Strategi Leadership Maya Watono Hadapi New Normal

Pandemi Covid-19 telah menghantam telak kondisi ekonomi nasional. Banyak sektor usaha dan bisnis yang babak belur terdampak pandemi ini. Diakui tokoh periklanan muda ini, situasi sekarang menjadi tantangan luar biasa besar bagi industri periklanan yang digelutinya. Betapa tidak. Berbagai kegiatan akbar yang bersifat offline praktis terhenti sehingga produksi juga ikut mandek. Kegiatan syuting terhenti, sementara acara-acara besar di mana Dentsu Aegis Network (DAN) juga ikut ambil bagian, seperti Pekan Raya Jakarta, Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), International Motor Show (IMS), serta roadshow yang biasa dilakukannya dengan berbagai brand, juga berhenti semuanya. “Ini memang benar-benar heavily impacted,” ungkap Maya menggambarkan keadaan.

Namun, Maya tidak ingin cuma mengeluh. Ia pun telah menyiapkan langkah-langkah survival menghadapi era new normal demi meminimalkan penurunan kinerja bisnis. Ia mencontohkan, sejak penerapan work from home (WFH), pihaknya berusaha tidak berhenti produktif. Kendati selama satu bulan pertama masih mencari bentuk bagaimana supaya produksi tetap berjalan, akhirnya bisa dilakukan secara online sehingga beberapa produksinya bisa full online melalui Zoom ataupun lewat Microsoft Teams, juga kanal pribadi YouTube. “Semua yang bisa online, kami online-kan,” kata Maya.

Dengan berbagai upaya yang dijalankan, Maya melihat, ternyata karyawan masih tetap bisa produktif. “Semua itu karena mindset harus berubah, jangan mindset bekerjanya seperti sebelum pandemi. Sekarang ini bekerja di mana pun berada, baik di rumah maupun di kantor, dan harus tetap produktif,” ungkapnya. Tentu saja, semua itu juga dibarengi dengan adopsi teknologi yang sangat-sangat cepat.

Setelah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dimulai pada 23 Maret 2020, misalnya, pihaknya dalam tempo dua minggu langsung mengadopsi teknologi sampai 70%, dan dalam tiga minggu sudah full 100%. Jadi, hanya butuh waktu tiga minggu bagi semua orang di DAN bertransformasi.

Ada hikmah di balik Covid-19 ini, yaitu mempercepat dan memaksa semua orang untuk bertransformasi ke digital. “Dengan kami full WFH, harus mencari new way of working. Saya rasa itu sangat membantu untuk mempercepat semuanya dengan transformasi digital tersebut,” kata Maya.

Dengan adanya transformasi tersebut, produktivitas harus tetap berjalan karena semuanya sudah dibantu dengan teknologi. Tidak lagi ada alasan di rumah menganggur, libur. “Di rumah ya kami bekerja. So far di DAN, kami cukup produktif karena kami track juga semua tim meeting, productivity juga kami mulai buat time sheet. Banyak teknologi yang justru kami adopt dalam tiga bulan terakhir ini,” ungkapnya.

Jadi selama pandemi, perusahaan ini lebih ke arah digital. “Kami harus menutup semua (event) yang hilang itu dengan digital. Misalnya, dengan virtual event,” kata Maya. Dulu below the line, sekarang event itu dibawa ke virtual. Dengan demikian, banyak hal yang harus diadaptasi untuk memberikan pelayanan kepada klien.

Untuk internal sendiri, dalam menghadapi kondisi ini yang terpenting adalah komunikasi. “Komunikasi itu sangat penting untuk kami bangun,” ujar Maya. Setiap dua minggu, baik dari HR atau dari Maya sendiri, pasti ada surat elektronik, video update mengenai apa yang sedang terjadi, rapat virtual bersama, dsb. “Jadi, komunikasi terus, memberitahu ‘Hey, you are not alone, you can do this together, we can do this together.’ Itu sangat penting,” katanya.

Selama pandemi ini, pihaknya berupaya agar bisnis berjalan seperti biasa. Namun, kalau memang ada klien yang butuh bantuan, seperti dari sisi terms of payment, bisa berdialog. Tak hanya itu, pihaknya juga banyak melakukan kampanye CSR untuk klien mengenai Covid-19, serta kampanye #DonasikanOngkosmu. “Selama ini kami kan banyak pengeluaran travel allowance yang selama pandemi tidak terpakai. Nah, travel allowance itu didonasikan ke ojol. Kami encourage tim supaya ikut,” Maya menjelaskan.

Pihaknya pun mendonasikan alat pelindung diri (APD) dan membuat kaus. Para pekerja konveksi yang kehilangan pekerjaan diminta membuat 1.000 kaus, yang diberikan kepada staf dan pekerja medis. Jadi selain mendonasikan APD dan kaus, secara tidak langsung pihaknya juga memberikan pekerjaan kepada para pekerja konveksi. 

Lalu, apa harapan ke depan? “Yang selalu saya komunikasikan kepada karyawan adalah ‘We will try our best, protect our business and our people.’ Itu nomor satu. Itu bisa kami capai jika produktif. Jika tidak produktif, tidak akan menghasilkan, kami tidak bisa protect our people. So far kami hanya turun 9-10%, kami bersyukur. Kami bisa potong cost yang lain sehingga tidak sampai potong ke people cost, sampai lay off atau PHK,” ungkap Maya panjang lebar.

Semua itu bisa dilakukan jika spiritnya sama dan sama-sama bekerja dengan produktif agar perusahaan bisa berkelanjutan. “Ini kan seperti maraton, endurance-nya harus tinggi. Kita tidak bisa berpikir pandemi ini berakhir hanya 3-6 bulan, ini mungkin masih setahun,” Maya memprediksi.

Hal penting yang harus terus diperjuangkan adalah perusahaan bisa survive, karena banyak perusahaan yang kolaps, yang jatuh, melakukan lay-off. “Ini yang saya komunikasikan kepada semua karyawan: ‘You have to protect your company, so we can protect you,’” kata Maya penuh semangat.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)