Cara United Tractors Perluas Bisnis

Geliat bisnis PT United Tractors, Tbk sepanjang Januari hingga awal Maret 2015 cukup menjanjikan. Perseroan melakukan berbagai aksi korporasi untuk memperluas sayap bisnisnya. Baru-baru ini saja, emiten berkode UNTR ini menambah dana segar kepada anak usahanya, PT Karya Supra Perkasa (KSP) dengan memberikan pinjaman sebesar Rp 352,6 miliar.

Sara K. Loebis, Sekretaris Perusahaan United Tractors, menyebutkan peminjaman dana tersebut akan digunakan Karya Supra Perkasa untuk keperluan pendanaan pelaksanaan penawaran tender wajib. Pinjaman tersebut memiliki bunga LPS +2% dengan jangka waktu 1 tahun. “Bagi perseroan, pinjaman ini akan lebih menguntungkan apabila Karya Supra Perkasa mendapatkan pinjaman tersebut dibandingkan perseroan menyimpan dana kasnya di bank dengan rate deposito saat ini,” kata Sara dalam keterangan resminya ke Bursa Efek Indonesia.

United Tractors memiliki saham KSP sebanyak 99,9% atau setara dengan 999,000 ribu saham. Sisanya dimiliki oleh PT United Tractors Pandu Engineering sebesar 0,1% dengan jumlah saham sebanyak seribu saham.

Sebelumnya, United Tractors melakukan sejumlah aksi korporasi yang membetot perhatian investor. Pada 5 Januari 2015, PT Karya Supra Perkasa, anak usaha perseroan telah mengakuisisi 40% saham PT Acset Indonusa, Tbk (ACST) dari dua pemegang saham mayoritas ACST, yakni PT Cross Plus Indonesia dan PT Loka Cipta Kreasi. Acset Indonusa adalah perusahaan di bidang jasa konstruksi.

Djoko Pranoto, Presdir United Tractors. (Foto : Istimewa). Djoko Pranoto, Presdir United Tractors. (Foto : Istimewa).

Sebulan berikutnya, perseroan menggelontorkan dana untuk mengakuisi perusahaan tambang emas yang diumumkan di bulan lalu. Perseroan melalui anak usahanya, PT Parmapersada Nusantara mengakuisisi saham PT Sumbawa Jutaraya senilai US$ 2,57 juta. Sara menyebutkan penandatanganan conditional shares and purchase agreement (CSPA) telah dilangsungkan pada 20 Februari 2015.

Pamapersada yang bisnis intinya menjadi kontraktor penambangan batubara, resmi menjadi saham pengendali dengan total kepemilikan saham Sumbawa Jutaraya sebesar 75,5%. Pamapersada membeli saham Sumbawa Jutaraya sebesar 70% yang sebelumnya dimiliki United Gold Resources Pte Ltd dan PT Sumbawa Mas Persada sebesar 5,5%.

Kinerja Naik

Perseroan pada 2014 membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 4%, menjadi Rp 53,14 triliun dari Rp 51,01 triliun di tahun 2013. Penguatan dollar Amerika Serikat terhadap rupiah menjadi pendorong pertumbuhan tersebut. Dampaknya laba kotor perusahaan bisa naik sebesar 27%. Adapun, laba bersih perseroan tumbuh sebesar 11%, atau menjadi Rp 5,37 triliun dari Rp 4,83 triliun.

Meski mencatat kinerja positif, tak semua divisi bisnis United Tractors mencatatkan kinerja positif. Segmen usaha mesin konstruksi, misalnya, turun kinerjanya. Penjualan alat berat Komatsu turun sebesar 16%, menjadi 3,513 unit dari 4,203 unit di periode sebelumnya. Penurunan tersebut terutama karena adanya perlambatan bisnis di sektor pertambangan dan perkebunan. Walau begitu, penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat malah meningkat sebesar 8% atau mencapai Rp 5,98 triliun. Penguatan nilai tukar dollar serta peningkatan pendapatan dari bisnis layanan purna jual menjadi faktor kinerja dari segmen usaha mesin konstruksi turunnya tidak terlalu dalam, yakni hanya sebesar 4% atau menjadi Rp 14,98 triliun.

Alat Berat Komatsu. (Foto : Wisnu Tri Rahardjo/SWA). Alat Berat Komatsu. (Foto : Wisnu Tri Rahardjo/SWA).

Sedangkan dari segmen kontraktor pertambangan, Pamapersada Nusantara mencatat peningkatan pendapatan sebesar 6% atau mencapai Rp 33,49 triliun dari Rp 31,55 triliun pada 2013. Hasil ini dicapai berkat kenaikan volume produksi batu bara dan hauling yang meningkat dari 105,1 juta ton menjadi 119,4 juta ton.

Selanjutnya kontribusi dari segmen pertambangan mencatat hasil yang menggembirakan meski labanya tertekan karena harga batu bara masih relatif turun. Anak perusahaan perseroan yang berbisnis di bidang pertambangan adalah PT Prima Multi Mineral, PT Tuah Turangga Agung, serta dua konsesi tambang baru yaitu PT Asmin Bara Bronang dan PT Duta Nurcahya. Penjualan batu bara dari keempat konsesi tambang tersebut selama tahun 2014 mencatat kenaikkan sebesar 42% sebanyak 5,94 juta ton.

Sejalan dengan peningkatan volume penjualan batu bara, pendapatan unit usaha pertambangan mencatat peningkatan sebesar 22% menjadi Rp 4,67 triliun dari Rp 3,81 triliun pada 2013. Namun demikian, penurunan rata-rata harga jual batu bara telah menekan laba unit usaha pertambangan.(***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)