Lion Air Gandeng CFM Bangun Pusat Perawatan Mesin Pesawat di Batam

Seperti yang dituturkan oleh Edward Sirait, Direktur Umum Lion Air, untuk menjawab tantangan menghadapi iklim Open Skies 2015 ada empat elemen substansial yang harus dipersiapkan, yakni pesawatnya itu sendiri, sumber daya manusia (SDM), pusat perawatan, serta bandaranya.

unnamed

Kaitannya dengan pesawat dan pusat perawatan, Lion Air baru saja secara resmi menunjuk CFM – sebuah perusahaan penyedia mesin pesawat komersil terkemuka asal Amerika Serikat (AS) sebagai mitra dalam hal pengadaan mesin pesawat dan pembangunan pusat perawatan mesin pesawat yang akan dipusatkan di Batam. Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan Material Support dan konsultasi MRO (maintenance, repair, and operations) yang berlangsung di Mandarin Oriental Hotel lalu.

Dipaparkan oleh Edward, rencananya pembangunan pusat perawatan mesin di Batam akan dilakukan di atas lahan seluas 28 hektar. Lokasi ini diplot sebagai titik sentral dari aktivitas perawatan mesin pesawat di Indonesia, dimana nantinya akan dibangun juga 6 hanggar, engine shop, avionic shop, wherehouse spareparts dan wheel break shop. Pada lahan tersebut, sekitar 3.5 hektar juga akan diproyeksikan sebagai pusat MRO.

Adapun selama ini, industri penerbangan Indonesia masih menggantungkan aktivitas perawatan mesinnya ke berbagai negara tetangga, seperti Singapura, tak terkecuali juga Lion Air. Bahkan tidak tanggung – tanggung kadang juga kirim engine ke Jerman.

“Dengan demikian apabila aktivitas perawatan mesin atau MRO dilakukan di Batam, maka akan memberikan efisiensi baik itu waktu dan biaya yang cukup tinggi. Tidak menutup kemungkinan juga engineer kami bisa mengatasi masalah overhaul,” tutur Edward.

Ia menganalogikan, penghematan yang akan terjadi adalah misalnya jika selama ini dengan mengirim engine ke Singapura atau Jerman membutuhkan waktu hingga 3.5 tahun. Namun apabila dikerjakan di Batam maka bisa memangkas sekitar seperempatnya dimana itu adalah proses pengirimannya. Dan apabila lebih dipercepat lagi, maka bisa lebih menghemat waktu hingga 50 persen.

Sejalan dengan hal tersebut, Romdani, selaku President Director of Batam Aerotechnic yang juga terlibat dalam pembangunan pusat perawatan mesin di Batam menambahkan, “dengan menggandeng CFM akan sangat mungkin bagi engineer kita untuk menyerap pengetahuan. Dengan demikian akan banyak tercipta skilled labour.”

Seperti yang sempat disinggung Edward, bahwa kesiapan untuk menghadapi Open Skies juga erat kaitannya dengan mempersiapkan SDM-nya. Pada kesempatan ini, Romdani menggaransi bahwa teknologi transfer antara CFM dengan para engineer Lion Air sangat mungkin terjadi. Dan dengan demikian untuk menutupi kekurangan sumber daya manusia, yakni dibutuhkannya 6000 tenaga kerja untuk teknik perawatan pesawat tidak lagi dirisaukan.

Adapun ekspektasi Edward, diharapkan ketika memasuki tahun 2022, MRO Indonesia secara keseluruhan dapat menampung hingga 1000 pesawat aero body.

“Oleh karena itu, rasanya tidak cukup apabila mengandalkan Batam saja. Nantinya akan ada juga di Manado dan Surabaya,” tambah Edward.

Sementara itu, bicara soal investasi pembangunan pusat perawatan mesin pesawat di Batam, ditaksir kebutuhan pendanaan untuk proyek ini mencapai hampir Rp6 triliun. Adapun seperti yang diutarakan Edward, pendanaan ini berasal dari berbagai sumber, seperti pinjaman (loan), dan investasi dari berbagai sumber dari luar negeri. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)