PT Indo Tambangraya Megah Tbk, Komitmen Yang Berbuah Pengakuan

Di usianya yang menginjak 33 tahun, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM) terus melangkah maju. Dari sisi produksi, perusahaan yang 65,14% sahamnya dimiliki Banpu Minerals (Singapura) ini mencatatkan produksi batu bara 22,1 juta ton pada tahun 2018, naik 1,4% dari tahun sebelumnya (21,8 juta ton), dan membukukan pendapatan bersih lebih dari US$ 2 miliar.

Bukan hanya bisnisnya yang berkembang, ITM juga terus mencetak prestasi. Akhir 2019, perusahaan pemasok batu bara untuk pasar global ini meraih Platinum Rating di ajang Asia Sustainability Reporting Rating (ASR Rating) 2019 yang diselenggarakan National Center for Sustainability Reporting (NCSR). Ini adalah ajang penghargaan bagi perusahaan yang telah membuat laporan keberlanjutan berdasarkan standar Global Reporting Initiatives (GRI), dalam rangka mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Dan, Platinum Rating adalah apresiasi tertinggi, di atas rating Gold, Silver, serta Bronze.

Ignatius Wurwanto, Direktur Sustainability & Risk Management ITM.

Laporan keberlanjutan ITM diganjar Platinum (skor 93-100) karena memenuhi kriteria tambahan, yaitu Assured by third party, Disclosure on energy, dan Disclosure on GHG emission. Tercatat sudah kali ketiga perusahaan tambang batu bara ini mengikuti ajang tingkat Asia tersebut dan selalu mampu meningkatkan rating-nya, mulai dari pendatang baru, meningkat ke Gold, sampai akhirnya meraih Platinum.

Diawali dari Komitmen Manajemen

Kata orang, tak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Demikian pula halnya dengan prestasi ini. Peningkatan nilai Laporan Keberlanjutan ITM tersebut merupakan buah dari komitmen serta keseriusan perusahaan terhadap pencapaian SDGs.

Komitmen itu dituangkan dalam perubahan  visi dan misi perusahaan pada tahun 2016 yang memasukkan nilai-nilai pembangunan berkelanjutan secara eksplisit. Dalam misi ITM tercantum ‘Menjadikan kerangka pembangunan berkelanjutan sebagai landasan untuk semua inisiatif dan kegiatan bisnis.’ Tak berhenti dalam misi perusahaan, pada budaya perusahaan pun jelas menyebut Key Behaviour yang berbunyi ‘ ITM Berpartisipasi Dalam Pembangunan  Berkelanjutan: Kami bertanggung jawab atas kesejahteraan serta keberlanjutan sosial dan lingkungan.’

 “ITM memang memiliki pemahaman bahwa kami harus mengkonservasi sumber daya alam dan ekosistem untuk keberlanjutan ekonomi dan masyarakat. Hal itu juga selaras dengan Perpres tentang menjaga kesejahteraan ekonomi dan  melindungi lingkungan. Inilah kompas kami dalam menjalankan SDGs,” kata Ignatius Wurwanto, Direktur Sustainability & Risk Management ITM.  

Agar komitmen terhadap pelaksanaan SDGs ini terjaga konsistensinya, ITM menopangnya dengan membentuk struktur pendukung dalam organisasi perusahaan, yakni fungsi Sustainable Development (SD). Wurwanto menjelaskan, salah satu tugas divisi ini sangat strategis, yakni bertindak sebagai koordinator untuk melakukan penyelarasan strategi perusahaan dengan tujuan berkelanjutan, merumuskan target dan rencana kerja untuk mencapai tujuan berkelanjutan dan mengumpulkan semua data aktivitas/program dari semua unit bisnis untuk dituliskan dalam Sustainability Report (SR) dengan standar GRI. Di sisi lain, peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga akan mewajibkan semua emiten memiliki Laporan Keberlanjutan mulai tahun 2020, dan ITM sudah memulainya sejak enam tahun lalu.

Dimulai dari Masukan Masyarakat

Dalam kesehariannya, aktivitas ITM selalu berupaya mengacu pada konsep sustainability dalam 3P: People, Planet dan Profit, sebagai pendekatan yang dipandang paling komprehensif untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. ITM juga merespon konsep sustainability dalam ESG (Environmental, Social and Governance) yang menjadi perhatian dari sisi investor. ITM melaksanakan Materiality Survey dengan metode Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan dan memetakan topik materialitas yang paling sesuai terhadap kebutuhan pemangku kepentingan. Fungsi SD akan memfasilitasi penentuan, perencanaan, pelaksanaan dan tinjauan ulang akan program yang akan dilaksanakan sesuai dengan topik materialitas tersebut.

