Hypermarket dan Minimarket Makin Kepincut Private Label

Meskipun kehadirannya mengundang banyak perdebatan, private label berkembang pesat. Sejumlah ritel modern seperti hypermarket dan minimarket berlomba-lomba meluncurkan produk dengan merek sendiri (private label). Sebutlah Carrefour Indonesia, saat ini telah memiliki 2-3 ribu item produk private label dari total 40 ribu item produknya. Bahkan, minimarket seperti Indomaret saja telah memiliki sekitar 500 item produk dengan merek tokonya, disusul Alfamart yang diperkirakan memiliki 100 produk private label.

Hendrik Adrianto Hendrik Adrianto

Angka-angka tersebut tampaknya terus berkembang. Menurut Wiwiek Yusuf, Direktur Pemasaran PT Indomarco Prismatama (Indomaret), dalam setahun Indomaret mengeluarkan 100-200 item produk private label. Diakuinya produk ini bakal terus bertambah meskipun nantinya akan menemukan batasannya sendiri.

Adapun Carrefour meluncurkan tidak kurang dari lima item tiap bulan atau 60 item tiap tahun. Menurut Adji Srihandoyo, Direktur Corporate Affairs Carrefour Indonesia, potensi private label memang sangat besar. “Kami terus menggali potensinya dari produk lokal,” ujarnya.

Kehadiran private label tampaknya tak bisa dihindari karena dalam persaingan yang semakin ketat, tiap peritel ingin unggul terutama dalam hal harga yang lebih murah. Dan hal itu bisa dilakukan dengan menawarkan produk berlabel sendiri. Menurut Hendrik Adrianto, Head of External Communications & CSR Carrefour Indonesia, kehadiran produk private label ini sangat menguntungkan konsumen karena mereka bisa mendapatkan barang dengan harga murah hingga 30% dibanding produk berlabel nasional.

Sebagai perbandingan, Wiwiek mengakui penghematan harga di Indomaret bisa mencapai 10%-20%. Hal ini dimungkinkan karena produk private label mengurangi biaya pemasaran dan memotong jalur distribusi.

Kalau kita amati, sebagian besar produk private label berada dalam kategori fast moving cosumer goods. Contohnya, tisu, minuman, gula, air mineral, garam, snack, biskuit, dan sabun cair cuci tangan. “Kami tidak berani masuk ke produk yang tidak jelas pasarnya,” kata Wiwiek. Hal ini dibenarkan Pujianto, Wakil Direktur Alfamart. “Pokoknya apa (saja) yang kami anggap bisa protect cost yang bagus,” ujarnya. Adapun Carrefour mendahulukan produk yang bersifat grocery seperti tisu, abon, beras, minyak goreng dan gula.

Meskipun dari segi jumlah (unit) tergolong banyak, dari sisi nilai (rupiah) kontribusi produk private label ternyata masih tergolong kecil. Ambil contoh di Indomaret. Diakui Wiwiek, kontribusi produk private label terhadap total pendapatan Indomaret hingga saat ini belum mencapai 10%. “Kami berusaha dalam 1-2 tahun ke depan bisa ditingkatkan hingga 10%,” katanya. Menurutnya, bila omsetnya meningkat 1% saja, nilainya sudah tinggi. Maklumlah, omset Indomaret sudah mencapai Rp 18 triliun dan tahun depan ditargetkan Rp 23 triliun.

Dari sisi strategi pemasaran produk private label, tiap peritel punya cara masing-masing. Ambil contoh Carrefour. Menurut Hendrik, setiap Jumat, setiap gerai Carrefour membuat program Action Spot dan pemberian diskon produk private label bagi pengguna kartu kredit Bank Mega. Di samping itu perusahaan melakukan promosi online ataupun offline dengan media cetak. Menurutnya, produk private label Carrefour harus mampu bersaing dengan merek nasional dari segi harga dan kemasan. “Bagi orang Indonesia kemasan nomor satu, karena kemasan bisa meningkatkan daya saing,” ujarnya. Itulah sebabnya kemasan produk private label Carrefour pada umumnya berwarna putih. Tujuannya memberikan kesan bersih dan higienis kepada konsumen.

Adapun Indomaret, menurut Wiwiek, tidak punya strategi yang khusus dalam mengelola produk private label. Intinya, harganya bisa lebih murah, dan penempatan barang (displai) menarik. Dijelaskan Wiwiek, di Indomaret barang private label menempati rak golden agar mudah terlihat konsumen. Menurut Pujianto, keberhasilan private label memang bergantung pada si pembuatnya. “Bisakah dia membuat produk yang bisa diterima oleh konsumen dengan harga yang bagus dan kualitas yang bagus atau tidak,” ujarnya.

Di Carrefour, private label merupakan salah satu program untuk memberdayakan usaha kecil dan menengah (UKM). Hendrik menerangkan private label merupakan kerja sama win-win solution atau saling menguntungkan. Tiap tahun Carrefour mengevaluasi continuous improvement para pemasoknya, yang meliputi kecepatan merespons order dan kesiapan menerima kritik.

Dari sisi kerja sama Carrefour menerapkan sistem konsinyasi dan beli putus. “Tergantung kesepakatan,” ujarnya. Untuk produk yang memiliki kontinuitas tinggi, Carrefour menerapkan konsinyasi. Sementara untuk produk yang sifatnya musiman semisal sarung, Carrefour menerapkan beli putus. Buat produk yang bersifat rutin, biasanya pemasok memilih konsinyasi.

Mengenai sistem pembayarannya, Carrefour memakai sistem pembayaran 14 hari bagi UKM, sedangkan dengan pemasok kelas menengah-atas Carrefour membayar dalam waktu 30 hari.

Yang menarik, Carrefour punya niat mengekspor produk private label-nya. “Kami berencana untuk mengekspor beberapa produk private label seperti EcoPlanet ke India,” ungkap Hendrik.

Memilih produk untuk menjadi private label ternyata bukan perkara simpel. Menurut Hendrik, Carrefour menyeleksi ketat dan diawasi tim quality control. Hal ini dibenarkan Pujianto. Alfamart, menurutnya juga menerapkan proses yang panjang untuk memutuskan produk private label. “Harus daftar dulu, harus buat kemasan dalam jumlah yang besar, negosiasi dengan prinsipal, harus memiliki kualitas yang bagus dan harga murah,” ujar praktisi bisnis minimarket kawakan ini.

Yuyun Manopol & Rangga Wiraspati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)