Raka Bagus Mengembangkan Bisnis Makanan Sehat Bebas Gluten Berbasis Singkong

Ladang Lima merupakan pionir produk makanan sehat bebas gluten berbasis singkong di Indonesia. Proses fermentasi digunakan untuk dapat mengubah karakter tepung singkong menjadi mirip tepung terigu yang dapat digunakan sebagai substitusi terigu sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor.

Raka Bagus, CEO PT Agung Bumi Agro (produsen Ladang Lima)

“Saya mendapatkan kesempatan untuk membuat produk tersebut, munculnya dari saudara. Dia mengatakan, singkong bisa diubah menjadi produk yang memiliki nilai lebih. Akhirnya, lahirlah Ladang Lima pada tahun 2013,” kata Raka Bagus, CEO dan pendiri PT Agung Bumi Agro (produsen Ladang Lima). Latar belakang pendidikan Raka adalah desain grafis dan sebelum meluncurkan Ladang Lima, pria kelahiran Surabaya, 12 Juni 1981, ini berkecimpung di dunia desain grafis, termasuk saat di Jerman.

Awalnya, Agung Bumi Agro memproduksi tepung singkong. Sekarang, banyak memproduksi produk turunan dari tepung singkong. Di antaranya, produk tepung serbaguna, kue kering, mie, pasta, dan tepung premix. Adapun produk yang paling signifikan penjualannya saat ini adalah blackmond cookies dan pasta mac n cheese. Produk tersebut menjadi best seller.

Saat pandemi Covid-19 penjualan produknya mengalami kenaikan. Hal ini karena, pertama, perusahaan ini membangun jaringan reseller yang menjual produknya secara online. Kenaikan tersebut dipicu oleh pembatasan aktivitas masyarakat karena orang tidak bisa berbelanja keluar dengan bebas, sehingga mereka memilih berbelanja secara online. Kedua, banyak ibu-ibu yang work from home. Kegiatan memasak sering mereka lakukan, karena ingin menyajikan makanan sehat untuk anak-anak dan keluarga. Pandemi membuat orang menjaga imun tubuh, sehingga mereka mengonsumsi produk sehat.

Saat ini ada 1.000-an reseller Ladang Lima, didominasi perempuan yang rata-rata ibu rumah tangga. Awalnya, mereka adalah konsumen yang akhirnya suka dengan produk Ladang Lima dan ingin berjualan. “Kami tawarkan konsep reseller, sehingga mereka memiliki penghasilan,” kata Raka, mantan Direktur Pengelola SKAWAN Creative Agency.

Sekarang, Ladang Lima memiliki jalur distribusi melalui reseller, distributor, horeka (hotel-restoran-kafe), serta ekspor. Distribusinya hampir ke seluruh Indonesia dan sudah melakukan ekspor ke Inggris, Amerika Serikat, Filipina, dan Australia.

“Kami memiliki visi menjadi produsen makanan sehat terbesar. Misi kami untuk meningkatkan ketahanan pangan Indonesia, menjadi market leader makanan sehat berbasis singkong, dan menggunakan bahan pangan lokal,” kata Raka.

Menurutnya, singkong bisa tumbuh di lahan subur dan kurang subur. Biasanya, singkong dijadikan tepung tapioka,tape, keripik, dll. Ia ingin membuat produk yang memiliki nilai tambah, memiliki sumber bahan baku yang berkelanjutan, sehat, dan menggunakan bahan baku lokal. Riset yang dilakukannya sejak 2013 menunjukkan, bagian-bagian dari tanaman singkong banyak yang bisa digunakan. Seperti umbinya bisa dimasukkan ke dalam proses fermentasi dan dijadikan tepung mocaf. Karena proses fermentasi tersebut, karakternya berubah menjadi mirip tepung terigu sehingga bisa diaplikasikan ke produk yang menggunakan tepung terigu.

Tepung tersebut menghasilkan waste atau serat yang bisa digunakan untuk campuran pakan ternak. Saat ini, ia sedang melakukan riset untuk mengubah kupasan kulit singkong menjadi gula cair. Begitu juga daunnya memiliki nilai gizi paling tinggi. “Untuk daunnya, saat ini kami masih hanya sebatas riset, belum dikembangkan,” ujar Raka yang pernah belajar desain grafis di Fachochschule Muenster Jerman ini.  

Pada 2013, perusahaan ini tidak fokus memproduksi produk turunan. Awalnya, hanya produksi tepung. Namun ternyata, aplikasi tepung sehat memerlukan waktu. Tren gluten free baru dimulai pada 2015. “Kami sempat shut down dan tidak produksi sama sekali. Sampai akhirnya kami memiliki modal 5 ton tepung singkong dan memberanikan diri membuat noodle. Produk tersebut diterima masyarakat. Akhirnya, meluncurkan produk turunan. Mulai dari cookies, tepung pancake, tepung bumbu, pasta, makaroni, dll.,” Raka menceritakan perjalanan bisnisnya.

