Mutu SDM Menjadi Prioritas Industri Syariah

Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) bekerja sama dengan MNRB Retakaful dan Actuarial Partners mengadakan konferensi internasional bertemakan Expanded Role of Actuaries – Balancing Policy Holder, Share Holder and Regulatory Expectations tanggal 14-15 Mei 2012 di Jakarta.

Konferensi internasional ini merupakan salah satu program AASI Bidang Hubungan Internasional di tahun 2012, yang bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai berbagai isu-isu penting yang dihadapi industri asuransi syariah. Acara ini akan menjadi tempat berbagi pengetahuan dan informasi mengenai perkembangan terkini, serta praktik terbaik pada produk asuransi konvensional maupun syariah.

Konferensi ini diadakan sebagai respons dari perkembangan industri asuransi syariah yang semakin pesat dan menuntut pemahaman lebih mendalam akan perubahan – perubahan yang terjadi agar para pemangku kepentingan, terutama pelaku industri, dapat menjawab tantangan sekaligus menangkap peluang untuk semakin mengembangkan industri syariah di Indonesia.

Isa Rachmatarwata, Kepala Biro Asuransi Bapepam-LK. mengatakan, Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia. Sudah sepatutnya kita memiliki peran yang lebih besar dalam kancah industri asuransi shariah di regional maupun dunia. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan upaya yang berkesinambungan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai asuransi shariah. “Kami harap konferensi bertaraf internasional ini dapat menjadi tonggak awal untuk menciptakan pelaku industri syariah yang lebih handal dan profesional serta membangun pemahaman masyarakat yang lebih baik mengenai asuransi shariah,” jelasnya.

M. Shaifie, Ketua Umum AASI, menambahkan, dengan perkembangan industri syariah yang begitu pesat di Indonesia, pembangunan dan peningkatkan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu prioritas utama bagi para pelaku industri. Selain itu perbaikan masalah operasional terutama kebijakan underwriting dan klaim yang terukur serta dapat dipertanggungjawabkan juga tak kalah penting untuk diperhatikan untuk memperkuat kredibilitas para pelaku industri asuransi syariah.

Pada kesempatan yang sama Ismail Mahbob, Presiden & CEO dari MNRB Retakaful menjelaskan, dengan pertumbuhan keuangan berbasis syariah di dalam ekosistem finansial global, asuransi syariah atau takaful, sebagai komponen pendukung, akan memiliki peranan yang semakin penting. Dengan terus membaiknya sektor mikro, Indonesia akan segera menjadi pasar utama untuk instrumen finansial syariah termasuk takaful. Mengingat industri ini masih sangat sensitif terhadap harga, pemahaman yang kuat akan aspek aktuaria serta masukan dari berbagai pihak memegang peranan penting dalam membangun industri asuransi syariah yang berkesinambungan.

Saat ini Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan industri asuransi syariah tercepat. Menurut data Bapepam-LK, total premi bruto yang dibukukan oleh industri asuransi syariah di Indonesia mencapai Rp 4,97 triliun pada 2011, tumbuh 10 kali lipat dibandingkan pada 2006 sebesar Rp 499 miliar. Secara istimewa, sistem asuransi syariah dinilai memiliki prospek bisnis yang menjanjikan, baik dilihat dari sistemnya maupun potensi pasar yang bisa digarap.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)