Royal Lestari Utama Kembangkan Hutan Tanaman Karet Alam Berkelanjutan

Royal Lestari Utama Kembangkan Hutan Tanaman Karet Alam Berkelanjutan

Komitmen terhadap kinerja bisnis, sosial, dan lingkungan yang berkelanjutan sudah ditunjukkan PT Royal Lestari Utama (RLU) sejak berdiri pada 2015 sebagai joint venture antara Barito Pacific Group dan Michelin (perusahaan produsen ban asal Prancis). Beroperasi di kawasan hutan produksi seluas 88.000 hektar di Jambi dan di Kalimantan Timur, RLU melalui tiga anak usahanya yaitu PT Lestari Asri Jaya, PT Wanamukti Wisesa dan PT Multi Kusuma Cemerlang memiliki visi untuk menjadi perusahaan terdepan dalam pengembangan tanaman industi (HTI) karet yang berkelanjutan.

Penyerahan SK Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kemitraan Kehutanan oleh Fachrori Umar, Gubernur Jambi kepada Polmer Nababan Direktur Operasional PT Royal Lestari Utama

Dalam menjalankan bisnisnya, RLU juga mengembangkan inklusi sosial dengan melakukan pelibatan masyarakat lokal dan mengembangkan kemitraan dengan para petani hutan di sekitar perusahaan. Menurut Arifadi Budiarjo, Public Affairs General Manager RLU, saat ini terdapat lebih dari 20 desa berada di sekitar area kerja yang telah dilibatkan dalam berbagai program kerjasama dan pemberdayaan masyarakat.

Salah satu program utama yang dilakukan adalah pemberdayaan petani karet. Saat ini terdapat 500 orang petani karet yang telah mendapatkan pelatihan dan bekerjasama dengan perusahaan. Perusahaan menyadari perlunya transfer of knowledge agar petani memiliki teknik budidaya karet yang lebih produktif mulai dari proses pembibitan hingga pengelolaan pasca panen. Untuk itu RLU melakukan berbagai kegiatan, mulai dari pendampingan teknis, sekolah lapang (field school), sampai penguatan kelembagaan terkait tentang manajemen bisnis dan juga menampung hasil karet produksi masyarakat dengan harga yang kompetitif.

Dalam prosesnya, RLU mengadakan pelatihan budidaya karet secara produktif, sekaligus mengajak petani mengembangkan skema agroforestry. Dalam sistem agroforestry, selain karet sebagai tanaman pokok, masyarakat juga diajak menanam tanaman pangan, mengembangkan perikanan dan peternakan.untuk ketahanan pangan keluarga mereka di lahan yang mereka kelola. Hasil panen digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka dan surplusnya dibeli oleh Koperasi Karyawan perusahaan. Selain itu, petani pun diajak untuk mengembangkan produk turunan dari hasil panen mereka seperti kripik dan makanan ringan lainnya agar bisa mendapatkan nilai tambah.

Pelatihan peningkatan produktivitas karet kepada petani di sekitar perusahaan

Arifadi menambahkan, dalam program kemitraan yang dikembangkan pembelian karet dari kelompok tani hutan yang menjadi mitra, perusahaan memberikan harga yang kompetitif sesuai harga pasar dan lebih tinggi dari pengepul. program. Setiap minggu RLU memberitahukan harga internasional dan harga yang diberikan, sekaligus memastikan bahwa harga yang diberikan tersebut lebih tinggi dibandingkan harga pengepul di tingkat lokal. “Satu cerita menarik dari program ini adalah keberhasilan seorang petani karet di Desa Sungai Karang, Kabupaten Tebo di Jambi. Sebelum tergabung dalam program kemitraan dengan perusahaan rata - rata pendapatannya hanya Rp 2 juta per bulan dari lahan kelolanya seluas 3,6 hektar. Namun setelah mengikuti program pembinaan yang dilakukan perusahaan dimana hasil produksi getah karet dan sayur mayurnya ditampung oleh perusahaan pendapatannya meningkat hingga Rp 8 juta per bulan,” Arifadi menceritakan.

