Sasa Inti Melakukan Transformasi dengan Hati

Dalam dunia bisnis, transformasi bukan lagi suatu pilihan, melainkan sebuah keharusan. Bagaimana tidak. Ketimpangan antara bisnis yang berjalan dan perkembangan teknologi digital serta kebutuhan konsumen kini semakin tajam. Untuk menyelaraskannya dan agar tidak ditinggalkan pelanggan atau tertinggal dari pesaing, mau tak mau perusahaan harus melakukan inovasi dan perubahan yang signifikan.

Apa pun industri yang digeluti, kebutuhan bertransformasi –terutama transformasi digital– menjadi pilihan mutlak bagi banyak perusahaan. Dan, agar mencapai peningkatan yang terukur dalam hal efisiensi, efektivitas, serta kepuasan pelanggan ataupun karyawan, perubahan pun harus dilakukan secara total dan menyeluruh.

Hal itu juga dilakukan PT Sasa Inti, perusahaan FMCG makanan dan bumbu yang didirikan pada 1968 oleh Grup Rodamas. Menurut Agus Sudarmoko, GM Human Resource & Government Relations PT Sasa Inti, sebagai merek dagang yang sudah hadir di Indonesia 53 tahun lamanya, Sasa berusaha terus bisa hadir dan berjalan selaras dari masa ke masa. Karena itu, Agus menegaskan, bertransformasi dan terus berinovasi menjadi perhatian khusus manajemen dan perusahaan. Meskipun sekarang sedang masa pandemi, hal itu justru menjadi tantangan yang menggairahkan.

Ada banyak alasan yang melatarbelakangi antusiasme Sasa melakukan transformasi. Di antaranya, terjadi pergeseran demografi yang menarik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, komposisi penduduk Indonesia: 15,56% generasi Baby Boomer, 21% generasi X, 25% milenial, dan 27% Gen Z. “Nah, saat ini produk Sasa banyak digunakan oleh Baby Boomer dan Gen X, sedangkan konsumen masa depan Sasa, selain Gen X, adalah milenial dan Gen Z,” Agus menjelaskan.

Bisnis FMCG saat ini sangat kompetitif. Melihat tren yang berkembang, volume dan buyer growth-nya sangat tinggi. “Jadi, kami melihat, meskipun kompetisinya sangat tinggi, peluang pertumbuhannya juga sangat besar,” katanya.

Agus mengakui, pandemi Covid-19 juga menjadi katalisator untuk berubah. Pandemi Covid-19 mendorong perusahaan untuk banyak melakukan perubahan, terkait dengan sistem, talenta, dsb.

Alasan lainnya, objektif pertumbuhan Sasa tetap naik. Tidak sekadar penjualannya yang naik, tetapi manajemen pun berharap secara organisasi juga menjadi lebih baik. “Kami berupaya terus selalu mengedepankan inovasi dan transformasi dalam setiap produk; mengantarkan visi dan misi Sasa membangun digitalisasi dan otomatisasi,” ungkap Agus. Ini dilakukan supaya Sasa tetap relevan dengan zaman.

Komitmen transformasi Sasa ini memang tidak bisa dilakukan secara sepotong-sepotong. Transformasi yang diharapkan menuntut keterlibatan semua pemangku kepentingan, mulai dari manajemen, karyawan, hingga konsumen. Maka, Agus menyebutnya sebagai “transformasi dengan hati”, transformation with a heart. “Kami harus melakukan transformasi secara menyeluruh dengan memperhatikan seluruh aspek, termasuk consumer objective sebagai pelaku perubahan ini,” Agus menjelaskan.

 Lalu, bagaimana strategi yang dijalankan Sasa? Agus menyebutkan lima hal utama. Pertama, direction, memperbarui arahan. Di awal 2019, Sasa Inti mengubah visi-misi, value, dan purpose. “Kami membuat value baru, visi baru, untuk apa Sasa ke depan dengan tujuan untuk kesejahteraan karyawan dan masyarakat sekitar,” ungkapnya. Untuk menjawab visi-misi, value, dan purpose tersebut, dibuat Strategic Direction 2019-2025 yang muaranya pada visi perusahaan sebagai leading food company dari Indonesia.

Ada tiga pilar untuk menuju ke sana, yaitu mengoptimalisasi demand creation (marketing & sales), memaksimalkan operational excellence (manufacturing), dan meningkatkan value creation (R&D). Adapun fondasinya adalah mengoptimalkan finance excellence (finance), me-leverage technology to support the business (TI), dan memastikan organization and people readiness (HRD).

