Perhumas Gelar Konvensi untuk Transparansi PR

Penghargaan dari Perhumas dalam rangka KNH

Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-40, Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Indonesia menyelenggarakan Konvensi  Nasional Humas (KNH) 2012. Didorong oleh keprihatinan bahwa humas (public relation) sering harus berbohong untuk menjaga citra perusahaan, BPP Perhumas pun mengangkat tema “Reputasi dalam Transparansi: Menuju Indonesia Jujur dan Mandiri”. Transparansi yang dimaksud dapat dicapai melalui beberapa jalur, di antaranya pemasaran, teknologi informatika, dan manajemen perusahaan.

President Federation ASEAN Public Relations Organization, Shameem binti Abdul Djalil, menyoroti trend komunikasi dalam pemasaran masa kini. Pemasaran dan branding tradisional telah berganti menjadi komunikasi terpadu (integrated marketing communication). Dengan biaya lebih murah ketimbang pemasaran tradisional, komunikasi terpadu dilakukan dengan pendekatan The Cube 3 yang mengintegrasikan komunikasi perusahaan dengan humas, IT, media, dan sebagainya. “Sudah banyak perusahaan yang menerapkan pendekatan ini,” ungkap Shameem.

Peluang komunikasi korporat melalui internet pun tak boleh disia-siakan. Menurut prediksi Staf Ahli Kemenkominfo, Henry Subiakto, jumlah pengguna internet di Indonesia akan menyentuh angka 100 juta pada 2015. Sementara itu, periklanan konvensional semakin usang karena mahal dan kurang efektif dibanding media sosial. Meminjam konsep pemasaran, Henry mengemukakan bahwa 10% komunikasi ditambah 90% partisipasi publik dapat menghasilkan 100% kekuatan dalam pembentukan reputasi perusahaan. Henry menyimpulkan, reputasi perusahaan dibangun di atas 4 tiang, yakni perilaku, capaian (performance), komunikasi, dan kreativitas.

Akan tetapi dari sisi internal perusahaan, terjadi kesenjangan generasi (generation gap) antara 4 generasi yang berbeda jaman, yakni kaum tradisional, boomer, generasi X, dan milennial. Ketua Program Pascasarjana Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, mengungkapkan bahwa fenomena ini sedang melanda banyak perusahaan. Karyawan-karyawan muda seringkali tidak sepemikiran dengan senior mereka. Maka, upaya menjembatani kesenjangan generasi di suatu perusahaan merupakan tugas humas. “Terutama di perusahaan-perusahaan negara, ini tidak gampang. Bagaimana caranya? You think!” pungkas Rhenald di akhir presentasinya.

Ke depannya, KNH diharapkan berkontribusi membangun citra bisnis yang bersih di Indonesia. “Saya tidak ingin Indonesia terus-menerus dikenal sebagai negara korup. Tugas siapa lagi kalau bukan humas, untuk memperbaiki citra ini?” tanya Ketua Umum Perhumas, Prita Kemal Gani, diplomatis. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)