Irwan Hidayat: Hasil Penelitian yang Kurang Aplikatif dan Rumit Sulit Diterapkan Perusahaan

Mengenai belum banyaknya pihak swasta atau perusahaan yang memanfaatkan hasil-hasil penelitian dari berbagai lembaga penelitian, menurut Irwan Hidayat, hal itu karena penelitian tersebut mungkin kurang memenuhi syarat atau kurang aplikatif untuk digunakan secara komersial. “Atau bisa juga mungkin jenis penelitiannya itu salah atau terlalu rumit,” ujar Presiden Direktur PT Sido Muncul itu.

Irwan mencontohkan dalam pemanfaatan herbal seperti yang telah lama ditekuni oleh perusahaan jamu miliknya. Umpama, mencari herbal yang dapat mengatasi hipertensi itu cukup rumit dan pengukurannya juga tidak mudah. Namun, jika penelitian soal herbal itu misalnya untuk mencari ramuan yang dapat meningkatkan nafsu makan bagi orang yang sedang sakit dan kehilangan nafsu makan, tentu itu lebih mudah untuk diteliti dan aplikasinya pun lebih masuk akal.

Sido Muncul sendiri selama ini tampaknya lebih mengandalkan riset internal untuk menggali khasiat-khasiat herbal yang dapat dimanfaatkan. Irwan mencontohkan lagi, terkait khasiat daun sirsak dan kulit manggis yang akhir-akhir ini populer sebagai obat anti kanker, pihak Sido Muncul juga melakukan riset tentang itu. Menurutnya ada dua hal yang sangat penting diperhatikan dalam melakukan penelitian soal hasiat herbal. Pertama, harus dicari dosis yang tepat dengan uji toksisitas. Biasanya dapat juga dilakukan riset invitro, yaitu dengan mengambil jaringan kanker dan mengolesinya dengan ramuan herbal tersebut.

Kedua, perlu dicari tahu apakah boleh dikonsumsi bersama dengan obat yang lain. “Yang namanya orang sedang sakit kanker itu tentu biasanya berobat, baik kemoterapi maupun mengonsumsi obat dari dokter. “Nah, kami juga meneliti apakah orang yang sedang berobat dan minum herbal itu kondisinya lebih baik daripada yang hanya minum obat dari dokter. Kami lakukan ke 100 orang, yang 50 berobat dan minum herbal dan yang 50 hanya berobat saja,” ia menjelaskan.

Berdasarkan semua itu, Irwan kembali menekankan, mungkin penelitian yang ada kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kurang aplikatif. Namun diakuinya, sekarang pemerintah telah berubah, dan mulai melakukan sainstifikasi jamu sejak tahun 2010. “Terutama untuk obat-obatan herbal. Karena kenyataannya sekarang ini di negara maju, orang yang sakit juga diberikan suplemen herbal. Misalnya yang stroke diberikan ginkgobiloba, kanker prostat diberikan serenoa dan sebagainya,” jelas Irwan.

 Soal hak paten, pihaknya juga tidak pernah mengurus. Irwan melihat masih banyak orang yang belum mampu berobat secara layak. Inilah perbedaan antara negara maju dengan negara berkembang, di mana di negara maju orang sudah lebih ter-cover dengan asuransi dan sebagainya. “Jadi kami hanya lakukan penelitian dan jika hasilnya bagus tentu dapat menjadi produk yang dapat dipasarkan. Tapi kalau orang ingin memanfaatkan isi kebunnya saja atau memetik langsung dari apa yang ada di halaman rumahnya, saya tentu tidak keberatan memberitahukan apa saja herbal yang baik digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan tertentu, dan berapa dosis yang sesuai,” jelas Irwan. (Kristiana Anissa/EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)