Transformasi Agar Terbang Kian Tinggi

Transformasi bukanlah hal asing dan baru bagi PT DV International Makmur Gemilang (DV Medika Group). Malah, seakan menjadi sebuah keharusan lantaran hampir tiap 5-6 tahun sekali mereka melakukannya.

Dalam perjalanan bisnisnya sejak 1999, perusahaan yang didirikan Vincentius Lianto ini telah tiga kali menjalankan transformasi bisnis. Ketiganya dilakukan dengan konsisten dan alhasil ganjaran yang dipetik adalah memungkinkan mereka “naik kelas” dan menjadikannya lebih kokoh serta semakin berkembang pesat dalam setiap tahapan yang dilalui.

Tranformasi bisnis pertama digelar tahun 2007, saat berubah dari perusahaan lokal yang berawal dari sebuah garasi di Bali kemudian membuka kantor pusat di Jakarta yang sekaligus menjadi holding company

Yang kedua, pada 2013. Karena ingin masuk ke pasar internasional, mereka mengubah diri secara drastis: dari perusahaan distribusi tempat tidur rumah sakit (hospital bed) menjadi local manufacturer.

Transformasi ketiga dilakukan pada semester kedua 2018 ketika investor asing dari Singapura masuk sebagai strategic partner dan membawa perubahan. Manajemen serta pemegang saham memutuskan untuk merelokasi pabrik hospital bed dari Tangerang ke pabrik baru yang berada di dalam Kawasan Ekonomi Khusus yaitu Kendal Industrial Park Jawa Tengah, di atas tanah seluas 20.000 m². Pada awal 2020, pabrik yang baru ini mulai berproduksi.

“Bagi kami, transformasi yang kedua adalah yang paling fenomenal,” ungkap Vincent, founder dan Chairman DV Medika Group. Dia menyatakan demikian karena pihaknya harus menyiapkan banyak hal yang lebih kompleks dibandingkan tahun 2007 dan 2018.

Steven Lee CEO DV Medika

Dari sisi mindset, misalnya, perusahaan bukan lagi sekadar mendistribusikan produk milik prinsipal. Sebagai founder, otomatis dia dituntut naik kelas dari seorang trader menjadi real industrialist yang mampu berpikir strategis, bukan hanya marketing, tetapi lingkup yang lebih kompleks, meliputi pasokan, desain, paten, supply chain sampai produksi dan distribusi. 

Terlebih lagi, dari sisi organisasi dan sistem manajemen, banyak perubahan yang mesti dilakukan serta disiapkan secara terstruktur karena perusahaan bukan lagi hanya berjualan, melainkan juga berproduksi. Intinya, playing field antara sekadar menjadi distributor dan manufacturer sangat berbeda.

DV Medika memang berangkat dari perusahaan distribusi alat kesehatan. Berangkat dari titik nol, mereka kemudian dipercaya sejumlah prinsipal besar. Di antaranya, tahun 2001, mendapatkan keagenan dari Siemens Healthcare. Lalu, beberapa tahun kemudian sejumlah prinsipal terkemuka dunia di industri healhtcare juga mempercayakan distribusi produknya kepada DV Medika base on territorial area maupun national coverage, diataranya Draeger-Germany, Produk Linet – Czech, United Imaging dan beberapa yang lainnya.

Catatan yang penting dicermati, saat melakukan transformasi besar di tahun 2013, Vincent bukan melompat begitu saja. Sebelumnya, dia sudah merintis menjadi seorang industrialis ketika pada 2011 meluncurkan merek hospital bed sendiri, Platinum Inspiration. Berbekal keyakinan mampu melompat ke level yang lebih tinggi, DV Medika akhirnya bisa melakukan proses assembling sendiri di tahun 2013.

Laiknya sebuah transformasi, tidaklah selalu mudah untuk dilakukan, jalan terjal mesti dilalui. Terutama, dari prinsipal pemilik teknologi dan merek agar berkenan melakukan alih teknologi. Ini merupakan isu yang tak mudah ditaklukkan. Menghadapinya, Vincent harus memutar otak dengan strategi yang win-win karena dia yakin siapa pun mitra bisnis ingin menang, dan yang adil adalah win-win bagi semua stakeholder. Di sinilah dibutuhkan the art of negotiaton.