Dalam mengedukasi masyarakat, pihaknya lebih mudah menggunakan produk turunan yang gampang dikonsumsi. “Product Value kami Healthy, Easy, Tasty, and Gluten Free. Kami berusaha menciptakan produk sehat (healthy) yang juga mudah (easy) untuk dimasak dengan rasa yang enak (tasty) dan bebas gluten (gluten free),” peraih Juara Food Starup 2017 dari  Bekraf and Amvesindo Creative Innovation Award 2017 ini menjelaskan.

Saat ini, Ladang Lima memiliki lima benefit. Pertama, bebas gluten karena secara natural singkong tak mengandung gluten yang hanya terdapat di gandum. Makanan lokal sebenarnya sudah bebas gluten. Kedua, tepung yang dibuat tanpa pewarna. Ketiga, memiliki kalsium dan zat besi yang tinggi. Keempat, sumber serat. Kelima, indeks glikemik rendah sehingga aman untuk penderita diabetes.

Dalam mengembangkan Ladang Lima, Raka dibantu istrinya, Annisa Pratiwi. Diakui Raka, peran istrinya sangatlah besar. Ia berbagi peran dengan sang istri. “Peran Annisa lebih ke marketing, sales, finance. Sementara, saya berada di produksi, SDM, perencanaan bisnis, dll. Kami banyak diskusi. Merintis bisnis harus memiliki partner, kebetulan partnernya adalah istri sendiri. Kami saling mengisi, apa yang saya tidak miliki diisi oleh dia,” katanya. Ia juga dibantu oleh 70-an karyawan.

Mengembangkan merek juga dilakukannya. “Brand adalah tentang kepercayaan. Yang kami bangun dari awal adalah kepercayaan. Apa yang kami sampaikan dan janjikan melalui produk adalah yang harus kami jaga terus. Kemudian, dari sana kami harus mengomunikasikan melalui berbagai channel,” kata Juara III Jamkrindo Startup Challenge 2018 ini.

Sebelum pandemi, pihaknya banyak melakukan cooking demo, event sponsorship, pameran, dll. Nah, kala kondisi pandemi, pihaknya harus shifting dan mengubah aktivitas, seperti mengadakan online gathering dengan para reseller. Perusahaan ini juga banyak menggandeng influencer chef untuk membuat resep, kelas, dll. sehingga branding dan pemasarannya tetap berjalan di tengah pandemi covid-19. “Channel apa pun yang bisa dimanfaatkan kami maksimalkan karena event offline dan pameran tidak bisa lagi kami ikuti dan adakan,” ungkap lulusan Desain Grafis FH Muenster, Jerman ini.

Pihaknya pun membangun dan menambah layanan konsumen, sehingga bisa menjangkau konsumen secara lebih luas, serta memiliki e-commerce sebagai bagian dari proses branding. Selain itu, perusahaan juga memiliki website, kanal baru yang sedang dikembangkannya. Di tahun ini, Raka ingin mengembangkan omnichannel dengan mengolaborasikan semua kanal yang dimiliki perusahaan menjadi satu kesatuan sehingga bisa melakukan promosi dan distribusi yang jauh lebih cepat dan merata.

Official store atau e-commerce kami sendiri baru dibuka di tahun 2020 awal. Sebelumnya, kami tidak memiliki official store dan tidak melakukan penjualan di e-commerce. Di tahun 2020, kami mulai membuka official store itu dengan tujuan memudahkan konsumen. Pertumbuhan penjualannya tiap bulan naik. Distribusi paling besar didominasi reseller, sebanyak 60%,” Raka mengungkapkan.

Nilai ekpsornya baru 10% dari total omsetnya, dan ia ingin fokus menggarap pasar ekspor pada 2022. Tahun 2021, perusahaan ini masih membuka ekspor, tetapi fokus utamanya adalah memenuhi pasar dalam negeri terlebih dahulu. “Kami berencana membangun kapasitas dan di tahun 2022 baru akan kami gencarkan pemasaran untuk ekspor,” katanya. Pasar ekspor paling potensial adalah Australia, Eropa, dan Amerika. “Rencananya, kami akan jajaki ke negara Eropa lainnya,” tambahnya.

Untuk menjaga kelancaran pasokan bahan baku singkong, perusahaan ini pada tahun lalu membuat kemitraan dengan kelompok tani di Pasuruan, Jawa Timur. Rencana jangka panjang dari kerjasama ini adalah menghasilkan singkong organik dan akan disertifikasi.

Pihaknya membina mereka dan menjamin untuk membeli hasil panen dengan harga yang lebih tinggi. Saat ini, pihaknya bekerjasama dengan mereka dan mendukung mereka dari sisi bibit dan penanaman, serta berkomitmen mengambil hasil panen sesuai dengan harga mereka. Potensi lahan yang mereka  miliki sekitar 200 hektare. “Kebutuhan bahan baku singkong kami sekitar 1.500 ton setahun,” ujar Raka.

Bagaimana penjualan di 2020? “Kami tumbuh dua kali lipat dari tahun sebelumnya dan rata-rata memang setiap tahun tumbuhnya dua kali lipat. Tahun 2021, targetnya tumbuh dua kali lipat lebih dari tahun 2020,” kata Raka optimistis. Ia pun melihat masih banyak kanal yang belum dimaksimalkan. Karena itu, ia menegaskan, akan menggunakan omnichannel sehingga bisa lebih maksimal untuk menunjang penjualan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)