Jalin dan SSI Perkuat Telkom Group dalam Mendukung Digitalisasi Ekosistem Perbankan

Kecepatan, keamanan dan kemudahan menjadi tuntutan paling wajib dari nasabah kepada para penyedia layanan perbankan saat ini. Jika salah satunya saja tidak terpenuhi, maka nasabah pun bisa dengan mudah mencari pilihan layanan dari bank yang lain. Artinya kompetisi semakin ketat, sehingga bank harus ekstra fokus  memberikan pelayanan yang terbaik bagi nasabahnya, maka tak heran pengelolaan layanan berbasis ICT-nya dipercayakan kepada Telkom Group.

Sejak bertransformasi dari telco company menjadi  digital telco company, Telkom Group mengimplementasikan strategi bisnis dan operasional perusahaan yang berorientasi kepada pelanggan (customer-oriented). Transformasi tersebut akan membuat organisasi Telkom Group menjadi lebih lean (ramping) dan agile (lincah) dalam beradaptasi dengan perubahan industri telekomunikasi yang berlangsung sangat cepat. Selain itu juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam menciptakan customer experience yang berkualitas. Selanjutnya, Telkom Group melahirkan langkah-langkah untuk solusi digitalisasi ICT end-to-end di semua bidang strategis, salah satunya adalah di ekosistem perbankan dan keuangan. Diawali dengan penyediaan data center, komputasi awan, serta core banking yang handal, Telkom Group kini menghadirkan pengelolaan jaringan pembayaran nasional, managed services serta layanan ICT end-to-end ekosistem perbankan melalui PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin) yang handal dalam pengelolaan sistem transaksi antar bank dan PT Swadharma Sarana Informatika (SSI) yang kompeten dalam pengelolaan operasional dan pemeliharaan Automated Teller Machine (ATM).  

Perbankan dan keuangan adalah salah satu industri yang paling cepat tanggap dan cepat mengadopsi teknologi ICT dalam keseluruhan operasionalnya. Dengan adanya Jalin dan SSI dalam daftar anak perusahaan, maka Telkom Group juga dengan cepat mampu menyediakan ICT end-to-end solution guna menciptakan customer experience yang lebih baik. Jalin yang didirikan pada tahun 2016 berdasarkan inisiatif Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Himbara (Himpunan Bank Negara) serta PT Telkom Indonesia, Tbk (Telkom) merupakan perusahaan nasional penyedia layanan pendukung transaksi pembayaran yang meliputi pengelolaan sistem/jaringan, termasuk di dalamnya switching, kliring dan settlement. Tugas utama dari Jalin adalah mendorong efisiensi dalam sistem pembayaran nasional melalui dua peran sebagai principal switching dan penyedia jasa managed services ATM.

Sebagai principal switching, Jalin memiliki dua layanan, pertama adalah ATM Switching dan kedua adalah Debit Switching. Direktur Utama Jalin Otto Benny Hantoro menjelaskan bahwa sebagai principal switching, kontribusi Jalin bagi sistem pembayaran nasional adalah switching fee yang dikenakan kepada empat bank HIMBARA (funding member) lebih hemat jika dibandingkan dengan fee yang umumnya berlaku. Dukungan teknologi, SDM dan economy of scale membuat biaya operasional Jalin lebih efisien sehingga bisa memberikan fee yang lebih hemat kepada anggotanya. Benefit ini juga sudah dimanfaatkan oleh 20 bank lainnya yang menjadi member Jalin. “Kami berharap kedepan lebih banyak lagi bank yang bisa merasakan benefit dari switching fee kami yang lebih bersaing,” ungkap Otto. Layanan yang kedua adalah Debit Switching, dimana nasabah pemegang kartu debit dari bank-bank yang tergabung sebagai anggota jaringan Debit Link dapat melakukan transaksi pada EDC bank-bank yang telah tergabung dalam program GPN (Gerbang Pembayaran Nasional).

“Sebagai pengelola ATM bank HIMBARA, yang ditargetkan sebanyak 58 ribu unit dalam tahun ini, kami akan memastikan proses pengelolaan ATM lebih efisien baik dalam hal waktu maupun biaya”, tegas Otto. Bagaimana Jalin melakukan itu? Pertama adalah dengan memanfaatkan economy of scale, hal ini dimungkinkan karena Jalin mengelola dalam skala besar sehingga biayanya tentu menjadi kecil, sedangkan sebelumnya bank melakukan sendiri pengelolaan ATM-nya secara parsial sehingga biayanya lebih mahal. Kontribusi Jalin lainnya yakni dukungan dalam penentuan lokasi yang paling efisien. Menurut Otto, pemetaan dan penempatan kembali ATM diperlukan agar setiap unit ATM bank bisa berfungsi dengan optimal sesuai kapasitasnya. “Dengan begitu, tidak ada lagi ATM yang kelebihan volume transaksi atau sebaliknya sehingga biaya yang dikeluarkan bank untuk operasional ATM-nya bisa lebih efisien,” jelasnya. Ketiga, Jalin melakukan investasi dalam teknologi berbasis data analytics dan pemantauan lokasi berbasis agent yang bisa dimanfaatkan untuk operasional ATM yang lebih efisien.

