saat itu dimulai dari mengakselerasi para asisten manajer untuk siap menjadi manajer karena waktu itu masih ada layer-layer suksesor yang bisa mengisi untuk stok level VP dan SVP di Pertamina. Jadi, tahap pertama adalah menggembleng lahirnya para manajer baru. Mereka mengikuti pelatihan dalam bentuk blended learning selama delapan bulan untuk menjadi manajer andal. Program yang berjalan dengan baik hingga sekarang ini telah menghasilkan lebih dari 1.000 manajer.

Sebagai kelanjutan, pada 2018 Pertamina menginisiasi program akselerasi untuk menciptakan senior leaders yang diberi nama Catalyser Program. Tujuannya, melahirkan leaders level vice president, direksi anak perusahaan, dan direksi subholding. Program ini berjalan baik sejak 2018 dan hingga kini sudah ada lebih dari 200 leaders yang mengikuti program ini. Alumninya telah ada yang menduduki posisi direksi subholding.

Keberhasilan program Catalyser bahkan sempat mendapatkan apresiasi level global yang sangat prestisius, yakni sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang mendapatkan Gold Award pada forum Exellence in Practice (EIP) dari European Foundation for Mana­gement Development (EFMD) yang berbasis di Brussels, Belgia. “Di situ Pertamina dinilai mampu melakukan program leadership acceleration secara masif, dan delivery programnya pun berhasil,” kata Yulius.  Program ini didesain untuk memberikan pembelajaran kepemimpinan dan pengembangan pribadi yang mendalam bagi peserta dalam perpaduan antara eksposur internasional, program perubah­an pola pikir, pengembangan karier mandiri, mentoring, dan action learning project dalam proses selama 2 tahun. Validasi kemajuan pembelajaran peserta diukur di awal, tengah, dan akhir program. Pada tahun kedua, dampak program dinilai pada 4 tingkatan: signifikansi peran peserta di tingkat nasional, dampak strategis dan organisasi, dampak kemampuan kepemimpinan, dan dampak pribadi pada karier peserta.

Perjalanan Pertamina membangun leaders tak sampai di situ. Sejak 2019, Pertamina punya visi agar bisa masuk dalam perusahaan Fortune 100 Company pada 2024 dengan target revenue dua kali lipat dari realisasi revenue 2019. Untuk mewujudkan visi tersebut, Pertamina jelas harus mencetak succesor leaders yang punya kapabilitas untuk mencapai target. Sebab itu, dalam program Catalyser, Pertamina kemudian membekali leaders masa depannya dengan pelatihan peningkatan kapabilitas yang sifatnya generik dan spesifik.

Kapabilitas generik ini memang dikembangkan dan harus dimiliki oleh semua orang, mi­salnya visi global business leader, strategic thinker, innovator, entrepreneurship, dan change atau transformational leader. Selanjutnya, mereka akan diceburkan ke dalam jurusan-jurusan yang disebut akselerator untuk mendapatkan kapabilitas spesifik, se­perti pengelolaan enterprise, pengembangan bisnis global, pengembangan bisnis energi, serta inovasi dan teknologi.

Nah, kandidat yang akan masuk dalam pool tersebut dipilih dari talenta-talenta yang sudah lulus dari program Trail-Blazer serta diusulkan oleh manajemen puncak dan Human Capital. Mereka dipersiapkan untuk mengikuti program pengembangan yang akan memakan waktu dua tahun, sekaligus dibekali dengan aspirasi karier dan life-tools-nya.

“Mereka akan diminta menyu­sun personal-enterprise-plan. Dari situ mereka akan dipantau kesesuaiannya, learning needs-nya, dan key develop-indicators-nya,” kata Yulius. Yang pasti, untuk menjalankan program ini, Pertamina sangat serius. Bahkan, melibatkan setidaknya 60 senior leader sebagai mentor bagi adik-adiknya.

Para peserta program ini akan diminta melakukan kegiatan action learning project, ditugaskan dalam bentuk grup-grup untuk mengeksekusi project strategis perusahaan yang tak jarang merupakan exposure baru bagi pesertanya --ini cukup wajar karena me­reka akan menjadi kandidat VP ataupun SVP di masa depan. Selanjutnya, bila sudah memasuki tahun kedua, tidak ada lagi dalam bentuk classroom ataupun pelatihan, tetapi lebih ke mentoring aspek business enterprise program (BEP). Tiap peserta diminta menjalankan program social contribution agar bisa menjadi pemimpin yang mampu memimpin de­ngan hati. Misalnya, mengajar anak jalanan, memberi career counselling pada Mahasiswa, dan melakukan coaching pada UMKM. Dampak dari program itu terhadap bisnis ternyata juga sangat signifikan. Kinerja peserta yang  Lalu, leadership skill juga meningkat. Hasilnya, lebih dari 80% peserta Cata­lyser sudah dipromosikan, dan 66% bisa berganti peran dan berganti bidang kerja sesuai dengan aspirasinya, dan ada 11 orang yang berhasil menduduki posisi direksi baik di Subholding ataupun anak perusahaan.

Pertamina memberikan trust kepada para pemimpin yang telah mengikuti program yang berjenjang dari tahun ke tahun itu, baik yang muda maupun yang senior. Mereka diberi kepercayaan mengelola bisnis jutaan dolar, di dalam negeri dan luar negeri. Tentu saja, ini semua tak lepas dari komitmen penuh manajemen puncak untuk mendukung ini.

Bahkan, Pertamina bertujuan untuk menjadi pabrik talenta yang tidak hanya menyediakan kebutuhan korporasinya, tetapi juga untuk lingkungan BUMN dan seluruh industri di Indonesia. “Kami punya resource, akses, network, dan kapabilitas untuk itu. Kami yakin bisa walaupun diadu dengan perusahaan swasta atau multi national company,” Yulius menandaskan.

Bila melihat pada konteks situasi pandemic Covid-19, memang kondisi ini berpengaruh besar terhadap pengembangan talenta dan pengelolaan SDM. Namun, di sisi lain tentu juga ada berkahnya. Beruntungnya, Pertamina sudah melakukan early adoption of digitalization. Semua infrastruktur digital telah disiapkan beberapa tahun sebelum pandemi Covid-19 sehingga lebih siap pada saat pandemi.

“Kami lalu memodifikasi program-program pengembangan talent, seperti Catalyser dan Trail-Blazer, menjadi dapat dijalankan secara virtual. Dan kemudian, learning hours pun bisa meningkat dua kali lipat,” ungkap Yulius.

Ia yakin, konsistensi implementasi program pengembangan talenta ini akan terus berjalan efektif untuk mencetak future leaders Pertamina. Terutama, dengan dukungan penuh manajemen puncak dan inovasi program yang dilakukan.

Hal itu juga tampak dari antusiasme dan prestasi para talenta muda Pertamina dalam mengikuti kompetisi Indonesia Young Business Leaders Award 2020 yang diselenggarakan SWA. Yulius sangat yakin, semua program pengembangan future leaders ini sudah seiring dengan realisasi visi Pertamina yang ingin menjadi global ener­gy player. Semua program itu juga sangat diperlukan demi tercapainya realisasi visi tersebut.§

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)