ESSA Tambah Modal ke PAU US$ 150 Juta

Hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) menyetujui penambahan penyertaan berupa pinjaman senilai US$ 150 juta  kepada anak perusahaannya, yaitu PT Panca Amara Utama (PAU).

Rapat perusahaan pengolah gas bumi menjadi LPG itu juga, menyetujui perubahan rencana penggunaan dana hasil penawaran umum perdana/initial public offering (IPO) saham emiten tersebut. Saat ini sisa dana IPO yang masih ada Rp 126,5 miliar dan akan digunakan ESSA untuk pengembangan PAU.

“Kami juga mendapatkan persetujuan untuk menjaminkan aset sehubungan dengan perolehan pinjaman dari bank sampai dengan US$ 90 juta. Pinjaman bank tersebut akan digunakan ESAA untuk pengembangan PAU,” ujar Kanishk Laroya, Corporate Secretary & Head of Investor ESSA.

Dijelaskan Kanishk, hasi RUPSLB pun menyetujui perseroan untuk melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) dalam jumlah yang tidak melebihi 10% dari modal ditempatkan dan disetor saat ini dengan cara menerbitkan 100 juta lembar saham baru dengan harga sekurang-kurangnya Rp 2.775. Dana hasil PMTHMETD itu lagi-lagi akan digunakan ESSA untuk pengembangan PAU.

PAU telah memperoleh alokasi gas sebesar 55 MMSCFD dari wilayah kerja Senoro-Toili (Lapangan Senoro) di Sulawesi Tengah. PAU berencana membangun pabrik pengolahan amoniak berkapasitas 700 ribu metrik ton (mt) per tahun yang diharapkan akan memulai berproduksi secara komersial di kuartal III tahun 2015.

Minggu lalu PAU telah memperoleh persetujuan dari Kementrian ESDM atas harga pasokan gas. Persetujuan ini merupakan langkah penting untuk mendapatkan persetujuan akhir dari SKMIGAS atas Pokok-pokok Perjanjian Jual Beli Gas yang disepakati Joint Operating Body Pertamina Medco Tomor Sulawesi dan PAU.

Harga yang dibanderol PAU akan dihubungkan dengan indeks harga amoniak. Sekarang harga amoniak di pasaran sekitar US$ 730 per mt, PAU akan membeli gas seharga US$ 8,60 per MMBTU.

Akhir tahun 2012 proyeksi pendapatan ESSA  masih stabil sekitar Rp 370-an miliar. Jumlah itu hampir sama dengan tahun 2011 karena kondisi ekonomi cenderung stabil. Sekadar informasi, tahun 2011 penjualan ESSA naik 19,96% dari Rp 310,022 miliar menjadi Rp 371,905 miliar. Sementara itu, laba bersih tumbuh 15,25% dari Rp 85,653 miliar menjadi Rp 98,713 miliar.

Manajemen ESSA optimistis bahwa industri amoniak ke depan akan prospektif sebagai penunjang industri pangan nasional. Langkah strategis ini diharapkan dapat menciptakan nilai berkesinambungan kepada pemegang saham sebagai komitmen untuk meningkatkan kapitalisasi pasar saham ESSA.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)