Sampoerna School System Menjawab Kelangkaan Tenaga Kerja IT

Di era teknologi yang sudah semakin terintegrasi (era of integration) kebutuhan akan tenaga kerja untuk mengisi pos – pos di bidang IT (information Technology) semakin menjadi isu yang sangat vital. Sebagai contoh, pekerjaan di bidang data scientist / statistician, yang dewasa ini menjadi sangat penting seiring dengan maraknya permintaan perusahaan – perusahaan blue chip terhadap tenaga kerja ini, namun belum diimbangi dengan jumlah dan kualitas yang cukup.

sampoerna school systemMelihat fenomena tersebut, Sampoerna Foundation memperkenalkan Sampoerna School System, yakni sistem pendidikan terintegrasi yang menerapkan kurikulum internasional berbasis science, technology, engineering, dan math.

Pertimbangan ini bukan hanya mendasar pada lacking-nya ketersedian tenaga kerja berkualitas untuk data scientist saja, melainkan di bidang lain seperti software engineering, programmer, dan data engineer.

Berdasarkan pengamatan Richard Carpenter, Chief Operatinf Officer Sampoerna School System, saat ini perusahaan – perusahaan teknologi blue chip cenderung menyukai talent – talent yang berpredikat lulusan universitas global, seperti Australia, Amerika, dan Inggris. Menurutnya, itu bukan berarti bahwa talent – talent lokal tidak berkualitas, melainkan mereka sebetulnya memiliki potensi untuk bisa lebih kompetitif asalkan disupport dengan kendaraan yang benar, yakni kurikulum pendidikannya.

Bahkan, berdasarkan laporan Learning Curve Pearson 2014, Indonesia menempati peringkat dua terakhir dalam bidang matematika dan sains dari 65 negara yang termasuk dalam peringkat pendidikan global PISA.

Oleh karena itu, Sampoerna Foundation memiliki visi untuk menciptakan kurikulum yang berbasis kompetensi praktis, dengan dibawakan melalui bahasa Inggris. “Saat ini kurikulum yang ada cenderung mengajak siswa/i untuk menghafal, ketimbang berinovasi,” kata Nenny Soemawinata, Managing Director Putera Sampoerna Foundation. Adapun melaui sistem pendidikan ini siswa/i digembleng untuk lebih mengedepankan inovasi serta kreativitasnya.

Goenawan Susanto, CEO PT. IBM Indonesia menimpali bahwa saat ini dirinya sebenarnya lebih menyukai talent lokal, namun kelangkaan baik kualitas maupun kuantitas membuat perusahaannya cenderung memilih lulusan global yang memang cenderung lebih skilled dalam bidang teknologi. Namun tidak ditampikkan bahwa apabila ada talent lokal dengan requirement yang memenuhi, perusahaannya siap membayar mahal.

Adapun untuk kalangan masyarakat yang disasar oleh Sampoeran School System adalah umumnya berasal dari kalangan kelas menengah ke atas (middle up), yakni dengan kisaran biaya per tahun sebesar Rp 70 juta.

“Jadi dengan demikian dapat menjawab tantangan talent scarecity untuk bidang teknologi yang ada di Indonesia,” tukas Neny. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)