Langkah RLU mendapat perhatian pemerintah. Pada bulan Juni 2020, PT Lestari Asri Jaya dan PT Wanamukti Wisesa, dua anak usaha RLU mendapatkan SK Pengakuan dan Perlindungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk program kemitraan kehutanan. Kedua anak usaha RLU merupakan perusahaan pemegang HTI pertama di Jambi yang mendapatkan SK dari Kementerian LHK tersebut.. Program ini merupakan wujud kerjasama nyata pengelolaan area dengan para petani hutan yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan. “Kami bersama pemerintah provinsi, kabupaten dan para pemangku kepentingan lainnya termasuk LSM mengembangkan program petani karet yang dipadukan dengan agroforestry untuk bisa meningkatkan kesejahteraan petani dalam kawasan hutan,” tukas Arifadi.

Gajah dan berbagai satwa liar yang dijaga kelestarian dan habitatnya di Wilayah Cinta Alam/ Wildlife Conservation Area (WCA)

Selain melakukan pemberdayaan bagi petani hutan di sekitar area kerjanya, RLU melakukan upaya kolaboratif dengan para pemangku kepentingan seperti pemerintah, LSM dan lembaga untuk mengembangkan program pemberdayaan komunitas Suku Anak Dalam (SAD) atau juga biasa disebut Orang Rimba SAD adalah salah satu kelompok masyarakat asli Jambi yang turun temurun hidup secara secara nomaden di kawasan hutan meskipun karena perubahan situasi sebagian dari kelompok mereka sudah hidup menentap.

Program yang dikembangkan oleh RLU meliputi aspek penghidupan, pendidikan, kesehatan.dan juga catatan sipil untuk memberikan identitas kependudukan kepada SAD. “Dengan memiliki identitas kependudukan, saudara saudara kita SAD tidak hanya bisa mengakses berbagai pelayanan publik seperti pendidikan, BPJS dan bantuan sosial, namun yang sangat penting hal ini sebagai wujud pengakuan mereka sebagai warga negara” ujar Arifadi. Lebih lanjut ia mengatakan sangat mengapresiasi dukungan dari pemerintah mulai dari tingkat provinsi sampai desa, lembaga adat dan kalangan NGO yang berpartisipasi dalam kolaborasi ini. Saat ini Suku Anak Dalam di wilayah kerja RLU telah tercatat dalam data kependudukan hasil kerjasama dengan dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tebo, Jambi

Untuk pemberdayaan di bidang kesehatan, RLU bekerjasama dengan puskesmas terdekat untuk memfasilitasi pelayanan kesehatan dan promosi kesehatan. Saat ini kurang lebih terdapat 150 orang SAD yang menjadi menjadi sasaran program di wilayah kerja RLU. Sementara itu di bidang pendidikan, RLU menyediakan tenaga fasilitator pendidikan untuk membaca, menulis dan berhitung bagi anak anak SAD. Sebagian dari anak anak SAD juga dibantu untuk dapat menempuh pendidikan formal di sekolah terdekat

Kesepahaman "Lampit Badewo" antara komunitas Suku Anak Dalam dengan RLU yang disaksikan oleh para pemangku kepentingan

Untuk program di bidang penghidupan ekonomi RLU mengajak SAD untuk mengembangkan agroforestry tanaman karet, buah – buahan, perikanan dan juga budidaya lebah. Selain itu RLU juga mengajarkan pembibitan tanaman hutan yang tujuannya untuk menghijaukan kembali zona konservasi di kawasan hutan tanaman industri yang dikelola RLU.

Selain mengelola bisnis dan inklusi sosial, RLU juga peduli lingkungan. Salah satu inisiatifnya untuk lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati adalah Wildlife Conservation Area (WCA). Proyek ini dijalankan melalui anak usaha, PT Lestari Asri Jaya, di selatan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Di dalam area WCA, selain ada hutan yang perlu dijaga, juga terdapat berbagai satwa yang dilindungi seperti gajah dan harimau Sumatera. “RLU mengalokasikan 9.700 ha untuk menjadi area Wildlife Conservation Area (WCA) di Jambi sebagai habitat gajah yang terancam punah dan berbagai satwa lainnya. Saat ini terdapat kurang lebih terdapat 150 ekor Gajah) yang berada di lansekap Bukit Tiga Puluh (termasuk di konsesi RLU). Sedangkan di Kalimantan Timur terdapat 200 orangutan yang berada di area konservasi. Kami juga mendedikasikan tim patroli untuk menjaga daerah sana,” ujar Karmila Parakassi, Conservation Senior Manager PT RLU.

Author : Yosa Maulana & Anastasia A.S.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)