HSE TC dan MTC Pertamina Pusat Pelatihan Berstandar Internasional

Bisnis di sektor energi dikenal berkarakter high risk, high technology, dan high investment. Menyadari hal itu, Pertamina sebagai perusahaan minyak dan gas telah lama mendirikan pusat-pusat pelatihan yang selain meminimalisasi risiko, juga melatih pekerja agar menjadi SDM yang andal dalam mengoperasikan perusahaan.

Salah satu pusat pelatihan itu adalah Health, Safety, and Environment Training Center (HSE TC) di Sungai Gerong, Sumatera Selatan. Didirikan tahun 1975 bersamaan dengan pembangunan kilang Plaju, HSE TC Sungai Gerong didedikasikan untuk memenuhi kebutuhan pelatihan terkait kesehatan kerja, keselamatan kerja, keamanan kerja, dan lingkungan bagi internal Pertamina agar aktivitas perusahaan berjalan dengan risiko seminimal mungkin.

M. Erry Sugiharto, Direktur SDM PT Pertamina (Persero)

“Melalui HSE TC, Pertamina ingin pekerjanya selalu update dengan standar safety di dunia energi, dan sesuai tuntutan bisnis dengan risiko yang minimal. Karena dalam menjalankan bisnis ini, para assessor dari investor juga menilai dari pengelolaan risiko,” kata M. Erry Sugiharto, Direktur SDM PT Pertamina (Persero).

Sejak berdiri, pusat pelatihan yang pernah tercatat sebagai tempat pelatihan safety terbaik di ASEAN ini terus diperbaiki dari waktu ke waktu. Salah satunya, di tahun 2010, ketika dilakukan revitalisasi fasilitas, sarana prasarana, dan kurikulum untuk disesuaikan dengan kebutuhan Pertamina yang terus berkembang.

Berkat revitalisasi tersebut, HSE TC mendapatkan pengakuan standar internasional pada tahun 2019. Setelah pengakuan itu, kata Lelin, semua unsur (mulai dari sarana prasarana, fasilitas, instruktur, sampai kurikulum dan proses belajar) pada HSE TC Sungai Gerong sudah tersertifikasi internasional yang dikeluarkan oleh Offshore Petroleum Industry Training Organization (OPITO).

Standar HSE TC memang kelas internasional. Ambil contoh aspek fasilitas. Di HSE TC Sungai Gerong, fasilitasnya lengkap: terdiri dari ruang kelas, fire ground, hotel, asrama, sarana praktik bekerja di ketinggian, sarana outbound, lapangan olahraga, serta aneka fasilitas pendukung lainnya.

Namun yang paling diunggulkan, ungkap Lelin, adalah simulasi. Contohnya pada simulasi kebakaran, peserta dilatih mengorganisasi kedaruratan dilengkapi peralatan modern yang lengkap dan mengacu standar internasional. Dia menambahkan, peralatan terkait seperti gas safety, safety driving, serta seluruh prosesnya juga rutin diaudit secara berkala oleh OPITO.

Lelin Eprianto, SVP Human Capital Management PT Pertamina (Persero)

Sisi pengajaran juga istimewa: disampaikan oleh para instruktur yang telah mengantongi sertifikasi internasional. Helmi Fadillah, Manajer HSE TC Sungai Gerong, menjelaskan, terdapat instruktur tetap dan nontetap. Untuk menjadi instruktur ini, syaratnya ketat: mempunyai sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). “Kemudian, karena kurikulumnya berstandar internasional, para instruktur juga memiliki sertifikat internasional OPITO,” ungkap Helmi.

Selanjutnya, dari 141 kamar yang tersedia, HSE TC dapat menampung total okupansi sebanyak 220 orang. Lelin mengatakan, HSE TC mampu melakukan pelatihan mencapai 200 batch, yakni sekitar 3 ribu peserta dalam setahun, dengan durasi pelatihan bervariasi, mulai dari harian sampai mingguan. Pihaknya memastikan, semua orang yang lulus dari sini sudah dapat diakui secara internasional, sertifikasinya bisa berlaku di mana pun.

Dia juga menyatakan, dampak dari pelatihan ini sudah dirasakan perusahaan. “Sebagai satu bukti, Pertamina setiap tahun mengukur budaya safety. Tahun 2019 skornya 3,98, naik menjadi 4,08 di tahun 2020 (rentang skor 0-5). Artinya, sebagian besar orang yang kami kirim kursus, pada semua level, ketika kembali ke pekerjaan membawa dampak positif terhadap budaya safety,” katanya.

Maritime Training Center (MTC)

Selain HSE TC, Pertamina juga memiliki Maritime Training Center(MTC). Pusat pelatihan ini didirikan dengan tujuan memenuhi kebutuhan pelatihan pekerja Pertamina, khususnya terkait peningkatan kompetensi serta kebutuhan regulasi bagi pekerja shipping dan marine. Didirikan tahun 1984, Pertamina MTC telah mendapat pengakuan dari Dirjen Perhubungan Laut (Hubla) dan International Maritime Organization (IMO). “Melalui MTC ini, seluruh kru kapal sudah mempunyai sertifikasi standar internasional sesuai konvensi IMO,” Lelin menjelaskan.

