Barang Konsumsi Nantikan Pulihnya Daya Beli Masyarakat

Kenaikan level rating investment yang diberikan Moody's kepada Indonesia minggu lalu, membawa angin segar bagi pasar saham Indonesia. Hampir sebagian besar saham emiten di bursa terkatrol naik, termasuk saham emiten barang konsumsi.

Pemulihan daya beli masyarakat belum terlalu kuat, akibatnya tingkat konsumsi masyarakat pada kuartal I tahun ini masih belum cukup menggembirakan. Pasalnya awal tahun lalu konsumsi masyarakat terbilang kuat karena pemerintah belum menaikkan tarif listrik. Setelah memasuki paruh II tahun 2017, daya beli masyarakat mulai turun. Alhasil, tingkat penjualan belum akan memperlihatkan kinerja positif pada kuartal I tahun 2018.

Bahana Sekuritas memperkirakan pada kuartal II tahun 2018, daya beli masyarakat akan membaik. Hal ini didorong oleh pencairan dana desa yang akan dilakukan oleh pemerintah melalui dua tahap yakni pada Maret-Juli sebesar 60%, sedangkan sisanya akan mulai dicairkan pada Agustus. Di saat yang bersamaan menjelang Idul Fitri, masyarakat akan menerima Tunjangan Hari Raya (THR), diikuti dengan perhelatan Asian Games pada Agustus mendatang.

“Pemulihan daya beli ini diprediksi semakin kuat dengan adanya perhelatan Pilkada serentak pada Juni mendatang, yang biasanya baru akan mendorong penjualan retail setelah Pilkada selesai,” ujar Michael Setjoadi, Analis Bahana Sekuritas.

Sedangkan, pertumbuhan penjualan industri barang konsumsi yang bergerak cepat atau fast moving consumer goods (FMCG) diperkirakan masih akan rendah pada kuartal I. Sehingga beberapa perusahaan yang bergerak di sektor FMCG cukup berhati-hati dalam mengelola pengeluaran, termasuk belanja iklan yang cukup besar yang dapat memengaruhi keuangan perusahaan. ''Melalui pemotongan belanja iklan, beberapa perusahaan bisa mencatatkan kinerja positif pada kuartal I tahun ini,'' ungkap Michael.

Lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service (Moody’s) meningkatkan Sovereign Credit Rating Indonesia dari Baa3 dengan outlook Positif menjadi Baa2 dengan outlook Stabil pada 13 April 2018, setelah akhir tahun lalu Fitch Ratings juga meningkatkan rating Indonesia dari BBB- dengan outlook Positif menjadi BBB dengan outlook Stabil pada 20 Desember 2017.

Di sisi lain, faktor global seperti kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah serta perang dagang yang dikumandangkan oleh Amerika bisa memicu kenaikan harga bahan baku yang pada akhirnya bakal memicu kenaikan harga barang.

“Para emiten barang konsumsi seperti PT Mayora Indah telah menyadari penjualan masih cukup rendah pada kuartal I, makanya untuk tetap bisa mencatatkan kenaikan laba, perseroan lebih memilih untuk memotong belanja iklan di televisi yang biasanya lebih efektif meningkatkan penjualan untuk kelas menengah-bawah namun ongkosnya lebih mahal, tapi di sisi lain, gencar melakukan promosi di sosial media dengan biaya yang jauh lebih murah,” ujarnya menambahkan.

Emiten berkode saham MYOR ini juga diuntungkan dengan pasar ekspor yang potensial, sehingga saat kondisi pasar domestik belum sepenuhnya pulih, perseroan mencatat kinerja positif dari aktivitas ekspor. Hingga saat ini, penetrasi pangsa pasar di 80 negara masih cukup rendah, sehingga peluang untuk mendongkrak penjualan terbuka lebar.

“Bahana merekomendasikan beli atas saham MYOR dan menaikkan target harga menjadi Rp3.300/lembar saham, dari yang sebelumnya seharga Rp2.700/lembar. Perkiraan laba bersih pada akhir 2018, juga naik menjadi Rp 1,83 triliun dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp 1,75 triliun,” kata Michael

Rekomendasi beli juga diberikan untuk saham PT Indofood Sukses Makmur dengan target harga Rp 8.600/lembar saham, karena sebagian besar produk yang dijual adalah untuk kalangan menengah-bawah melalui anak usahanya Indofood CBP Sukses Makmur, sehingga dengan perkiraan daya beli masyarakat yang bakal semakin kuat memasuki paruh kedua, perseroan berkode saham NDF ini bakal diuntungkan. Apalagi perseroan berencana mengeluarkan beberapa produk baru. “Rekomendasi tahan diberikan untuk saham PT Unilever Indonesia, dengan target harga Rp49.000/lembar saham, hal ini karena Unilever tidak berencana mengeluarkan produk baru dalam tahun ini, plus valuasi sahamnya juga sudah terlalu mahal,” ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)