“Teknologi itu harus dikuasai dengan cara bargaining yang sopan. Saya sampaikan kepada mereka, kalau kami tidak menjadi manufacturer, kami tidak akan berkembang, dan mereka pun demikian, Saya bilang bertahap saja dulu tidak apa, dibuatkan line conveyor untuk perakitannya saja dahulu di tahap awal, kemudian mereka siapkan bom-nya (bill of material), SOP (system operating procedure-nya), quality control dan beberapa tahapan produksi sederhana lainnya,” kata Vincent.

Setelah dilakukan dengan penuh kesungguhan, berjalannya waktu Strategi win-win Vincent membuahkan hasil. DV Medika diizinkan membuat hospital bed desain sendiri tetapi komponennya (parts material) dipasok dari prinsipal. Inilah yang disebut dengan win-win. Dengan langkah awal ini perusahaan menjadi semakin berkembang, dan dengan semakin besarnya volume penjualan yang bisa dilakukan, selepas beberapa waktu kemudian, pria murah senyum ini bisa meminta kepada principalnya agar proporsi kandungan atau konten lokal terus meningkat secara bertahap.

“Sesudah mulai mencapai angka penjualan yang cukup tinggi, lalu saya bilang, ‘Tolong dong dinaikin local content-nya. Kalau tidak dinaikin, nanti kami tidak bisa bersaing. Kalau Anda tidak bersedia, ada loh prinsipal lain yang siap dan mau men-support’,” kata Vincent mengulang bujukannya. Strategi ini lagi-lagi membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkannya.

Bersamaan dengan itu, secara kebetulan, di tahun 2015, Vincent diminta pemerintah (Kementerian Kesehatan), menjadi wakil ketua team penyusun roadmap Industri Alat Kesehatan dalam negeri untuk menuju kemandirian alat kesehatan di dalam negeri. Dalam peta-jalan tersebut, salah satu rekomendasinya untuk menuju kemandirian bisa dibentuk melalui kerja sama dunia usaha (pelaku usaha) dengan dunia pendidikan.

Sebagai bagian dari team inisiator gerakan kemandirian ini, dia pun berupaya membuktikannya. Dia membawa perusahaannya bekerja sama dengan satu lembaga pendidikan di Solo yaitu ATMI (Akademi Teknik Mesin Industri) untuk urusan R&D dan juga mempercayakan pekerjaan (subkontrak) sejumlah suku cadang kepada politeknik ini, sekaligus sebagai sarana untuk praktik mahasiswa secara live yang mereka sebut sebagai Teaching Factory.

Langkah di atas bisa dikatakan berhasil. Secara global, peta-jalan yang dirintis termanifestasi menjadi Keputusan Presiden (Keppres) No. 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan Dalam Negeri. Dengan tujuan menciptakan kemandirian industri farmasi dan alat kesehatan nasional, kata Vincent, peraturan ini membawa dampak pada peningkatan investasi industri alat kesehatan di Indonesia. Dari sekitar Rp700 miliar menjadi lebih dari Rp5 triliun hanya dalam waktu dua tahun sejak diterbitkannya Keppres tersebut.

Efeknya, secara mikro, perlahan-lahan konten lokalyang digarap DV Medika pun melonjak hingga mencapai di atas 50-60 %. Kini dengan pabrik yang berlokasi di Kendal, mereka terus memaksimalkan pemanfaatan konten lokal ini untuk menghasilkan produk bermutu tinggi.

Kendati tak mudah, upaya transformasi ini membuahkan hasil yang menggembirakan. Secara bisnis, Vincent merasa senang karena dengan keberhasilan melakukan transformasi bisnis perusahaannya terus berkembang. Langkah transformasi yang dibuat seperti fondasi untuk memperkuat posisi berikutnya. DV Medika pun mendapat sejumlah pengakuan, salah satunya, dari majalah SWA sebagai satu dari 100 perusahaan nonpublik di Indonesia yang tergolong fast growth (tumbuh cepat) tahun 2019. Sebelumnya (2017), dari media yang sama, menjadi salah satu dari 25 Most Creative Company di Indonesia.

Namun menurut penuturan Vincent, penghargaan yang sesungguhnya tentu saja tecermin dari kepercayaan para mitra bisnis dan pelanggan yang terus meningkat. “Kami sudah dipercayai lebih dari 18 global principal. Kebanyakan dari brand besar, nomor 1 atau nomor 2 di dunia,” katanya dengan tetap rendah hati.

