Universitas Indonesia Guru Bangsa yang Terus Memotori Inovasi

Keberadaan Universitas Indonesia (UI) sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia tampaknya memacu sivitas akademikanya untuk terus mengambil peran terdepan dalam mengemban tugasnya. Bukan hanya tugas dalam konteks pendidikan dan dunia ajar-mengajar, tetapi juga dalam makna yang lebih luas, termasuk di bidang riset dan pengabdian masyarakat.

Hal itu tampak sangat jelas dari apa yang dilakukan UI dalam menyikapi pandemi Covid-19 belakangan ini. Di tengah lingkungan masyarakat yang masih tergagap-gagap dalam menghadapi situasi pandemi, UI tampil dan terpanggil mengambil peran, terutama melalui sejumlah inovasi yang dilakukan guna membantu masyarakat mengatasi pandemi.

Kolaborasi Jejaring Triple-Helix

Dalam menjalankan visinya ini, UI berkolaborasi dengan industri dan pemerintah dalam jejaring Triple-Helix sehingga mampu melahirkan inovasi­inovasi kolaborasi. “Terjadinya pandemi COVID 19 dapat dilihat sebagai kesempatan baik bagi UI untuk bisa masuk ke dalam jaringan triple-helix ini. Kola­borasi antara Perguruan Tinggi, Pemerintah dan Industri akan melahirkan inovasi-inovasi kolaborasi dalam ruang-ruang jejaring Triple Helix,” tutur Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, SE, MA, Ph.D..

Universitas Indonesia menyerahkan ventilator lokal inovasi UI, COVENT-20 kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

Terkait situasi pandemi, sambung Prof. Ari Kuncoro, UI telah memberikan kontribusi kepada Bangsa dan Negara mulai dari pengerahan relawan untuk RSUI dari FIK dan fakultas-fakultas lain, menjadikan RSUI sebagai salah satu rujukan rumah sakit untuk penanganan COVID-19. Pembuatan ventilator bernama COVENT-20 yang telah diserahkan ke Gugus Tugas Nasional COVID-19 untuk disebarkan ke rumah sakit yang membutuhkan di Indonesia. UI juga telah menandatangani MOU antara UI dan Kementerian BUMN serta RSUI yang juga telah melakukan perjanjian kerja sama dengan jaringan rumah sakit di bawah BUMN.

Ya, dalam hal ini UI ingin memberikan kontribusi untuk bangsa dengan cara bergerak cepat di situasi yang sama-sama gagap. “Kami menghimpun kekuatan, memetakan, dan mengarahkannya untuk berge­rak sesuai dengan kompetensi masing-masing unit yang kami miliki,” tambah Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, Wakil Rektor UI Bidang Riset dan Inovasi.

Pimpinan UI secara multidisiplin dan komprehensif mengerahkan semua sumber daya, khususnya anggota akademik seperti dosen dan peneliti, untuk membantu pemerintah dan masyarakat. “Kami memiliki tiga rumpun keilmuan, yakni rumpun sains teknologi, kesehatan, dan sosial humaniora. Ketiganya kami kolaborasikan untuk memberikan kontribusi,” ujar Abdul Haris.

Sejak awal Maret 2020 pimpinan UI sudah mengumpulkan seluruh tim, antara lain dari Fakultas Ilmu Administrasi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan Fakultas Kesehatan Masyarakat – khususnya Jurusan epidemiologi, untuk melakukan focus group discussion (FGD) menggali berbagai solusi, yang dilakukan secara online. Dari serangkaian meeting akhirnya bisa menghasilkan tujuh policy brief yang dikirimkan ke peme­rintah untuk dijadikan rujukan. Dalam kondisi seperti sekarang, pemerintah jelas perlu masuk­an yang banyak dan perlu mengambil keputusan yang benar-benar cepat, efisien, dan efektif.

Di bidang sains dan teknologi, UI menggabungkan kemampuan engineering dan sains dari Fakultas Teknik, MIPA, dan Kedokteran (juga rumpun kesehatan lainnya), sehingga menelurkan produk alat kese­hatan guna membantu testing dan perawatan pasien di rumah sakit. Khususnya Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik, memang cukup banyak kontribusinya, mulai dari temuan peralatan swab test, hingga obat-obatan berbasis herbal. “Alhamdulillah, kami bergerak cepat, lincah, dan mobile, melibatkan semua rumpun keilmuan sebagai tim,” ungkap Abdul Haris.

Guna mendorong inovasi terkait Covid-19 ini, UI memang sangat serius dan menggerakkan semua sumber daya riset yang dimiliki. Pembiayaan yang ada di anggaran bidang riset dan inovasi diarahkan semua­nya untuk riset inovasi Covid-19. UI membuka call proposal dari semua periset UI dengan syarat mengedepankan pendekatan multidisiplin, semua keilmuan. Contohnya, dalam membuat alat ventilator, pihaknya tak hanya mengandalkan tim Fakultas Teknik, tetapi juga tim dari Fakultas Kedokteran.

