Pabrik Baru L’Oréal, Gambaran Masa Depan Investasi Indonesia

Perusahaan kosmetika L’Oréal baru saja meresmikan pabrik barunya di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Rabu (7/11/2012). Pabrik terbesar L’Oréal di dunia ini pun dinilai sebagai gambaran positif dari masa depan investasi Indonesia.

Dalam acara peresmian pabrik L’Oréal ke-43 ini, Chatib Basri, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), menyatakan bahwa, “Ini adalah contoh dari smart investment yang mungkin kita bayangkan di masa depan.”

Seringkali sejumlah pihak mempertanyakan beberapa hal ketika investasi asing hadir di Tanah Air. Pertanyaan-pertanyaan itu, kata dia, yaitu apakah investasi yang muncul itu berorientasi kepada sumber daya alam, apakah investasi yang datang itu hanya berorientasi ke pasar domestik, dan apakah investasi yang muncul itu masih berorientasi kepada buruh murah atau kepada teknologi yang murah.

Lalu, Chatib mengatakan, sejumlah pertanyaan yang muncul dari para investor dalam sebuah forum investment board ini akhirnya terjawab dengan hadirnya pabrik baru L’Oréal di Indonesia. Menurut dia, investasi yang dilakukan L’Oréal merupakan sebuah ilustrasi dari sebuah kisah sukses. Ada sejumlah hal yang membuat Kepala BKPM ini menyatakan hal tersebut.

Pertama, orientasi produk L’Oréal adalah untuk ekspor. Sebanyak 70 persen dari produksi pabrik yang nilai investasinya Rp 1,25 triliun ini akan diekspor. Hanya 30 persen yang dipasarkan di dalam negeri. Kedua, penelitian dan pengembangan produk dilakukan di Tanah Air. Ketiga, perusahaan asal Perancis ini pun melakukan pelatihan kepada pekerjanya. Keempat, adanya kepedulian perusahaan terhadap lingkungan.

Menurut Chatib, kemampuan sebuah perusahaan  melakukan keempat hal tersebut secara bersamaan bukan perkara mudah. Oleh sebab itu, ketika L’Oréal bisa mencapainya, ia pun lantas menyebut pencapaian perusahaan tersebut sebagai kesuksesan. “Karena itu saya ingin menyampaikan bahwa peresmian pabrik L’Oréal ini sebuah gambaran atribut positif dari masa depan investasi Indonesia,” tegas dia.

Ia pun mengharapkan, kehadiran L’Oréal bakal menjadi daya tarik bagi investor asing lainnya untuk berinvestasi di Indonesia. Apalagi, kata Chatib, kelas menengah Indonesia diperkirakan akan mencapai 135 juta orang pada tahun 2030. “Jadi dalam masa yang akan datang kami berharap ada investasi yang akan datang dari Perancis dan negara Eropa lainnya yang meletakkan Indonesia sebagai basis produksinya,” tuturnya.

MS Hidayat, Menteri Perindustrian, pun berpandangan, kehadiran pabrik baru memang diperlukan. Karena kondisi saat ini, produk kosmetik impor kian membanjiri  pasar domestik. Memang, kata dia, industri kosmetika nasional terus mencatat pertumbuhan. Tahun 2011, penjualan dalam negeri sebesar Rp 8,5 triliun. Tahun ini, kata dia, penjualan mencapai Rp 9,76 triliun.

Hadirnya produk impor karena besarnya permintaan masyarakat Indonesia akan produk kosmetik ternyata belum bisa digarap sepenuhnya oleh industri nasional. Oleh sebab itu, menurut Hidayat, pelaku usaha kosmetika lainnya tidak gerah dengan kehadiran pabrik baru L’Oréal.

Bahkan, kata dia, asosiasi di bidang kosmetika beranggapan, melebarnya investasi L’Oréal adalah simbol dari keberhasilan Indonesia untuk menarik investasi di bidang kosmetika. Lagipula, setiap pengusaha mempunyai segmen pasar yang berbeda. “Dan mereka mengetahui bahwa pasar domestik dan internasional belum bisa digarap sepenuhnya oleh industri nasional. Jadi mereka welcome,” tandas Hidayat. (Ester Meryana)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)