Sejalan dengan langkah transformasi menjadi pabrikan hospital bed, DV Medika memang terus mendapatkan kepercayaan distributor global. Di antaranya, Linet pada tahun 2012 dan distributor eksklusif United Imaging (2018), sebuah perusahaan terkemuka di bidang radiologi dan imaging product. Di China, United Imaging saat ini sudah menjadi merek nomor dua di bidangnya sesudah Siemens di alat kesehatan khususnya di radiology imaging

Di luar itu, keberhasilan lainnya adalah pertumbuhan bisnis yang terus melaju. Termasuk, di masa pandemi. “Kami tetap tumbuh meyakinkan, double digit dalam pencapaian EBITDA, tahun 2020 mengalami pertumbuhan sekitar 11%.”

Terkait pandemi, satu hal menarik yang disajikan DV Medika adalah penerapan marketing with heart. Di luar memberikan bantuan (CSR) yang dibutuhkan kalangan rumah sakit dan masyarakat di seluruh Indonesia seperti APD, hand sanitizer, mereka tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Contohnya, saat pasar membutuhkan ventilator, Vincent membuat kebijakan tidak menangguk keuntungan semena-mena. Padahal, saat itu perusahaannya memiliki cukup banyak stok. Alih-alih mengambil sikap aji mumpung, mereka menjual produk di harga wajar, berkisar Rp400-600 juta (sesuai tipe) dan tidak menaikkan harga sama sekali, padahal produk yang dijualnya keluaran Draeger, produk terkemuka dari Germany, sementara produk lain yang kualitasnya relatif d ibawahnya harganya kala itu bisa mencapai Rp1 miliar, bahkan lebih. 

“Kalau kami mau mencari keuntungan semata untuk revenue perusahaan, tentu sangat bisa dan kesempatan itu ada. Tetapi, kami memutuskan untuk tidak melakukannya dan kami tidak menaikkan satu rupiah pun. Daripada mengambil keuntungan tapi tidak punya empati, kami lebih memilih melakukan marketing dengan menggunakan empati, apalagi di masa sulit, dengan memberikan bantuan pada saat orang membutuhkan.”  Vincent percaya pandemi pasti akan berlalu. Ketika pelanggan diperlakukan dengan empatik dan dibantu saat amat membutuhkan, maka nama dan reputasi baik perusahaan akan terpateri di benak pelanggan. Itulah yang disebutnya “marketing with heart”.

Melihat apa yang dicapai saat ini, Vincent menyatakan bahwa perusahaannya belum akan berhenti untuk menjadi lebih baik. “Ada dua rencana ke depan, yaitu ekspor dan menjadikan perusahaannya public company. Dalam roadmap dan rencana kami, ini adalah quantum leap. Mungkin 3-5 tahun ke depan,” katanya penuh arti. Itu artinya tranformasi lanjutan masih akan dilakukan. Dia ingin membawa perusahaannya semakin terdepan.

Ditinjau dari peluang bisnis, sangat wajar jika langkah itu akan dilakukan. Dari sisi bisnis, DV Medika ingin bisa menangkap peluang sebesar-besarnya. Sektor healthcare, terutama hospital bed di rumah sakit, kata Vincent, adalah sektor yang prospektif di Indonesia, karena rasionya masih sangat rendah: 12 bed per 10.000 penduduk. Adapun Malaysia mencapai 21. “CAGR-nya akan terus naik, dan saya rasa di Indonesia sampai 15-20 tahun ke depan akan masih double digit growth di industri healthcare, khususnya untuk hospital bed,” katanya penuh optimisme.

Sebagai kelanjutan dari transformasi yang terus dan akan dilakukan, Vincent melakukan langkah berani, yaitu transformasi estafet kepemimpinan dalam manajerial. Dalam top three leader di perusahannya sudah dipercayakan penuh kepada para profesional andal di bidangnya.

Steven Lee, profesional muda berbakat, kini dipercaya memegang tongkat komando untuk memimpin perusahaan. “DV Medika bisa menjadi perusahaan yang maju pesat karena visi dan intuisi bisnis dari pendirinya. Saya bersama team harus bisa melanjutkan transformasi positif yang sudah berhasil dilakukan agar tercapai pertumbuhan yang sustainable ke depannya,” ujar Steven. “Saya sebagai founder percaya bahwa majunya perusahaan bukan hanya ditentukan modal semata, tetapi seberapa inovatif dan kreatif perusahaan tersebut, karena keduanya tidak bisa diintervensi oleh kompetitor. Sementara kalau modal, bisa disaingi. Juga, bergantung pada persistensi, konsistensi, dan berjalannya team work,” katanya menutup perbincangan di sore itu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)