Phapros Kawal Pasar dengan Produk Multivitamin

Kendati industri farmasi ditengarai tergolong sektor aman dan bahkan diuntungkan dari badai pandemi Covid-19, PT Phapros Tbk. memilih tidak mengeksploitasinya secara berlebihan. Perusahaan farmasi pelat merah yang beroperasi di Semarang, Jawa Tengah, ini tetap menjaga produksi yang ada dalam portofolio perusahaan.

“Kami punya produk obat untuk hipertensi, diabet, dsb. yang tetap dibutuhkan. Meskipun di dalam masa Covid sekarang, yang sakit (hipertensi, diabet) juga tetap ada,” ungkap Barokah Sri Utami, Direktur Utama PT Phapros Tbk., yang secara tersirat menegaskan kebijakan produksinya.

Diakui Emmy, panggilan akrab Barokah Sri Utami, semenjak Covid-19 datang sekitar awal Maret 2020, lanskap penjualan memang bergeser. Di satu sisi, produk unggulan Phapros, Antimo, mengalami penurunan penjualan. Meskipun sebenarnya serial Antimo bermacam-macam, ada tablet untuk dewasa, sirup untuk anak-anak, dan Antimo Herbal untuk meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh yang notabene cocok untuk kondisi sekarang, konsumen lebih menandai brand Antimo sebagai obat antimabuk.

Di sisi lain, permintaan beberapa pilar produk spesifik multivitamin meningkat berkali-kali lipat. “Demand lebih besar daripada supply-nya,” ujar Emmy sembari menyebut Becefort yang sekarang jadi primadona.

Menyiasati perkembangan sekaligus dalam upaya memenuhi permintaan pasar, perseroan mengambil keputusan menambah jumlah produksi multivitamin unggulan, yaitu Becefort. “Phapros memproduksi 1 juta boks multivitamin merek Becefort, yang memiliki kombinasi kandungan vitamin C dan vitamin E,” kata Emmy. Ini, menurutnya, sebagai aksi tanggap darurat yang dijalankan menyusul kenaikan permintaan di tengah pandemi Covid-19.

Dengan demikian, hingga Juni 2020 diperkirakan produksi multivitamin akan mencapai 446.000 boks. Dikatakan Emmy, selama ini produksi Becefort tidak pernah mencapai jumlah sebesar itu. Tahun lalu, umpamanya, total produksi Becefort hanya mencapai puluhan ribu boks. Menurutnya, selain Becefort, perseroan juga akan memproduksi sekitar 90.000 boks obat calcitriol atau vitamin D3 aktif hingga akhir 2020. “Vitamin D3 ini penting bagi pasien yang sudah terkena virus corona. Vitamin D3 tidak cukup didapatkan lewat berjemur. Jadi, akan banyak yang memerlukan obat ini,” ungkapnya.

Bahkan rencananya, akhir Mei 2020 nanti Phapros  juga akan meluncurkan vitamin C injeksi sebanyak 15.000 ampul, dan akan ditingkatkan sesuai permintaan pasar.

Dengan peningkatan jumlah produksi tersebut, produksi Phapros saat ini sudah mencapai kapasitas penuh, yaitu menjadi tiga shift untuk produksi multivitamin dan tetap hanya sampai 50% untuk produksi nonmultivitamin. Emmy bersyukur, perubahan tersebut tidak terlampau mengejutkan karena sejak 2018-2019 perseroan memang telah meningkatkan kapasitas produksi.

“Jadi, kami tinggal atur dari sisi jam kerjanya, sesuai dengan berapa kali shift dilakukan,” kata Emmy. Kapasitas produksi Phapros tablet saat ini sekitar 3 miliar tablet per tahun. Sekarang produksi difokuskan untuk pembuatan multivitamin Becefort dll. karena permintaannya meningkat lebih dari lima kali.

Diakui Emmy, tantangan dalam memproduksi obat-obatan tersebut cukup besar. Pasalnya, kenaikan harga bahan baku impor yang dalam mata uang dolar AS semakin membebani perusahaan, mengingat nilai tukar US$ yang makin menguat atas rupiah. Meski begitu, Phapros telah mengupayakan beberapa langkah untuk survival sekaligus tetap mempertahankan pertumbuhan omset dan laba di 2020.

Barokah Sri Utami - Direktur Utama PT Phapros Tbk

Di antaranya, membenahi portofolio merek yang jumlahnya cukup banyak dengan menyeleksi produk mana yang bisa dipersiapkan untuk kondisi sekarang dan produk mana yang potensial untuk masa mendatang. Varian multivitamin, produk herbal, dan disinfektan saat ini mendapat prioritas pengembangan secara intensif.

