BRI Miliki Satelit Sendiri untuk Efiensi dan Meningkatkan Mutu Layanan

Setiap tahun, Bank Rakyat Indonesia mengeluarkan biaya sekitar Rp 500 miliar untuk membayar sewa 23 transponder satelit. Sejauh ini, bank terbesar kedua (dari segi aset) di Indonesia ini menyewa dari 9 perusahaan penyedia saja satelit di Indonesia. Dengan jangkaun cabang yang sangat luas di Indonesia, dan upayanya terus mengembangkan electronic channel dalam kegiatan bisnisnya, menyebabkan tingginya penggunaan tranponder satelit. Dan, ke depan, diperkirakan kebutuhan tranponder satelit sebagai pendukung komunikasi makin meningkat, seiring dengan berkembangnya electronic channel BRI.

Sofyan Basir. Penghematannya bisa mencapai 50% Sofyan Basir. Penghematannya bisa mencapai 50%

Berangkat dari kebutuhan transponder satelit yang tinggi itu, BRI akhirnya memutuskan untuk membeli satelit sendiri. Satelit tersebut dibeli dari perusahaan asal Amerika, Space System/Loral (SSL). Dan, tanggal 28 April 2014, bank yang tahun 2013 mencatat laba bersih Rp 21,16 triliun (tertinggi dibandingkan bank-bank lain di Indonesia) pun telah menandatangi kontrak dengan Arianes Space dari Prancis untuk peluncuran satelit Indonesia yang diberi nama BRIsat itu. Biasa pembelian dan peluncuran BRIsat tersebut, BRI mengeluarkan biaya sekitar US$ 230 juta, atau kurang lebih Rp 2,5 triliun. Rencananya, BRIsat akan diluncurkan dengan menggunakan 5 peluncur Ariane dari Guiana Space Center, Europe's Spaceport di Kourou (Guyana Prancis) pada Juni 2016. Satelit tersebut memiliki izin mengorbit selama 15 tahun, dapat diperpanjang 3 tahun.

Sofyan Basir, Dirut BRI, mengungkapkan, kebutuhan dana untuk pembelian dan peluncuran BRIsat murni bersumber dari laba bersih BRI. “Kami sudah menghitung kelayakannya. Pembelian satelit ini akan menguntungkan bagi kami,” tuturnya, pada acara Forum Pemimpin Redaksi, 18 April 2014.

Menurut Sofyan, dengan adanya satelit baru yang dimiliki sendiri ini, BRI bermaksud untuk meningkatkan performa perusahaan dan penghematan biasaa komunikasi. “Penghematannya bisa mencapai 50%,” ia menegaskan.

Keuntungan lainnya, BRI akan bisa memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para nasabahnya, terutama dalam kegiatan transaksi elektronik. Menurutnya, kualitas infrastruktur komunikasi BRI masih rendah. Ini yang menyebabkan pelayanan kepada nasabahnya terhambat. Ia mengungkapkan, kadang-kadang service level agreement hanya 65% pada saat sibuk.

Aktivitas Transaksi di Cabang BRI Aktivitas Transaksi di Cabang BRI

Sofyan Basir menambahkan, alasan BRI memboyong satelit tersebut lebih kepada masalah komunikasi. “Kontur Indonesia sendiri kan berupa kepulauan, jadi agak sulit untuk menghubungkan titik – titik BRI di seluruh wilayah Indonesia dengan menggunakan fiber optik,” jelas Sofyan. Hal tersebut juga berkaitan dengan visi BRI untuk membidik program financial inclusion serta upaya menuju Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang dibarengi dengan penggalakan pembangunan infrastruktur.

Selain itu, Sofyan juga menekankan pentingnya jaringan komunikasi yang stabil guna menjamin kinerja sebuah bank berskala nasional. Oleh karena itu perlu adanya optimalisasi di sisi ini guna menjaga stabilitas piranti – piranti pendukung tersebut. Misalnya saja dalam moda transaksi SMS Banking, dipastikan tidak akan ada keterlambatan. “Bisa dibuktikan, transaksi lewat SMS banking BRI hanya membutuhkan 4 detik saja,” lanjut Sofyan.

BRI paham betul bahwa kualitas pelayanan merupakan modal penting dalam membangun integritas kepada nasabahnya. “Kami tidak ingin hanya karena alasan komunikasi dapat mengganggu reputasi kami sebagai bank bersakala nasional,” jelas Sofyan. Kelancaran komunikasi data memang sangat vital bagi BRI. Jumlah nasabahnya kini sudah mencapai 50 juta nasabah, tersebar di seluruh Indonesia. Sementara, jaringan yang dimilikinya mencapai kurang lebih 9.800 outlet dan lebih dari 100 ribu jaringan e-channel yang lokasinya tersebar dari perkotaan hingga daerah terpencil. Dan, saat ini BRI harus menangani 15-16 juta transaksi elektronik per hari.bri_cabang_jatinegara

Satelit tersebut akan memiliki 45 transponder yang kapasitasnya setara 54 transponder, danBRI akan memakai 30 transponder. Kemudian, BRI akan mengalokasikan 4 transponder untuk Pemerintah, yang dapat dimanfaatkan untuk komunikasi langsung dengan kantor perwakilan Indonesia di negara-negara yang terjangkau. BRIsat akan menjangkau wilayah layanan Indonesia dan negara-negara ASEAN, Asia Timur termasuk sebagian Tiongkok, sebagian Pacifik seperti Hawaii dan Australia Barat seperti Perth. Sedangkan sisa transponder kemungkinan akan dicarikan mitra untuk pemanfatannya.

Dengan pembelian satelit tersebut, BRI tercatat sebagai bank pertama di dunia yang mengoperasikan satelit sendiri untuk menunjang aktivitas bisnisnya.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)