Dalam pelaksanaannya di lapangan, Jalin berkolaborasi dengan SSI maupun mitra lainnya. Keduanya berbagi peran yang sama pentingnya dalam mendukung ekosistem perbankan dan keuangan. Jalin mengambil peran sebagai brain-ware dan pelaksananya adalah SSI. Dengan kolaborasi ini SSI bisa memberikan layanan unggulannya kepada mitra-mitranya dengan didukung penuh oleh teknologi dari Jalin. SSI sendiri telah dikenal sebagai market leader dalam industri jasa operasional dan pemeliharaan ATM serta pengiriman dan penjemputan uang tunai. Sejak tahun 2018, PT Telkom Indonesia, Tbk (Telkom) melalui anak usahanya PT Multimedia Nusantara (TelkomMetra) mengakuisisi 51% saham Swadharma Sarana Informatika (SSI) milik Swadharma Group. Hingga saat ini, SSI telah dipercaya mengelola operasional dan pemeliharaan 22.745 unit mesin ATM milik Bank BUMN, Swasta Nasional dan Bank Asing.

Direktur Utama TelkomMetra Otong Iip menjelaskan akan terus membantu SSI untuk bertransformasi menjadi perusahaan managed service berbasis digital. “Transformasi ini harus kami wujudkan untuk menjawab tantangan kebutuhan jasa perbankan yang juga dituntut oleh nasabahnya agar semakin cepat tetapi tetap aman dan mudah,” jelas Otong. SSI mendapatkan izin resmi dari Bank Indonesia (BI) sebagai Penyelenggara Jasa Pengolahan Uang Rupiah (PJPUR) terkait dengan pengelolaan uang, mencakup distribusi, pemrosesan, penyimpanan uang rupiah serta pengisian, pengambilan dan/atau pemantauan kecukupan uang rupiah pada antara lain Automated Teller Machine (ATM), Cash Deposit Machine (CDM), dan/atau Cash Recycling Machine (CRM). Dengan adanya izin ini, SSI sudah memiliki standar yang sesuai dengan undang-undang dan aturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

SSI menyediakan solusi layanan cash replenishment, first level maintenance, second level maintenance, IT solutions, serta cash in transit. Cash replenishment meliputi pengambilan cash supply (uang tunai) dari Bank, penyortiran uang (pemisahan uang layak dan tidak layak untuk didistribusi ke mesin ATM), dan pengisian kas ATM. First level maintenance meliputi pemeliharaan dan perawatan tingkat pertama mesin ATM serta monitoring 24 jam. Second level maintenance meliputi jasa perawatan perbaikan mesin ATM, jasa instalasi mesin ATM, ATM Multi Vendor Agent, Electronic Journal, ATM Reconciliation Processing, mesin EDC berbasis Android, dan masih banyak lagi. Sedangkan Cash in Transit meliputi pengangkutan uang tunai, surat berharga, dan manajemen pengelolaan kas berupa produk Cash Processing Center.

Kebutuhan untuk pengelolaan dan perawatan ATM diprediksi masih akan terus bertumbuh karena semakin banyak masyarakat di daerah yang masih butuh bertransaksi lewat ATM. Di sisi lain, tren penggunaan uang non-tunai di kota-kota besar pun terus meningkat, sehingga nantinya transformasi digital ini juga akan menjadi bekal SSI menghadapi era cashless . “Memasuki era cashless nanti, maka ATM yang mendominasi adalah ATM non-tunai, dimana SSI juga sudah memiliki pengalaman mengelola dan memelihara ATM non-tunai,” ujar Otong. Dengan dukungan transformasi digital ini akan membuat SSI semakin siap menghadapi perkembangan kebutuhan ATM managed service di masa depan.  

Keunggulan lainnya dari SSI adalah memiliki 109 cabang yang tersebar merata di seluruh Indonesia, sehingga dapat dipastikan penanganan unit ATM yang bermasalah bisa lebih cepat. Sebagai perusahaan yang mengelola uang tunai, maka SSI juga terikat dengan aturan ketat dari BI, “Kami sangat patuh dengan aturan ketat BI untuk bisnis ATM managed service ini, mulai dari tenaga teknisi di lapangan, sarana dan prasarana dalam operasional hingga prosedur pelayanan,” ujarnya. Semua itu bukan hanya sebagai bentuk kepatuhan, tetapi juga sebagai upaya memberikan pelayanan yang aman dan nyaman serta menjadi one-stop solution bagi jasa perbankan.

Jika sebelumnya, dalam mengoperasikan satu unit ATM, bank harus bermitra dengan beberapa vendor untuk menangani pemeliharaan hardware, software sampai dengan mengangkut dan mengisi uang, maka kedepan bank cukup menggandeng SSI saja dan semua layanan itu sudah bisa didapat.  Dalam hal operasional, SSI akan didukung dengan sistem monitoring digital terpadu, salah satunya adalah teknologi yang dikembangkan oleh Jalin. Nantinya perjalanan pengangkutan uang bisa dipantau secara real time dan SSI juga bisa mendeteksi lebih awal jika ada gangguan pada unit ATM sehingga penanganannya bisa lebih cepat. Kedepan juga akan dibangun digital touch point, sehingga customer bisa melakukan pemesanan ataupun pengaduan lewat aplikasi di smartphone-nya. Dengan kompetensi dan dukungan teknologi digital, menurut Otong, kedepan SSI juga bisa melayani mitra perusahaan selain perbankan, misalnya asuransi dan SPBU (Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum).   

Baik Jalin maupun SSI senantiasa berkomitmen memberikan layanan terbaik dalam mewujudkan digitalisasi ekosistem perbankan dan keuangan di Indonesia, sebagaimana cita-cita Telkom Group untuk selalu menghadirkan solusi berbasis digital bagi seluruh bidang kehidupan masyarakat.

Tags:
telkom metra

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)