Wahana Pendidikan Ideal Bagi Para Profesional

Sejak tahun 1984, UT aktif menggelar program pendidikan tinggi jarak jauh dan terbuka bagi warga negara Indonesia maupun asing. Apa pun profesinya, berapa pun usianya, di mana pun tempat tinggalnya, semua memiliki kesempatan sama untuk melanjutkan pendidikan.

Menyediakan akses pendidikan tinggi berkualitas dunia untuk semua lapisan masyarakat. Misi inilah yang diusung Universitas Terbuka (UT) sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ke-45 di Indonesia. Dengan sistem belajar jarak jauh dan terbuka, UT mengoptimalkan beragam media pembelajaran mulai dari media cetak (modul) maupun non-cetak (audio, video, radio, televisi, dan internet). Adapun makna terbuka adalah tidak adanya pembatasan usia, masa studi, tahun ijazah, waktu registrasi, dan frekuensi mengikuti ujian.

Rektor UT Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D. Rektor UT Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D.

UT benar-benar menerjemahkan filosofi pendidikan terbuka ke dalam sistemnya. Jika ada mahasiswa yang pernah mendaftar ke UT, kemudian sempat vakum bertahun-tahun dan ingin kembali, mereka bisa tinggal melanjutkan. Saat ini kami memiliki lebih dari 450.000 mahasiswa aktif. Dari segi operasional memang menjadi sangat kompleks, tapi ini risiko yang kami ambil dalam rangka mewujudkan pendidikan sepanjang hayat,” papar Rektor UT Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D. ketika ditemui di kantornya, Jumat (15/4).

Di samping pendidikan terbuka, Tian mengutarakan besarnya tantangan dari sistem pembelajaran jarak jauh itu sendiri. Oleh karena itu, pihaknya memiliki unit layanan yang disebut Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) di tingkat provinsi. PTN di wilayah setempat berperan sebagai pembina UPBJJ serta membantu dalam penulisan bahan ajar, pelaksanaan tutorial, praktikum, hingga ujian. “Dengan diresmikannya UPBJJ terbaru kami di Tarakan, UT telah memiliki 40 unit layanan yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia,” ungkapnya.

Jika boleh memilih, ia mengaku ingin meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi (TI) dalam proses pembelajaran di UT. Sayang, ketersediaan infrastruktur di Indonesia menjadi kendala. “Lebih dari 70 persen mahasiswa UT belum didukung dengan koneksi internet yang memadai, sehingga sarana pembelajaran yang kami gunakan masih beragam. Jika kami menutup salah satu sarana yang konvensional, akan ada sekelompok masyarakat Indonesia yang tertutup aksesnya,” ujar Tian seraya menyebutkan baru program Magister Manajemen di UT yang diselenggarakan secara fully online.

Mayoritas mahasiswa UT, lebih dari 90 persen, merupakan mereka yang sudah bekerja atau memiliki usaha. UT senantiasa melibatkan para pemangku kepentingan termasuk pengguna lulusan dalam merancang kurikulum, sehingga berbagai program yang diselenggarakan UT amat relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Program yang ditawarkan di UT tersedia mulai dari D2, D3, D4, S1, S2, hingga Program Sertifikat Terbuka Online bertajuk MOOC (Massive Open Online Courses) yang dapat diikuti secara gratis oleh siapa pun yang berminat, tanpa syarat apa pun.

Karena tidak mengganggu pekerjaan, kuliah di UT sangat ideal bagi pemimpin perusahaan yang ingin meningkatkan kompetensi dirinya maupun para karyawannya. Banyak yang motivasinya memang untuk mendapatkan ijazah dan meningkatkan taraf hidup, namun banyak pula yang sekadar ingin menambah wawasan,” papar Tian. “Banyak alumni yang merasakan bahwa UT benar-benar bisa menjembatani mereka untuk meraih cita-cita. Boleh jadi dulu mereka tidak berkesempatan untuk kuliah, atau sudah sarjana tapi bekerja pada bidang yang berbeda, dan ingin meningkatkan kapasitasnya.”

Sepak terjang Tian membawa UT menjadi institusi rujukan pendidikan terbuka, diakui dunia melalui penunjukannya sebagai Presiden International Council for Open and Distance Education (ICDE) periode 2012-2015. Selain menjadi wanita Asia pertama yang berada di posisi ini, Tian juga merupakan rektor wanita pertama UT yang sebelumnya telah sukses memimpin Asian Association of Open Universities (AAOU). “Saya beruntung dibesarkan dan berkarier di tempat kerja yang tidak ada diskriminasi antara pria dan wanita,” ungkap Tian. “Yang jelas, di kalangan komunitas pendidikan terbuka dan jarak jauh, UT sudah memiliki nama besar dan aktif berkolaborasi secara internasional,” pungkasnya.


Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!