Direstui, Niat BTPN Tak Bagi Dividen Lagi

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) beruntung memiliki pemegang saham Sumitomo Corporation lewat Sumitomo Mitsui Banking Corporation dan Summit Global Capital Management BV, serta Texas Pacific Group (TPG) Nusantara. Ketiganya rela untuk kesekian kalinya tak menerima dividen dari bank pimpinan Jerry Ng tersebut. Itu adalah salah satu butir keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2015

“Ini adalah tahun ketujuh atau sejak tahun 2008, BTPN tak membagikan dividen kepada pemegang saham. Laba bersih BTPN sepanjang tahun 2014 lalu adalah Rp1,85 triliun yang sepenuhnya diputuskan sebagai saldo laba perseroan. Belum ditentukan penggunaannya, masih menjadi retained earnings,” kata Jerry dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia.

Menurut dia, langkah itu menunjukkan komitmen jangka panjang dari pemegang saham untuk mendukung tumbuh kembang bank yang berkelanjutan, terutama menjelang dimulainya era pasar bebas ASEAN (MEA) yang di industri perbankan dimulai pada tahun 2020 mendatang. Kehadiran bank dengan modal yang kuat adalah kunci memenangi persaingan dengan bank-bank regional ASEAN.

Selain sepakat tidak menerima dividen untuk tahun buku 2014 kepada para pemegang saham, RUPST juga menyetujui tambahan dua anggota direksi yakni Wolf Arno Kluge yang sebelumnya menjabat sebagai Chief Risk Officer BTPN, serta Maya Kartika yang sebelumnya menjabat sebagai Chief Human Capital BTPN.

Dirut BTPN, Jerry Ng (Foto: IST) Dirut BTPN, Jerry Ng (Foto: IST)

“Ke depan, BTPN akan terus mengembangkan layanan perbankan yang disertai dengan program pemberdayaan ke segmen pasar yang menjadi fokus utama BTPN yaitu para pensiunan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, serta komunitas prasejahtera produktif,” ujar Jerry.

Dari data yang dihimpun SWA, BTPN menargetkan penyaluran kredit tahun ini tumbuh 14-15%. Untuk itulah perseroan membutuhkan pendanaan sekitar Rp8-9 triliun. Direktur Keuangan BTPN Arief Harris Tandjung mengatakan, modal perseroan saat ini mencapai Rp 11,8 triliun per Desember 2014 sedangkan capital adequacy ratio (CAR) berada di level 23,32%

Sepanjang tahun 2015, BTPN membutuhkan pendanaan lebih besar Rp 1 triliun dibandingkan yang dibutuhkan pada 2014, guna mendukung ekspansi untuk infrastruktur teknologi informasi (TI), jaringan cabang, dan penyaluran kredit. Kebutuhan pendanaan itu akan ditutup dari dana pihak ketiga (DPK), pinjaman dari International Finance Corporation (IFC), dan penerbitan obligasi.

Perseroan belum menggunakan pinjaman dari IFC pada awal tahun ini sebesar US$7 juta. Jika ditambahkan mobilisasi dana dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation sebesar US$225 juta, BTPN sudah mengantongi dana sebesar US$300 juta (Rp4 triliun) untuk ekspansi kredit dan jaringan cabang dan infrastruktur teknologi informasi. Namun, perseroan masih mencari waktu yang tepat untuk menerbitkan obligasi pada tahun ini.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)