Barisan Talenta Muda Pertamina di Posisi Manajemen Puncak

Pertamina mengangkat sejumlah talenta muda menjadi pimpinan di subholding yang baru dibentuk Juni 2020. Dengan kompetensi yang dimiliki, mereka diharapkan membawa perubahan segar dan terobosan baru di anak-anak usaha BUMN migas ini. Targetnya, Pertamina melaju lebih cepat dan makin tangguh berkompetisi di level global.

Gerakan perubahan terus mengalir di tubuh PT Pertamina (Persero), yang telah ditetapkan sebagai holding migas pada Januari 2018. Salah satu bentuk perubahan yang dilakukan di awal 2020 adalah mengangkat sejumlah talenta muda untuk mengisi jabatan direksi di subholding, yakni anak usaha yang baru dibentuk medio 2020.

Adapun subholding tersebut meliputi Upstream, Refinery & Petrochemical, Commercial & Trading, Power & New and Renewable Energy dan dilengkapi dengan sebuah Shipping Company. Semua subholding tersebut akan menjalankan bisnis bersama subholding Gas yang sebelumnya telah terbentuk di bawah Pertamina melalui PT Perusahaan Gas Negara Tbk sejak 2018.

Barisan talenta muda Pertamina yang sekarang di posisi direksi subholding antara lain Isabella Hutahean yang menjabat sebagai Direktur Human Capital & Corporate Services PT Pertamina Patra Niaga, Wisnu Medan Santoso yang ditunjuk sebagai Direktur Perencanaan Bisnis PT International Shipping, dan Yoki Firnandi ditunjuk sebagai Director of Feedstock & Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional. Rentang usia mereka masih di kisaran 40-45 tahun. Sehingga masih termasuk kalangan Gen Y.

Yoki Firnandi menilai, Pertamina tepat dalam melakukan terobosan tersebut. Bukan hanya mengubah struktur organisasi dengan adanya subholding, tetapi juga pola pengembangan sumber daya manusia yang saat ini berjalan. Salah satunya, dengan memilih beberapa direksi dari kategori yang relatif masih muda. “Saat ini, trennya banyak anak muda yang tampil dan leading. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga banyak negara dan di berbagai sektor,” katanya.

Menurut Yoki, banyak anak muda membawa inovasi dan terobosan yang diperlukan oleh organisasi untuk bisa bertahan dan berkembang di kondisi bisnis yang semakin ketat. “Pertamina tidak boleh tertinggal. Jika mempertahankan pola lama, akan semakin tergerus perkembangan zaman,” ungkapnya.

Wisnu Medan Santoso sepakat, Pertamina membutuhkan dukungan dari seluruh insan Pertamina. “Kami memerlukan kreativitas dan semangat para milenial, namun juga pengalaman dan wisdom dari para senior,” kata Wisnu. Terlebih, saat ini Pertamina pada khususnya dan sektor migas pada umumnya menghadapi tantangan sangat besar terkait transisi energi, ditambah dengan kondisi pandemi global.

Isabella Hutahaean (45 tahun)
Siapkan Transformasi SDM Kelas Global

April 2020, genap 21 tahun Isabella Hutabean berkarier di Pertamina. Wanita kelahiran 11 Juli 1975 ini bergabung ke perusahaan pelat merah ini pada April 1999, setelah menamatkan kuliahnya di Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung. Berbagai jabatan manajerial penting di Pertamina ia pegang sejak 2009, baik Direktorat Upstream, Direkorat Gas; Direktorat Energi Baru Terbarukan, hingga VP Asset Optimization di Direktorat Pengelolaan Aset.

Seiring dengan perubahan di Pertamina yang memberikan kesempatan kepada para talenta muda untuk menduduki posisi direksi di subholding, di awal 2020 Isabella didapuk sebagai Direktur Human Capital & Corporate Services PT Pertamina Patra Niaga (PPN).