Topik Materialitas yang didapatkan dari Materiality Survey, akan dihubungkan dengan empat pilar CSR perusahaan yang sudah disusun sebelumnya berdasarkan strategi perusahaan, yaitu ITM for Environmental, ITM for Education, ITM for Empowerment dan ITM for Compliance (Lestari bersama ITM, Belajar bersama ITM, Berdaya bersama ITM dan Taat bersama ITM). Ke depan ITM akan terus konsisten untuk mendapatkan Topik Materialitas sebagai masukan dalam mengevaluasi kinerja perusahaan setiap tahun.

“Jadi, konsep 3P diinternalisasi, kemudian setiap fungsi harus berkontribusi ke dalam 4 pilar tersebut. Kemudian, melakukan alignment strategy melalui program kerja mereka. Ini dituangkan juga ke anggaran dan dimasukkan ke KPI masing-masing individu,” Wurwanto lebih lanjut menambahkan.

Untuk Lestari bersama ITM, misalnya, sebagai perusahaan tambang yang aktivitasnya banyak berlangsung di area kehutanan, ITM selalu memberi perhatian khusus terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Contohnya, di area anak usaha ITM, PT Bharinto Ekatama, yang terletak di perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. ITM menggandeng Kebun Raya Purwodadi - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (KRP-LIPI) untuk melakukan studi keanekaragaman hayati sebelum mengeksplorasi area tersebut.

Hasilnya, selain menginventarisasi keanekaragaman hayati, juga ditemukan beberapa tumbuhan langka yang bisa dilestarikan di Kebun Raya. “Harapannya, sewaktu masuk tahap reklamasi, kami bisa mengembalikan tanaman-tanaman seperti aslinya lagi. Di sisi lain, kami dapat memberikan nilai tambah bagi Kebun Raya dan keanekaragaman hayati negara kita,” kata Wurwanto.

Kegiatan Konservasi Keanekaragaman Hayati ITM telah dibukukan bersama Tim LIPI.

Menurutnya, program Biodiversity yang merupakan aktualisasi program Lestari bersama ITM memberikan dampak positif bagi ketiga program lainnya. Terbukti, hasil studi tersebut telah dibuat menjadi buku dan menjadi bahan kuliah umum di Universitas Mulawarman, Samarinda (Belajar bersama ITM). Selain itu, mampu menciptakan peluang usaha bagi masyarakat, karena tidak hanya mengkonservasi tanaman langka, tetapi juga ada tanaman obat-obatan, tanaman buah-buahan dan tanaman yang biasa dipakai untuk acara adat (ethno botanic) yang merupakan kearifan lokal (Berdaya bersama ITM).

Contoh program pada  pilar Taat bersama ITM, perusahaan memenuhi kewajiban izin kehutanan dengan melaksanakan penanaman lahan dalam rangka rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS). Saat ini ITM telah menyerahkan kewajiban penanaman pada kawasan seluas 4500 hektar kepada Pemerintah dan akan terus bertambah.  Proses penanaman dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar, dan hal ini membuat ITM mendapatkan apresiasi dari pihak kehutanan sebagai perusahaan tambang taat lingkungan dan peduli masyarakat. Perusahaan juga terus berkomitmen memenuhi kewajiban pemerintah terkait Online Single Submission dan pengelolaan pasca tambang. Hal ini dilakukan dengan perencanaan penambangan yang komprehensif dan memperhatikan kelestarian lingkungan.

Kegiatan ITM for Education untuk anak-anak di seputar daerah Operasi

“Intinya, kami melakukan kegiatan perencanaan yang lebih terintegrasi dan efisien, mulai dari pra-tambang , operasi dan pasca tambang,” tutur Wurwanto. Komitmen ini, menurutnya, merupakan perwujudan Visi & Misi dan budaya perusahaan (BANPU Heart) yang selalu terpatri di dada semua karyawan, serta keinginan agar ITM bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi seluruh stakeholder-nya.§

Author : Yosa Maulana

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)