Produk Udang Indonesia Sangat Diminati Buyer di AS

Sebanyak 16 perusahaan yang bergerak dalam ekspor hasil laut dan olahannya, dengan didukung sepenuhnya oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mengikuti Seafood Expo North America (SENA) pada 16-18 Maret 2014 lalu, di Boston Amerika Serikat (AS). SENA ini adalah pameran makanan laut (seafood) terbesar di wilayah Amerika Utara. Tagline yang Indonesia usung dalam pameran ini adalah ‘Safe and Sustainable’, yang artinya aman dikonsumsi dan berkelanjutan.

Produksi UdangPerusahaan-perusahaan tersebut adalah PT Wirontono Baru, PT Benua Agri Sejahtera, PT Dharma Samudera, PT Alam Jaya, PT Central Proteina Prima, PT Bumi Menara Internusa, PT Bahari Biru Nusantara, PT Lautan Niaga Jaya, PT Medan Tropical Canning, PT Tuna Permata Rezeki, PT Sekar Bumi, PT Inti Lautan Fajar Abadi, PT Awindo Internasional, PT Indokom Samudera Persada, CV Pasific Harvest, dan CV Prima Indo Tuna. Selain ke-16 perusahaan tersebut, ada satu perusahaan lagi yang berpartisipasi secara mandiri yaitu PT Toba Surimi.

“Pameran di Boston AS adalah yang terbesar yang pernah kita ikuti. Total transaksi potensial yang bisa direalisasikan selama pameran tersebut mendekati US$ 49 juta, atau tepatnya US$ 48,925 juta. Mereka (buyer di AS) banyak yang mencari tuna, kakap merah (red snapper), octopus, dan udang (shrimp). Selain itu, yang diminati juga adalah tenggiri, marlin, barramundi, ribbon fish, kingfish, milkfish, leather jacket, grouper, dan value added shrimp,” jelas Saut P Hutagalung, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Saut menerangkan bahwa permintaan udang tetap tinggi dari para buyer di luar negeri, meskipun produksi udang itu hanya terjadi pada musim-musim tertentu saja. Walaupun perekonomian dunia sedang dalam kondisi kurang kondusif, angka volume permintaan terhadap produk udang dari Indonesia tetap di kisaran 560-570 ribu ton per tahun, namun harganya saja yang turun.

“Pasar AS akan bisa meningkat tahun ini. Menurut data BPS, volume ekspor (perikanan) kita ke AS pada 2013 bernilai US$ 1,4 miliar, atau 136,9 ribu ton. Dan 65% dari jumlah itu adalah udang, atau senilai hampir US$ 900 juta. Pada tahun ini diharapkan ekspor kita ke AS bisa naik menjadi US$ 1,7 miliar. Setelah udang, rajungan (kalengan) dan tuna juga nilai ekspornya tinggi ke AS, yakni masing-masing bernilai US$ 190 juta dan US$ 115 juta,” ungkapnya.

Dari semua produk perikanan yang diekspor ke AS, ujar Saut, rajungan adalah yang tertinggi nilai olahannya, karena produk itu sudah dikemas sampai ke retail pack. Sedangkan udang rata-rata masih dalam bentuk beku, paling hanya kepala dan kulitnya saja yang dibuang.

“Kalau yang sudah dalam retail pack itu yaitu yang sudah ada bumbunya, (untuk diolah) tinggal dimasukkan ke microwave saja, dan ini bisa dibeli langsung oleh konsumen ritel. Sedangkan yang beku hanya bisa ditawarkan ke restoran dan supermarket saja. Jadi yang mau kita dorong ke depan, sedapat mungkin produk perikanan Indonesia itu punya nilai tambah. Sekarang yang mau ditingkatkan adalah rajungan yang sudah diolah dan dikalengkan. Lalu, udang juga mau dinaikkan jumlahnya yang sudah diolah,” paparnya.

Berdasarkan data Food and Agricultural Organization (FAO) pada 2010, Indonesia menempati peringkat kedua dalam produksi perikanan tangkap di antara negara-negara lain di dunia, dengan nilai produksi 5.380.266 ton. Yang berada di peringkat pertama dan ketiga adalah Cina (15.418.967 ton) dan India (4.694.968 ton). Sementara dalam produksi perikanan budidaya, Indonesia masih menempati peringkat keempat di bawah Cina, India, dan Vietnam, dengan total produksi 2.304.828 ton.

“Walaupun dari segi produksi, kita selalu masuk lima besar volumenya di antara negara-negara lain di dunia, jumlah ekspor (perikanan) kita hanya berada pada nomor delapan. Ini disebabkan hanya 25% hasil perikanan kita yang diekspor, sedangkan 75%-nya untuk konsumsi dalam negeri,” imbuhnya.

Saut juga bilang bahwa Indonesia juga akan mengikuti pameran hasil laut dan olahannya yang terbesar di Eropa, pada 6-8 Mei 2014, di Brussels, Belgia. Dalam pameran di Brussels tersebut, pihak Indonesia akan menunjukkan cara penangkapan dan pengolahan tuna yang benar. Sebab volume produksi tuna masih sedikit, tapi permintaannya banyak.

“Kita pilih ikut pameran yang besar-besar atau utama, jadi ekspor kita bisa ditingkatkan di masa depan. Arah kita (KKP), mulai tahun depan, yaitu akan menggelar pameran internasional untuk hasil laut dan olahan dari Indonesia, di dalam negeri sendiri. Tapi pada akhir Oktober 2014 mendatang, di Bali, akan lebih dulu diadakan pameran internasional yang dilakukan pihak swasta. Dipilih waktu tersebut, karena sengaja ingin mendahului pameran sejenis yang sangat besar di Cina. Jadi diharapkan para buyer dari AS, Eropa, dan negara lainnya, akan pergi ke Bali dulu baru Cina,” terangnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)