Nissan Ekspansi ke Luar Jawa

Total pasar industri otomotif menurun sepanjang tahun 2015 sekitar 15-20%. Nissan sendiri mencatat penurunan 17-18% pada 2015 dibanding tahun sebelumnya. Sungguh tahun yang berat untuk para pelaku bisnis otomotif.

“Pasarnya turun sehingga diskon bertahan di level yang cukup tinggi. Rupiah juga bergejolak dan bertahan di level yang cukup tinggi,” kata Presiden Direktur PT Nissan Motor Indonesia, Stephanus Ardianto.

Pasar otomotif menurun karena fundamental ekonomi terganggu karena Indonesia bergantung pada ekspor komoditas yang harganya terus merosot tajam. Pencairan anggaran pun lambat meskipun pemerintah telah berkomitmen mempercepat pembangunan infrastruktur.

“Sentimen negatif yang muncul yakni khawatir terjadi krisis. Sehingga, masyarakat menunda rencana membeli mobil baru,” katanya.

Beruntung, perseroan mampu meningkatkan efisiensi dengan mengurangi biaya-biaya yang tidak perlu. Sehingga, laba yang diperoleh meningkat sekitar 10% meski Stephanus tak bersedia merinci. Di tengah situasi nilai tukar rupiah yang melemah sepanjang tahun 2015, perseroan fokus menjaga cash flow.

“Jadi, antara operating cash ditambah capital injection kami. Dengan kurs seperti sekarang masih susah untuk mendapatkan untung,” katanya.

Stephanus Ardianto, Presiden Direktur PT Nissan Motor Indonesia, Stephanus Ardianto

Menurut dia, Datsun masih memberi kontribusi penjualan paling besar yaitu 55%. Rata-rata, terjual 2.700 unit mobil Datsun perbulan. Sehingga, total penjualan Datsun selama April-November sudah lebih dari 20.500 unit. Sementara, untuk Nissan sudah terjual 17.000 unit.

“2016, harapannya membaik meskipun pasarnya belum rebound. Kami perkirakan jika tahun ini, kami bisa menutup 1 juta mungkin tahun depan bisa 1.070.000, naik 5% di 2016,” kata dia.

Ia percaya pasar otomotif akan pulih sepenuhnya pada 2017 mendatang. Pengalaman krisis sebelumnya pada 2008, pemulihannya sangat cepat. Pada 2010-2013, pasar otomotif tumbuh 15% setiap tahun, di atas GDP yang hanya 7%. Jika mengikuti siklus ini, recovery diprediksi bisa lebih cepat terjadi.

Untuk itulah, perseroan fokus pada perbaikan kualitas jaringan. Termasuk, fokus melatih barisan tenaga penjual dan memperluas jaringan diler. Dalam situasi yang sulit seperti sekarang, kekuatan dan kualitas jaringan akan sangat menentukan.

Apalagi, tahun ini akan muncul model baru Nissan dan Datsun meski hanya minor change dan peremajaan. “Saat ini, kami punya 118 dealer. Tahun 2016, akan ditambah 10-15 diler lagi,” ujarnya.

Kedepannya, perseroan akan memperluas coverage di luar Pulau Jawa. Alasannya, total coverage masih 70%. Kedua, coverage di Pulau Jawa sudah cukup. Ketiga, Nissan agak ketinggalan di luar Pulau Jawa.

“Apalagi, dengan adanya Datsun yang customernya lebih entry level, pembelinya lebih banyak,” katanya. (Reportase: Maria Hudaibyah Azzahra)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)