Reworking The Revolution

Organisasi yang berada di posisi terdepan sudah banyak menggunakan digital dan Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan efisiensi mereka.  Akan tetapi, sebagai usaha untuk selalu mendapatkan pertumbuhan yang berkelanjutan, mereka harus beradaptasi pada revolusi industri terbaru atau akan mengalami kekalahan dari competitor. Kita menyebut perkembangan ini sebagai Industry X.0, di mana yang semula kita pikir merupakan bagian tersendiri, yaitu manusia dan mesin, ternyata semakin berdekatan dalam upaya saling mendukung.

Penciptaan nilai baru di masa depan terletak pada upaya mengharmonisasikan antara manusia dan mesin, dan mengakui beragam cara untuk meningkatkan pertumbuhan, baik itu dari penyempurnaan kapabilita inti hingga menemukan ekosistem baru untuk para pekerja. Penelitian global kita, yang menyertakan juga perspektif para pimpinan bisnis di Indonesia, mengindikasikan bahwa mesin-mesin akan bekerja secara dekat dengan manusia, lebih dari sekedar alat, namun sebagai mitra kerja, kolaborator, dan juga penasehat terpercaya. Hal ini memungkinkan akan berhasil karena para mesin ini tidak memiliki kepentingan pribadi yang menjadikan mereka subyektif, dan fokus pada produktifitas.

Penelitian Accenture berjudul Reworking the Revolution memperkirakan bila bahwa para pebisnis berinvestasi di AI dan kolaborasi manusia-mesin dengan nilai yang sama dari perusahaan-perusahaan berkinerja tinggi, maka mereka dapat mendorong pendapatan dan juga meningkatkan kemampuan pekerja mereka.  Akan tetapi, 77% dari para pimpinan bisnis masih percaya bahwa masih terdapat celah kapabilitas di antara para pekerja yang melambatkan tingkat adopsi dari para mesin pintar ini.  Hal ini berarti bahwa teknologi akan selalu lebih mutakhir daripada kemampuan pemahaman manusia. Agar berhasil, perusahaan-perusahaan harus memfokuskan pada tiga tema utama: Reimagining the Work dengan melakukan rekonfigurasi dari bawahan ke atasan, Scaling Up New Skillings untuk belajar bekerja dengan mesin-mesin berintelegensia, dan Pivoting the Workforce yang memunculkan nilai-nilai baru.

Dalam menjalankan Reimagine the Work, kita harus memahami karakteristik kunci yang memisahkan manusia dan mesin. Mesin, dapat didefinisikan sebagai alat yang diprogram dan diberi perintah untuk menjalankan suatu tugas, dan tentu sangat efektif untuk melakukan pekerjaan rutin atau berulang. Sebaliknya, manusia memiliki kemampuan untuk berfikir lebih dari perintah yang kita terima. Manusia memiliki kreativitas, berdaya sosial, dan bersedia untuk berimprovisasi. Manusia dapat mengestimasi bahwa dengan menggunakan otomasi intelegensia dapat memberi dampak 9-15% lebih efisien dari kerja manusia, bila hal-hal rutin diserahkan pada mesin. Hal ini memberi peluang yang sangat luas untuk menciptakan peran-peran yang lebih bermakna dan fokus pada kebaikan bagi manusia. Selama kita bisa mampu memanfaatkan mesin-mesin yang kita ciptakan, maka sebaiknya diserahkan saja ke mereka agar manusia dapat memfokuskan dalam menciptakan peran-peran yang bermanfaat bagi manusia.

Setelah kita mengubah cara kita bekerja dan melakukan penyesuaian peran dari pekerja, akan terdapat beberapa celah kapabilitas yang harus dihadapi. Dari perspektif internal, kita harus melihat kembali bagaimana meningkatkan kemampuan dari angkatan kerja yang dimiliki dengan Scale Up the New Skillings agar mempercepat perkembangan dari para pekerja. Konsep belajar digital menekankan pada perubahan paradigma dari “pergi untuk belajar” menjadi “belajar sambil jalan”. Pendekatan mobilitas ini dapat menurunkan pelatihan di dalam kelas 50%, sehingga dapat memberi kesempatan untuk melakukan pekerjaan berarti, daripada “kabur” saat pelatihan. Penelitian ini juga menunjukan bahwa pengalaman belajar yang berbeda dan fleksibel terhadap waktu dapat meningkatkan produktivitas sebesar 10%, karena akan lebih memperhatikan materi, yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas.

Dari perspektif eksternal, celah kapabilitas dapat ditengahi dengan Pivoting the Workforce yaitu melakukan pendekatan pada ekosistem pekerja ‘baru’ yang belum terjangkau. Organisasi-organisasi bergerak mengarah pada model-model adaptif, dengan memanfaatkan pekerja internal mereka secara organik dan mencari dari pasar kerja eksternal. Hal ini memungkinkan karena pergeseran dari struktur pekerjaan itu sendiri, di mana kita berusaha untuk dapat menentukan peran baru yang lebih ‘cair’ (fluid) atau fleksibel dengan menerapkan otomasi intelegensia. Pekerja adaptif dapat memanfaatkan talent internal, jaringan pekerja eksternal yang sesuai kualifikasi, atau secara ekstrim adalah masyarakat yang peduli. Dengan mengadopsi model pekerja adaptif, penelitian kami mengestimasi bahwa 16% dari pekerja di dalam organisasi sekarang akan terdampak. Hal ini membuka kesempatan untuk menyeimbangi persediaan pekerja ke arah yang tepat.

Dengan demikian, ketersediaan teknologi dan kemampuan untuk fleksibel setiap saat menjadi hal yang normal untuk bisnis saat ini. Sudah hilang saatnya di mana kita terpaku pada peran tertentu dalam organisasi dengan meretasnya revolusi Industry X.0. 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)