Strategi Heinz ABC di Era New Normal

Steven Debrabandere, Managing Director Kraft Heinz Indonesia - PNG.

Salah satu tantangan sektor food & beverage (F&B) saat pandemi adalah terhambatnya roda transaksi industri makanan. Pada kuartal II dan kuartal III tahun ini, industri makanan dan minuman tumbuh tipis. Namun di tengah tantangan ini, muncul momentum baru yaitu meningkatnya home cooking. Mayoritas masyarakat yang berdiam di rumah memutuskan untuk memasak makanan mereka sendiri. Momentum inilah yang dimanfaatkan oleh perusahaan makanan dan minuman yang memproduksi saus, kecap manis, sirup, dan aneka bumbu, yakni PT Heinz ABC Indonesia (Heinz ABC).

“Konsumsi FMCG menurun salah satunya adalah karena suplai ke food service yang juga menurun, dalam hal ini suplai ke restoran dan hotel. Namun, kami melihat ada pertumbuhan in home cooking, yang juga berpengaruh pada peningkatan penjualan di ritel terutama untuk produk sambal dan kecap manis,” ungkap Managing Director Kraft Heinz Indonesia - PNG, Steven Debrabandere.

Kondisi ini dibarengi dengan sejumlah tantangan dan strategi. Steven menyebutkan, tantangan bisnis Heinz ABC adalah menjangkau konsumen di masa pandemi. Tantangan ini dijawab melalui strategi penjualan dengan platform e-commerce.

“Memang kategori makanan dan minuman terlambat masuk dalam e-commerce baru sejak tahun 2019 lalu. Namun, kami melihat peningkatan signifikan untuk kategori ini. Peningkatannya eksponensial. Untuk itu, kami sangat memperhatikan keberadaan produk kami di e-commerce. Salah satunya adalah dengan membuat Official Store Heinz ABC di beberapa e-commerce,” tambah Steven.

Perubahan ini menurut Steven harus diadopsi dengan baik oleh tenaga pemasar. Perubahan perilaku konsumen juga turut menggeser investasi marketing Heinz ABC menjadi lewat kanal digital dan televisi, bukan lagi media luar ruangan. Terlebih pandemi menyebabkan perilaku konsumen berubah.

Kedua, Heinz ABC melihat adanya peluang penjualan di minimarket. Keberadaan minimarket yang dekat dan mudah dijangkau masyarakat adalah salah satu potensi yang diseriusi oleh produsen ini.

“Minimarket terus tumbuh. Untuk itu, sangat penting kalau kita menjalin kolaborasi dengan minimarket. Salah satu caranya adalah mengatur agar stok produk kami selalu ada di minimarket-minimarket tersebut,” papar Steven.

Kendati melihat peta industri FMCG yang berubah, Steven meyakini perusahaannya akan tetap eksis. Saat new normal, menurutnya, akan lebih banyak orang-orang yang tetap bekerja di rumah. Untuk itu, ia optimis produk-produk seperti makanan kaleng, kecap manis, dan sambal, yang mana adalah kategori produk yang digarap Heinz ABC akan mengalami peningkatan.

Steven pun berpendapat channel shift akan tetap berjalan terutamake arah penjualan di e-commerce. Namun, apakah tren belanja FMCG di e-commerce akan sebanyak di masa pandemi, hal tersebut belum bisa ia pastikan. Meski demikian, investasi marketing di e-commerce akan terus dilakukan.

Ketika pandemi muncul di Indonesia, Heinz ABC segera membentuk tim manajemen krisis. Perusahaan juga mengimplementasikan protokol kesehatan baik di kantor maupun pabrik. Saat ini, Heinz ABC memiliki 2000 karyawan yang mayoritas bekerja di pabrik. Sehingga manajemen harus memastikan kegiatan operasional di pabrik tetap berjalan aman.

Steven memaparkan ada beberapa adaptasi yang perusahaannya lakukan, yaitu social distancing, mencuci tangan, pengecekan termperatur, dan mengubah komunikasi face to face menjadi virtual.

Dengan adanya perubahan cara kerja ini, Steven melihat akan muncul kombinasi WFH dan bekerja dari kantor. Menurutnya, yang dibutuhkan dalam sistem kerja ini adalah seimbang dan tidak menghabiskan waktu. “Kita sudah lihat bahwa WFH memiliki banyak keuntungan seperti tidak kena macet sebelum bekerja dan karyawan bisa menghabiskan waktu bersama keluarga. Hal inilah yang harus kita jaga setelah pandemi usai,” pungkasnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)