Bagi Isabella, penunjukkannya bukan sekedar mewakili generasi muda, namun juga menunjukkan bahwa wanita memiliki kemampuan yang tidak kalah dari pria. Terutama di sektor Commercial & Trading (C&T) yang mayoritas diisi oleh kaum pria.

“Saya bersyukur dapat memberikan semangat kepada semua wanita untuk maju lebih lagi. Karena, wanita mempunyai sesuatu yang spesial yang tidak dimiliki pria dalam gaya leadership-nya dan dalam membangun relasi dengan partners secara profesional, sehingga bisa membuat Pertamina lebih maju dan berkembang berskala dunia,” katanya.

Di Pertamina, wanita yang pernah mengikuti Pertamina Production Operation Management School di University of Tulsa, Oklahoma, dan Pertamina Global Executive Development Program di NUS, Singapura, ini meraih banyak prestasi. Namun, ia mengakui hampir semuanya dicapai secara teamwork.

Adapun pencapaian secara pribadi, antara lain, tahun 2019 ia menjadi Best 10 Role Models dan 2nd Top influencer di Pertamina, juga mendapatkan sertifikat sebagai Coach dari LOOP International. Ia juga pernah masuk dalam Big 10 of Marketer Pertamina di tahun 2015.

Di PPN, Isabella bertekad melakukan terobosan dengan mentransformasi bidang SDM. Antara lain, membuat career path yang jelas, mencetak SDM berkualitas global yang disiapkan menjadi pemimpin di Pertamina, serta membangun kultur perusahaan yang kuat. “Dalam kondisi sulit seperti sekarang, kami harus mempunyai SDM yang kuat, tangguh, dan kompeten,” ia menegaskan.

Selain itu, melalui PPN, ia juga ingin mengubah pola pikir karyawan bahwa subhodling C&T akan memiliki ultimate goal yang jelas, yakni menjadi subholding unggulan, menopang komersialisasi dan niaga energi Indonesia. “Size yang bertambah berkali lipat tidak akan mungkin bisa dijalankan tanpa ada perubahan di berbagai proses, kompetensi, dan budaya,” katanya.

Perubahan tersebut, menurut Isabella, dapat menjadi kesempatan bagi karyawan PPN untuk bisa menjadi pribadi dan tim yang lebih agile dan lebih tangguh. Dengan demikian, ia menegaskan, karyawan PPN harus proaktif mengembangkan kompetensi dirinya selain dari yang telah diprogramkan perusahaan, bersedia untuk selalu belajar, dan mengembangkan kemampuan kolaboratif untuk mencapai target perusahaan.§

Wisnu Medan Santoso(41 tahun)
Bawa Angin Segar, Siap Berkompetisi

 Sebelum berlabuh di PT Pertamina (Persero), Wisnu Medan Santoso sempat berkarier di Bank Mandiri. Selulus dari Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung tahun 2002, ia menjalani beberapa penugasan di sejumlah jabatan pada bank BUMN tersebut.

Tahun 2008, Wisnu hijrah ke Pertamina dan kariernya terus menanjak. Penugasan yang ia terima selama di Pertamina berkisar sepuat analis, strategi dan planning hingga akhirnya didapuk sebagai VP Corporate Business & Initiative Management.

I’m a strategic person, hence I tend to stick to my long term objectives day-in day-out,” Wisnu mengungkapkan. Menurutnya, kepercayaan itu yang ia bawa ketika bergabung dengan Pertamina dan menyusun Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) Pertamina yang pertama bersama senior dan rekan-rekannya di bagian Strategic Planning. “Saya sangat bersyukur saat ini RJPP telah menjadi acuan utama arah pertumbuh­an perusahaan,” katanya. 

Kini, di usianya yang masih tergolong muda, Wisnu mendapatkan kepercayaan untuk menempati posisi Direktur Perencanaan Bisnis PT Pertamina International Shipping. Sebagai orang non-shipping di jajaran direksi subholding shipping, ia berharap dapat memberikan perspektif segar di subholding ini. “Tentunya, dengan bimbingan para senior yang lebih berpengalaman di industri shipping,” ujar pemegang gelar CFA (Chartered Financial Analyst) ini.