Kedua, customers, mencermati pelanggan. Sebelum 2019, Sasa identik dengan perusahaan MSG, konservatif, product-centric, dan old fashioned. Mulai 2019 Sasa berusaha bergeser menjadi kitchen food company dari Indonesia yang dicitrakan sebagai perusahaan yang fun, modern, young, dynamic, credible, inspiring, dan legendary.

Kemudian, Sasa menyesuaikan target pasar yang tepat untuk kondisi sekarang. “Sebagai langkah awal di 2019, kami melakukan komunikasi dengan milenial tentang whats hype in the society. Di 2020, kami targetkan young, modern, and cool communication approach focusing on young segment. Di 2021, target kami lebih spesifik, yakni usia produktif, 18-35 tahun,” Agus menguraikan.

Dalam hal menggarap pasar, selain memperkuat pertumbuhan di beberapa pasar utama, seperti di Jawa, Sumatera, dan Indonesia Timur, Sasa juga menggarap pasar potensial baru di provinsi lain. “Intinya, kami membangun second and third pilar Sasa. Jadi, kami tidak mau Sasa hanya fokus di MSG karena MSG itu hampir 80% dari total size kami,” kata Agus.

Ia menambahkan, Sasa juga mendiversifikasi produk menjadi produk yang lebih sehat, seperti santan yang mengandung omega 3 dan 6. “Kami juga expand in new potential product, relevan dengan milenial melalui UAT+E communication, dan memaksimalkan profit,” tambahnya lagi.

Ketiga, inovasi. Segmen ini menurut Agus sangat menantang. Karena, awalnya produk Sasa diasosiasikan sebagai produk yang kurang sehat, tetapi kini menjadi produk yang menyehatkan (healthier product). Misalnya, tepung bumbu original dengan fortified serta santan dengan omega 3 & 6. Dalam hal ini, Sasa melakukan speed up untuk pengeluaran produk baru, mulai dari ide hingga peluncurannya.

“Kami juga banyak melakukan perubahan di IT. Saat ini core system kami menggunakan SAP. Lalu, ada core modules-nya, non core modules, dan support system,” kata Agus. Hal itu, menurutnya, sebagai bentuk lain inovasi.

Keempat, operation. Awalnya, pabrik Sasa hanya satu. Pada 2019, bertambah satu, lalu di 2020 tambah lagi satu, dan di 2021 ini rencananya juga akan menambah pabrik lagi. “Dengan demikian, kami harus mengubah supply chain yang awalnya sendiri-sendiri, kemudian akan disentralisasikan. Jadi, kami memadukan supply chain dari seluruh pabrik menjadi lebih simpel,” Agus menjelaskan.

Terakhir, kelima, talent. Menurut Agus, terkait dengan talenta ini, prioritas perusahaan adalah mengajak karyawan membudayakan rasa peduli (embrace care culture). Ia percaya, dengan memiliki visi-misi baru serta mengidentifikasi personal belief dan behavior yang baru, kemudian membuat desain jenjang karier yang baru, transformasi pada talenta ini dapat dijalankan dengan mulus.

Agus percaya, perubahan kultur yang dibangun secara sistematis dalam dua tahun terakhir ini menjadi kunci sukses transformasi Sasa. Ia pun percaya, lima strategi yang dijalankan dan telah menjadi panduan arah transformasi berhasil meningkatkan kinerja perusahaan.

Sebagai gambaran, untuk kategori MSG, Sasa memimpin pasar dengan penguasaan 90%, khususnya di Pulau Jawa. Untuk tepung bumbu, sebagai pendatang baru, penjualan Sasa Tepung Bumbu juga terus melaju ke posisi memimpin pasar.

Ekuitas merek Sasa pun meningkat dua kali lipat dibandingkan 2018. Berdasarkan laporan Kantar, untuk kategori SF & MSG, ekuitas merek Sasa No. 1 di 2020. Ekuitas merek produk non-MSG-nya juga meningkat

Agus optimistis, berita baik ini akan terus berlanjut. Selama 2020 Sasa berhasil mengurangi production cost - highest GV ever; meningkatkan employee engagement index, dari 90% di 2019 menjadi 93% di 2020; dan memperoleh lebih dari 35 penghargaan sepanjang 2020. §

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)