Deretan Karya Nyata Hasil Inovasi UI  

Bentuk nyata dari pelbagai inovasi terkait Covid-19 yang sudah dihasilkan UI sejauh ini sudah sangat beragam. Diantaranya, Bilik Disinfeksi Cepat (BDC)-04 yang mampu membersihkan virus dan bakteri tubuh kurang dari 10 detik. BDC-04 kini telah dipasang di tempat-tempat strategis: pelayanan publik, rumah sakit, puskesmas, pasar, terminal, dll. Lalu, gabungan tim peneliti UI dan Institut Pertanian Bogor juga menemukan kandidat antivirus corona dari bahan alam Indonesia (jambu biji, kulit jeruk, dan daun kelor). Produk ini berpotensi menghambat dan mencegah virus SARS-CoV-2 (virus corona).

Ki - Ka : Dekan FTUI Dr. Ir. Hendri D.S. Budiono, M.Eng., Wakil Rektor UI Bidang Riset dan Inovasi, Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris,Dr. Badrul Munir, ST., M.Eng.Sc

UI pun berhasil mengembangkan platform Peta Sebaran Covid-19 melalui portal WebGIS, yang mampu memetakan penduduk yang terinfeksi Covid-19 sehingga membantu pemerintah dalam memetakan daerah yang rawan kasus infeksi baru. Portal WebGIS dapat diakses dengan mudah melalui komputer atau ponsel. Beberapa pekan setelah dirilis, Peta tersebut berhasil menarik minat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk berkola­borasi mengembangkan Portal InaRISK.

Inovasi UI lainnya, hybrid quadplane UAV (pesawat tanpa awak untuk mengawasi penerapan PSBB), yang merupakan karya mahasiswa Fakultas Teknik UI. Quadplane ini nantinya dapat melakukan video monitoring secara real-time untuk mendeteksi kerumunan orang. Setelah melihat pelanggaran kerumunan lebih dari lima orang, alat ini akan mengeluarkan suara imbauan agar segera membubarkan diri.

Ada pula inovasi alat disinfektan sinar ultraviolet untuk perangi Covid-19, produk ventilator lokal COVENT-20, APD respirator pemurni udara bagi tenaga medis, serta flocked swab (swab test menggunakan mesin Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk produk pengumpul spesimen), yang selama ini sifatnya masih sangat langka di Indonesia dan hanya bisa didapatkan melalui impor.

Dari sisi pengobatan, UI meneliti Umbical Cord Mesenchymal Stem Cell yang berhasil menyembuhkan pasien terpapar berat. Alat ini bisa menjadi terapi bagi pasien yang kerusakan parunya hampir 70-80%.

Selain itu, juga banyak inovasi UI yang berbentuk software dan aplikasi untuk memudahkan penanggulangan Covid-19. Misalnya, aplikasi SIGAP untuk pendataan pemasok kebutuhan alat kesehatan tenaga medis, lalu ada DSS-covIDNet, software pembaca hasil rontgen untuk konfirmasi pneumonia akibat Covid-19. Ada pula EndCorona, aplikasi deteksi mandiri risiko Covid-19 karya sejumlah mahasiswa UI.

Banyak Pelaku Industri Yang Tertarik Bermitra Dengan UI

Yang menarik, dari berbagai hasil inovasi yang dilakukan, beberapa diantaranya sudah published dan dipakai. Misalnya, ventilator karya inovasi UI, COVENT-20. Sebanyak 300 unit ventilator COVENT-20 dari UI akan segera didistribusikan ke sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19 dan rumah sakit darurat. Tim Ventilator UI telah menerima permohonan dari 180 rumah sakit, baik rumah sakit rujukan Covid-19 maupun rumah sakit darurat.

“Kami bersyukur, dalam tempo tiga bulan, riset proses sampai komersialisasinya sudah jalan. Ini bagian dari preseden baik, dan akan kami teruskan ke depan,” kata Abdul Haris.

Lalu, untuk disinfektan sinar ultraviolet juga akan dimodifikasi dengan berbagai bentuk sesuai dengan keperluan. Kemudian, flocked swab yang sebelumnya impor, saat ini UI sudah memproduksi 50 ribu unit. Ternyata, gayung bersambut. Berkat berbagai inovasi itu, banyak sekali pelaku industri yang datang ke UI untuk memesan produk atau ingin bermitra dan berkolaborasi. Termasuk, Indofarma, yang ingin mengembangkan telemedicine bersama UI,juga perusahaan Korea Selatan yang ingin berkolaborasi mengembangkan alat PCR.

Untuk produk flocked swab, UI dipercaya menjadi pemimpin konsorsium yang terdiri atas para ahli dan peneliti dari Research Center for Biomedical Engineering Fakultas Teknik UI, dengan beberapa mitra perusahaan,antara lain Dynapack Asia Pte. Ltd., PT Chandra Asri Petrochemical Tbk., PT Ingress Malindo Ventures, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, PT Langgeng Jaya, PT Indachi Prima, dan PT Sri Tita Medika. Konsorsium ini bertekad mengembangkan flocked swab dengan kandungan lokal hampir 100%.

Ke depannya, menurut Prof Ari Kuncoro, pimpinan UI bersama semua timnya akan terus mengembangkan umbical cord mesenchymal stem cell, obat herbal, dan beberapa peralatan kesehatan. Pandemi COVID-19 merupakan permasalahan yang kompleks dan multidimensi. UI sebagai think tank senantiasa siap merespons permasalahan bangsa berkenaan dengan Pandemi COVID-19. Riset dan inovasi serta sumbangsih pemikiran tidak akan berhenti sampai saat ini, UI akan terus mengawal pemerintah di dalam mengatasinya.§

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)