Menurut Wisnu, di bisnis perkapalan, Pertamina dalam posisi yang baik mengingat prospek bisnis perkapalan yang bagus, diitunjang dengan bisnis existing Pertamina yang menyediakan captive market cukup besar bagi bisnis perkapalan. “Tantangannya, bagaimana memonetisasi bisnis existing ini agar dapat menjadi pijakan dalam rangka ekspansi global, serta merambah segmen-segmen bisnis baru,” kata paraih gelar Magister Petroleum Economics & Management dari Colorado Shool of Mines dan IFP School, Prancis ini.

Tentunya, ia menegaskan, dengan tidak melupakan tugas mulia mengantarkan BBM untuk kepentingan penugasan/public service obligation dengan fokus pada efisiensi dan operational excellence. Targetnya, menjadikan subholding shipping sebagai perusahaan pelayaran yang memiliki fundamental bisnis kuat, optimal dari perspektif risk-return, serta berkompetisi di kancah global.§

Yoki Firnandi (40 tahun)
Mendorong KPI Menjadi
Market Driven

Pada 13 Juni 2020, Yoki Firnandi mendapat tugas untuk menjabat sebagai Director of Feedstock & Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Ia termasuk salah satu dari barisan muda di Pertamina yang masuk jajaran direksi subholding.

Yoki bergabung ke Pertamina sebagai staf junior tahun 2003-2005. Menurutnya, kondisi saat itu merupakan masa transisi dari era manual ke komputerisasi. “Saat saya masuk, banyak hal yang saya lakukan secara manual. Mengapa tidak digunakan secara tersistem dengan menggunakan aplikasi komputer. Saya proaktif untuk melakukan itu pada saat di awal karier,” ia menuturkan.

Setelah lima tahun bekerja di Pertamina, ia dilibatkan di banyak program transformasi BUMN ini. “Tahun 2006-2008, kami mengalami transformasi besar-besaran. Sebagai salah satu anak muda, saya dilibatkan dan berkontribusi memberikan ide-ide,” katanya. Kemudian, tahun 2011, ia ditempatkan di fungsi shipping sebagai cost center, yang saat itu hanya melayani internal Pertamina.

Tahun 2017, ia ditugaskan untuk bergabung dalam tim untuk membangun anak perusahaan baru, yakni Pertamina International Shipping. Yoki dan timnya dituntut mencari terobosan dalam rangka mengubah pola yang sudah ada di Pertamina saat itu. Setelah tiga tahun, Pertamina International Shipping menjadi salah satu anak perusahaan yang paling progresif perkembangannya dari sisi kinerja keuangan dan pertumbuhan nilai bisnis.

Sementara di KPI, setelah menjadi subholding, perusahaan ini harus mencari keuntungan. Yoki menjelaskan, ada beberapa hal yang harus dilakukan terutama terkait pasokan minyak mentah yang merupakan makanan utama (Feedstock) kilang. Pertama, bagaimana bisa menyediakan minyak mentah yang sesuai dengan kebutuhan kilang dengan harga yang kompetitif.

Kedua, menyediakan minyak mentah secara konsisten dan reliable. Ketiga, bagaimana menyediakan minyak mentah dengan tetap memperhatikan aktivitas logistik sehingga mendapatkan pola yang efisien dari sisi biaya.

Dan keempat, bagaimana kedepan KPI yang sebelumya hanya berproduksi untuk kebutuhan Pertamina ke depannya dapat menjadi market driven dengan membaca arah pasar.

“Kami harus memiliki kapabilitas market analysis dan market intelligence yang baik. Sehingga, produk yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan menghasilkan revenue. Ini yang harus dibangun, karena sejak dulu kompetensi ini tidak ada di sektor refinery,” tutur Yoki.§

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)