Krisis Global, Pan Brothers Justru Bangun Pabrik Baru

Ekonomi global masih dilanda ketidakpastian. Tak ada yang tahu betul kapan krisis di Amerika, Eropa, Asia akan segera berakhir. Industri garmen tak luput dari amukan badai global. Tapi, PT Pan Brothers Tbk justru terus menambah kapasitas produksinya.

“Tahun 2016, orderan di tangan sudah mencapai US$ 450 juta. Agak binung mau produksinya di mana. Oleh karena itu, kami berencana membuka 3 pabrik baru di Jawa Tengah karena cost-nya bisa dibilang rendah,” kata CEO Pan Brothers, Ludijanto Setijo.

Pabrik di Vietnam, lanjut dia, sudah mulai berjalan. Perseroan hanya bertindak sebagai pemberi order. Sehingga, investasinya hanya berupa software, sumber daya manusia, dan teknologi. Lain halnya dengan pembangunan pabrik di Indonesia yang bisa dilakukan dari nol.

“Nanti kalau di Indonesia sudah mencapai target, baru ekspansi ke sana. Sebenarnya ada 3 pabrik baru di Vietnam yang ingin dijual ke kami. Tapi, kami harus pelajari dulu. Investasi di luar negeri dari nol saya rasa tidak keburu,” katanya.

CEO Pan Brothers Ludijanto Setijo CEO Pan Brothers Ludijanto Setijo

Menurut dia, fokus perseroan saat ini adalah bukan mencari pasar baru, melainkan menambah kapasitas produksi. Saat ini, jumlah karyawan hanya sekitar 31 ribu orang dan perusahaan masih mencari tambahan hingga jumlahnya menjadi 50 ribu orang. Hanya saja, melatih karyawan tak semudah membalikkan tangan.

Apalagi, Pan Brothers tengah mencari karyawan untuk produk kelas atas (high end). Waktu pelatihan yang lama sekitar 1,5 tahun dibandingkan produk sederhana yang hanya 6 bulan adalah masalah tersendiri.

“Di Indonesia mencari karyawan yang terampil tidak gampang. Sekarang, di Boyolali, total karyawan kami 25 ribu. Saya mau tambah 5 ribu sulit sekali. Rasanya sudah habis, walau sudah menjaring lulusan baru,” katanya.

Saat ini, pesaing terberat adalah perusahaan garmen asal Vietnam. Investasi baru banyak bermunculan di sana setelah pemerintah setempat menyatakan ingin bergabung ke Trans Pacific Partnership (TPP). Investor dari Taiwan, Korea, berdatangan ke Negeri Vietnam Rose itu. Alhasil, negeri yang luasnya hanya sekitar 1/3 dari luas wilayah Indonesia itu mampu mencatat nilai ekspor garmen 3 kali lipat lebih besar.

“Mereka punya keunggulan di distribusi kain dan benang ada di satu lokasi. Jadi lebih cepat menunggu barang jadi. Kalau di Indonesia, kainnya didatangkan dari luar dulu baru diproduksi. Itu untuk yang high end. Kami impor 95% karena produk kain di Indonesia kurang bagus,” katanya. (Reportase: Rizky C. Septania)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)