Sempat Drop Out, Kini Timothy Jadi Bos Beromset Ratusan Juta

Timothy Tandiokusuma merupakan seorang pebisnis kelahiran 1993 yang saat ini bermain di bidang bisnis asset management lewat perusahan yang didirikannya, Black Boulder Capital (BBC). Memulai bisnis di usia 17 tahun, Timothy mengawali karir dengan membangun dan mengembangkan bisnis majalah yang bernama Vuelto Magazine di Amerika Serikat.

Bisnis ini dibangun pada saat dirinya tengah mengenyam pendidikan di universitas 10 besar dunia, University of Washington. Namun, tidak lama kemudian, dirinya memutuskan untuk mundur dari universitas tersebut dikarenakan ingin lebih fokus dalam mengembangkan bisnis yang tengah dijalaninya, kemudian dia meneruskan kuliahnya di Seattle University jurusan International Business and Finance dan lulus.

Timothy Tandiokusuma

Kesulitan dan tantangan yang dihadapinya pada masa awal memulai bisnis, menjadikannya pebisnis tangguh dan serba bisa. Hal ini dibuktikan dengan pengembangan bisnis di bidang suplai biji kopi, konsultasi penerbangan, produk olahan dari kulit buaya, hingga berinvestasi saham dan bitcoin. Tantangan dan cibiran yang dihadapinya, justru menjadikannya pebisnis dengan etos kerja yang tinggi. “Tantangan dan cibiran orang karena menganggap saya masih terlalu muda di dunia bisnis menjadikan saya lebih giat lagi untuk belajar dan terus mengasah kemampuan dan intuisi saya dalam berbisnis,” kata dia. Selain bisnis Asset Management Black Boulder Capital, kini Timothy juga telah membawahi lebih dari 150 toko di bidang kecantikan, dan makanan yang dikelola/dimanage. Salah satunya, dia bekerjasama dengan Rudy Salim dalam mengembangkan bisnis pengelolaan tempat di area Soewarna kawasan Soekarno Hatta di atas tanah seluas 5 hektar.

Selain itu, saat ini, Timothy juga ikut mengembangkan bisnis rintisan start up yang memiliki visi untuk berkembang secara global, seperti Harra/Dattabot, Touchten/Playgame, dan Lyfe. Lebih jauh, dia menceritakan, sejak kecil dirinya sangat mengagumi sosok Eka Cipta yang memiliki etos kerja yang giat dan pantang menyerah. “Pak Eka merupakan mentor saya secara tidak langsung. Saya belajar banyak dari pengalaman hidup dan cara berpikir beliau. Selain itu, saya juga banyak belajar dari orang-orang yang lebih sukses yang berada di sekeliling saya. Saya belajar bagaimana pengalaman dan cara berpikir mereka,” ujarnya menambahkan.

Tantangan dan kegagalan nampaknya tidak luput dari diri Timothy, namun menurutnya yang paling penting adalah bagaimana keluar dari tantangan tersebut, bangkit lagi dan memulai dari nol. “Bangkit dari keterpurukan merupakan hal yang tidak mudah. Namun, saya sangat beruntung memiliki teman-teman yang mensupport saya secara real. Terutama orang-orang terdekat. Mereka tidak hanya mensupport saya secara materi, tapi juga batin dan mental,” ujar pria yang senang membaca buku dan mendengarkan posdcast ini. Berbagai tantangan dan kesulitan yang telah dihadapinya sejak pertama mendirikan bisnis menjadikannya lebih siap dari segi mental dan kematangan. Saat ini, dia menargetkan perusahaan yang tengah dirintisnya, Black Boulder Capital (BBC), bisa sejajar dengan perusahaan manajer investasi terbesar di dunia yakni Black Rock dan Black Stone. “Kami ingin mengikuti level permainan dan memiliki standart yang hampir sama dengan mereka. Kita ingin sejauh mungkin kesana,” ujar pria yang kini memiliki Asset Under Management sebesar Rp 1 triliun ini.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)