Mengapa? Karena semua bahan aktif untuk herbal tersebut bisa diperoleh secara lokal. Jika itu dikembangkan,  Emmy yakin, ketergantungannya pada bahan baku impor tidak akan besar --berbeda dengan produk kimia. “Kami upayakan agar produk herbal ini dikembangkan dan dikomunikasikan lebih sering, yang memang tujuannya untuk meningkatkan imunitas tubuh,”  tekad Emmy.  

Dikatakannya, obat herbal dapat menetralkan obat-obat kimia yang dipakai karena Covid, seperti chloroquin dan hydrochloroquin. “Kami punya produk yang bisa menetralisir akibat obat-obat kimia tersebut. Produk-produk ini yang akan kami tingkatkan,” katanya mantab. Untuk membantu memperbaiki fungsi hati akibat pemakaian obat-obat kimia, termasuk obat covid,  Phapros memiliki Hepagard. Sedangkan untuk menjaga daya tahan tubuh, Phapros punya ramuan herbal bernama Antimi Herbal.

Bagi anak usaha PT Kimia Farma Tbk. ini, pandemi Covid-19 justru menjadi titik balik untuk merekonstruksi seluruh kegiatan organisasi, termasuk pola kerja perusahaan. Misalnya, ketergantungan pada orang semakin dikurangi. Mesin-mesin yang relatif baru ditingkatkan agar lebih semiotomatis.

Kemudian, demi keselamatan, kegiatan mengunjungi dokter atau customer juga sudah sangat dikurangi. Sebagai gantinya, Phapros mulai menggunakan komunikasi secara virtual. “Itu membawa dampak/perubahan perilaku yang luar biasa sehingga mau tidak mau harus go digital lebih cepat. Kami semua dipaksa, dan itu akan terbawa terus sampai pasca-Covid,” ungkap Emmy yang diangkat sebagai CEO Phapros sejak 2016.

Artinya, bukan hanya manajemen organisasi yang berubah, tetapi juga strategi pemasaran. Para duta Phapros yang biasa berkunjung ke rumah sakit memberikan informasi harus memakai strategi baru, yaitu lebih banyak berkomunikasi secara virtual. Selain itu, perusahaan pun harus lebih banyak memberikan pesan khusus yang berisi edukasi.

Perusahaan juga berusaha memperpendek rantai distribusi agar bisa langsung ke end user. Tetap melalui trader, tetapi harus lebih cepat responsnya. Jadi, end user bisa lebih cepat lagi mendapatkan produk Phapros melalui marketplace. Kebetulan, karena Phapros bergabung dengan Kimia Farma yang memiliki 1.300 apotek, konsumen akan lebih mudah mendapatkan produknya di sana.

Emmy yakin, pasti ada hikmah di balik badai pandemi Covid-19 saat ini. Terutama, bagi Phapros dan anak perusahaan, ia optimistis Covid membawa dampak positif. Setidaknya, demand terhadap produk yang terkait upaya menjaga kesehatan tetap terjaga, bahkan bisa tumbuh lebih besar.

Konsumen pun berubah semakin bijak. Ke depan, konsumen pasti tidak akan terpaku pada brand, melainkan ketersediaan barang dan manfaat yang diperolehnya. “Sebelum ada Covid, konsumen masih melihat-lihat brand apa. Dengan adanya Covid ini, yang penting ada dulu, dan itu tersedia dengan mudah dan murah,” kata Emmy. Sehingga, hal itu harus menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memasarkan obat-obat terkait untuk menjaga daya tahan tubuh.

Yang penting bagi Emmy, semua pihak mendapatkan pembelajaran dari situasi yang terjadi saat ini. Sehingga, pascacorona nanti, perusahaan dapat mempertahankan hal-hal baik terkait sanitasi, higienitas, serta cara kerja yang aman dengan menjaga jarak, memakai masker, menjaga asupan makanan, dll.

Yang tak kalah penting, perusahaan didorong memberikan perhatian lebih kepada karyawan. “Pengeluaran terkait dengan kebutuhan dasar karyawan kami tingkatkan. Kami memberikan multivitamin, masker, meningkatkan makanannya,” Emmy menegaskan.

Bagi Phapros, karyawan memang nomor satu. “Kami mau berprestasi, dimulai dari karyawan yang happy terlebih dahulu,” ujarnya. Ini seperti logo Phapros yang menggambarkan tiga bola: karyawan, pelanggan, dan pemegang saham, sebagai prioritas layanan yang harus diberikan sesuai dengan misi perusahaan.(*)

Author : Dyah Hasto Palupi dan Vina Anggita

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)