Hilirisasi Sawit Mendorong Investasi di Agrobisnis

Hilirisasi industri kelapa sawit sukses merangsang masuknya investasi hingga US$ 3,1 miliar sampai akhir tahun 2014.  Pemerintah mengapresiasi ekspansi bisnis dari pelaku industri sawit untuk mengembangkan hilirisasi produknya. Selain meningkatkan nilai tambah ketimbang sekadar menjual minyak sawit mentah, hilirisasi juga menciptakan lapangan kerja.

"Para pelaku industri sawit terus menciptakan produk turunan dari minyak sawit. Ini memperkuat daya saing karena kita tidak melulu mengekspor sawit mentah atau CPO," kata Menteri Perindustrian Saleh Husin dalam rilisnya ketika mengunjungi kawasan pabrik PT Wilmar Nabati Indonesia di Gresik, Jatim.

Saleh Husin, Menteri Perindustrian, di Pabrik Wilmar, Gresik, Jawa Timur. (Foto : Dok Kemenperin). Saleh Husin, Menteri Perindustrian, di Pabrik Wilmar, Gresik, Jawa Timur. (Foto : Dok Kemenperin).

Pada  2014 lalu, produksi CPO/ minyak sawit mentah Indonesia sekitar 32 juta ton, dan sebagian besar diolah menjadi minyak goreng sawit, lemak padatan pangan, produk oleokimia, hingga biodiesel sebagai sumber energi terbarukan. Adapun, ekspor minyak goreng, baik curah maupun kemasan pada 2014  mencapai 13.7 juta ton dengan nilai ekspor sekitar US$ 10.6 miliar.

Menurut Husin, pemerintah telah menetapkan kebijakan hilirisasi industri kelapa sawit untuk meningkatkan nilai minyak sawit mentah menjadi aneka produk hilir bernilai tambah tinggi.  "Sekitar lima hingga sepuluh tahun lalu, kita masih mengandalkan ekspor komoditas primer minyak sawit mentah. Program Hilirisasi Industri akan mengubah mental tradisional menjadi mental produktif berupa peningkatan ekspor produk hilir sawit bernilai tinggi," lanjutnya.

Kemenperin mencatat, kebijakan hilirisasi industri kelapa sawit telah merangsang masuknya investasi hingga US$ 3.1 miliar sampai akhir tahun 2014.  Selain itu, rasio ekspor produk hulu vs produk hilir yang semula 60%:40% pada  2011 berubah menjadi 40:60% di tahun 2014.  Jumlah jenis produk hilir juga berkembang pesat, sebanyak 150 jenis produk hilir tercatat di tahun 2014, sehingga jumlahnya lebih banyak dari tahun 2011 sebanyak 54 jenis produk hilir.

Pabrik milik Wilmar Nabati Indonesia yang di Gresik ini merupakan kawasan produksi terintegrasi. Presiden Direktur Wilmar Nabati Indonesia Hendri Sakti menuturkan, pihaknya menggelontorkan investasi hingga US$ 1 miliar untuk membangun fasilitas produksi ini. "Kami juga ingin membangun fasilitas serupa yang juga akan memacu hilirisasi Wilmar. Rencana lokasi di Kalimantan Timur," katanya.

Wilmar mengolah sawit mentah dan menghasilkan aneka produk hilir oleofood, oleokimia, biofuel, hingga Biolefin. Ke depan, perusahaan ini juga berambisi mengembangkan produk bahan bakar berupa bio-avtur untuk pesawat udara. "Sejauh ini kami siapkan dulu bahan bakunya," tutur Hendri.

Investasi Sawit

Sejumlah produsen kelapa sawit memang berencana meningkatkan produksinya dengan membangun pabrik. Sebelumnya, PT Astra Agro Lestari Tbk., mengumumkan penambahandua pabrik pengolahan demi meningkatkan kapasitas produksinya di tahun ini. Perusahaan perkebunan yang berkode AALI di Bursa Efek Indonesia ini akan membangun dua pabrik berkapasitas masing-masing 45 ton per jam di Sulawesi Tengah dan Kalimantan Selatan.

Untuk biaya pembangunan pabrik itu,  perseroan mengalokasikan anggaran sebesar US$ 20 juta- US$ 24 juta. Astra Agro menyiapkan  belanja modal sebesar Rp 3 triliun untuk mengembangkan upaya

penanaman baru dan berulang (replanting) kelapa sawit di kebun perseroan, pengembangan produk dan pabrik kelapa sawit di wilayah-wilayah baru, serta membangun sejumlah infrastruktur di sekitar area tanam. Sedangkan, Joko Supriyono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengharapkan produk CPO Indonesia diolah menjadi produk yang bernilai tambah, misalnya bisa mengeskpor pasta gigi atau sabun. (***)

Reportase : Ferdi Julias

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)