Blue Bird Pangkas Rugi Bersih

Ilustrasi protokol kesehatan taksi Bluebird. (Foto : Blue Bird)

Pendapatan PT Blue Bird Tbk (BIRD) pada Januari-September 2021 sebesar Rp 1,45 triliun, atau turun sebesar 6,6% dibandingkan pada periode yang sama tahun 2020 senilai Rp 1,55 triliun. Pandemi yang bermula di tahun 2020 dan berlanjut di 2021berdampak bagi sektor transportasi akibat dari berkurangnya mobilitas masyarakat. Pemerintah setidaknya telah menerapkan 2 kali PPKM yaitu PPKM Mikro di pertengahan Januari dan PPKM darurat yang dilaksanakan pada Juli 2021.

Direktur Utama Blue Bird Sigit Djokosoetono, mengungkapkan pembatasan mobilitas masyarakat adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari sebagai bagian dari strategi pemerintah dalam memerangi pandemi Covid-19 di negeri ini. “Kami telah belajar banyak dari tahun 2020 dalam menyikapi pembatasan mobilitas masyarakat melalui berbagai program efisiensi untuk mengurangi beban perseroan,” ujar Sigit di Jakarta, Minggu (31/10/2021).

Sigit, dalam keterangan tertulisnya ini, menyampaikan perseroan terus memberikan layanan yang aman nyaman dan higienis dengan menjalankan protokol kesehatan yang sangat ketat, serta memberikan kemudahan bagi customer untuk melakukan pemesanan taksi di berbagai platform dan semakin mengembangkan alternatif pembayaran cashless yang semakin diminati oleh masyarakat.

Performa keuangan Blue Bird membaik di Januari hingga September tahun ini apabila dibandingkan antara periode pandemi di 2020 dan 2021. Rata-rata pendapatan per bulan periode pandemi (Januari-September) 2021 naik Rp 24 miliar atau 17,5% dibandingkan rata-rata pendapatan per bulan periode pandemi (Maret-Desember) 2020, yang menunjukkan kinerja bisnis perseroan pada jalur pemulihan yang kuat dan mampu menghadapi goncangan pandemi lebih baik dibandingkan tahun lalu. 

Rugi bersih BIRD di Januari-September 2021 Rp 66,3 miliar, membaik sebesar 58% dibandingkan kerugian senilai Rp 158 miliar di periode yang sama tahun lalu. EBITDA erseroan juga turut meningkat, yakni sebesar Rp 248 miliar, naik Rp 12,5 miliar dibandingkan Januari-September 2020. Perbaikan kinerja ini didukung oleh beberapa faktor, diantaranya beban langsung turun 9,6% atau Rp 125,3 miliar, sebagai hasil dari efisiensi operasional, strategi efisiensi sehingga beban usaha turun Rp 46,2 miliar yang menekan rugi usaha BIRD di tahun ini lebih baik, yaitu Rp 108 miliar atau lebih rendah dari Rp 177 miliar di Januari-September 2020.

Selanjutnya, salah satu lini bisnis perseroan yaitu Mobil Go yang bergerak pada penjualan mobil bekas eks armada Bluebird, menunjukkan kinerja yang sangat baik. Laba atas penjualan aset naik sangat signifikan dari yang sebelumnya mencatat kerugian sebesar Rp 5,4 miliar menjadi laba sebesar Rp 48,6 miliar. Hal ini didorong dari peningkatan volume dan juga perbaikan di harga jual per unit. Ekspansi perseroan dari sisi teknologi dengan diluncurkannya MyBlueBird 5 dan juga kolaborasi dengan berbagai platform lain untuk booking channel dan payment channel taksi memberikan fleksibilitas lebih bagi customer dalam melakukan pemesanan dan pembayaran.

Posisi neraca dan kas per September tahun ini semakin kuat dibandingkan tahun lalu. Posisi kas perseroan di akhir September 2021 adalah Rp 739,9 miliar dibandingkan posisi kas Rp 730,9 milyar. Sedangkan debt to equity ratio di 30 September 2021 adalah 0,3 kali. Ini menunjukkan posisi neraca yang sangat sehat dan perseroan masih memiliki ruang yang sangat lebar untuk melakukan ekspansi. Mulai April 2021, didukung oleh kondisi keuangan perseroan yang semakin membaik, Perseroan telah mengakhiri masa relaksasi pembayaran pinjaman ke bank dan mulai melakukan pembayaran pokok pinjaman dengan normal.

Kepak Sayap Bisnis Bluebird

Lebih lanjut, Sigit mengungkapkan bahwa Bluebird masih menjadi perusahaan yang kuat dan terus berkembang di tengah kondisi pandemi. “Banyak perusahaan transportasi yang sudah bertumbangan akibat pandemi. Namun fakta bahwa Bluebird masih bertahan dan terus mengembangkan bisnisnya adalah bukti dari kepercayaan masyarakat terhadap layanan Bluebird dan tata kelola perusahaan yang prudent serta berorientasi kepada customer,” tambahnya.

Sejak 2020, Blue Bird memperluas bisnis pengiriman barang untuk meningkatkan utilitas armada taksi Perseroan. Perseroan sudah bekerja sama dengan beberapa partner lain seperti Indogrosir, Paxel, Union Group, Kem Chicks, Kereta Api Indonesia dan lain-lain.

Pada 2021 ini layanan pengiriman barang Bluebird Kirim sudah masuk sebagai alternatif pengiriman barang di Shopee yang merupakan marketplace e-commerce terbesar kedua di Indonesia. Ke depannya, perseroan akan berekspansi untuk masuk sebagai alternatif pengiriman dalam berbagai platform e-commerce lainnya mengingat potensi bisnis yang cukup besar dari segmen ini.

Sumber : Blue Bird

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)