Soleh Komarudin, Manajer Pertamina MTC

Kelompok keterampilan yang dilatih di Pertamina MTC terbilang komplet, mencakup Fleet and Port Management; Supply and Distribution –Custody Transfer, Production Operations, and Maintenance; Terminal & Metering System; serta Health, Safety, Security, and Environmental (HSSE). Lelin mengatakan, sebagai pusat pelatihan yang terbuka bagi semua pihak, Pertamina MTC mengedepankan sejumlah keunggulan. Apa saja?

Pertama, aksesibilitas yang mudah karena pusat fasilitas berada di Jakarta, yaitu Rawamangun dan Plumpang. Kedua, sudah distandardisasi dengan IMO, OPITO, dan ISO 9001:2015 dari TUV SUD, serta jumlah instruktur yang mencukupi sesuai standar sebanyak 178 orang yang berasal dari pekerja aktif ataupun senior/pensiun dari dunia kemaritiman. Ketiga, kecepatan untuk sertifikasi.

Pertamina MTC menjadi satu-satunya pendidikan dan pelatihan nonpemerintah yang bisa mengeluarkan sertifikat atas nama Hubla. “Jadi, kami diakui secara kredibilitas dan kecepatan,” ujar Lelin.

Selain itu, pusat pelatihan kemaritiman ini juga baru saja mendapatkan sertifikasi dari OPITO untuk pelatihan Tropical Basic Offshore Safety Induction and Emergency Training (T-BOSIET) dan Tropical Further Offshore Emergency Training (T-FOET), yaitu transportasi para pekerja dari darat ke oil rig. Juga, telah menstandarkan manajemen mutu berdasarkan quality maritime educational training yang dikeluarkan Singapura.

Dari segi fasilitas, Soleh Komarudin, Manajer Pertamina MTC, menambahkan, yang menjadi unggulan di antaranya simulator 360 derajat, helicopter underwater simulator, fireground untuk simulasi kebakaran, dan real engine simulator. “Inilah keunggulan MTC Pertamina. Pelatihan ini (juga) bisa diikuti pandu-pandu di luar Pertamina, misalnya pandu yang dikelola oleh Pelindo, salah satu pelanggan kami,” katanya.

Hingga saat ini, Pertamina MTC telah memberikan lebih dari 100.000 sertifikasi. Setiap tahun bisa menampung 35.000 peserta, dengan biaya dan durasi yang berbeda-beda. “Ada yang satu hari biayanya Rp 1 juta. Ada yang tiga bulan biayanya Rp 18 juta. Ini adalah kepercayaan dari Hubla untuk bisa melaksanakan sertifikasi kompetensi untuk SIM-nya pelaut,” ungkapnya.

Menyumbang Revenue

Baik HSE TC maupun MTC juga telah melatih para peserta dari luar grup Pertamina. Lelin mengatakan, pihaknya membuka kuota untuk umum segera setelah kebutuhan untuk internal Pertamina terpenuhi. Pelanggan eksternal biasanya berasal dari perusahaan shipping, baik lokal maupun internasional; galangan kapal; SMK atau akademi pelayaran; industri maritim lain; dan individu.

Helmi Fadillah, Manajer HSE TC Sungai Gerong

“Tentunya, peserta internal sudah terla­yani terlebih dahulu. Lalu, kalau ada kapasitas berlebih, peserta dari luar Pertamina bisa menggunakan fasilitas ini dengan standar yang sama. Tapi, kami tetap lebih mementingkan kualitas daripada jumlah peserta,” jelas Lelin.

Kedua TC ini juga ditunjuk untuk mengelola pelatihan perusahaan BUMN klaster energi, terutama perusahaan pelat merah di sekitar Sumatera Selatan. Ke depan, kata Lelin, potensi yang akan digarap juga BUMN sektor logistik, seperti Pelni, Pelindo, ASDP.

Dia menjelaskan, dari total 84 program yang ada di pusat pelatihan MTC, yang menjadi unggulan adalah 36 program mandatory yang telah mendapatkan standar internasional dari Hubla dan IMO. Program inilah yang menjadi daya tarik bagi pihak eksternal sehingga mampu mencetak pendapatan.

Bahkan, untuk MTC, saat ini porsi untuk peserta eksternal telah jauh lebih banyak, mencapai 95% dari total kapasitas 35 ribu peserta. Artinya, kebutuhan untuk internal 1.500-2.500 orang per tahun sudah terpenuhi. “Jadi, malah sekarang lebih dominan untuk melayani peserta eksternal,” ucap Lelin bangga.

Berkat hal itu, lanjutnya, pihaknya bisa membukukan Rp 37 miliar pada tahun 2018, Rp 38 miliar pada tahun 2019, dan menurun pada tahun 2020 karena pandemi menjadi Rp 14 miliar. Sementara itu, pada HSE TC lebih dominan 90% peserta dari internal Pertamina. “Tapi, profit center Pertamina tetap pada bisnis energi, ya. Intinya, dua training center ini kalau ada excess capacity, dipastikan bisa menjadi revenue tambahan,” tuturnya.§

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)