SCG Terus Pertimbangkan Peluang Investasi di Indonesia

Menginjak usianya yang ke-100 tahun, SCG (Siam Cement Group) memiliki visi untuk dapat menjadi pemimpin bisnis berkelanjutan di ASEAN dan berkomitmen untuk memberikan tata kelola terbaiknya dalam menjalankan operasi bisnis melalui pendekatan sustainable development untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan di Indonesia dan negara-negara ASEAN.

Kan Trakulhoon , Siam Cement Group, investasi Kan Trakulhoon

SCG didirikan di Thailand pada tahun 1913. Saat ini, SCG memiliki lima bisnis utama, yaitu SCGalleryG Chemicals, SCG Paper, SCG Cement, SCG Building Materials and SCG Distribution. SCG memiliki lebih dari 200 perusahaan dan 40.000 karyawan, dengan sekitar 6,000 karyawan di Indonesia. Di Indonesia sendiri, SCG telah beroperasi selama 17 tahun dan saat ini memiliki 20 perusahaan.

Jaringan SCG di ASEAN, tidak termasuk Thailand, terus mengalami pertumbuhan dengan kombinasi total aset sebesar Rp 17,389 triliun  atau setara USD 1.805 juta.  Nilai ini termasuk aset SCG di negara-negara strategis ASEAN seperti Indonesia, Vietnam, Filipina, Kamboja dan Myanmar.

Pada diskusi dengan media 27 Februari 2013 lalu, Mr. Chaovalit Ekabut, Vice PresidentFinance and Investment & CFO dari SCG, mengatakan, semenjak SCG mulai beroperasi pada tahun 1913, perusahaan ini telah bertekad untuk mengikuti prinsip sustainable development dengan menjalankan bisnis dalam keseimbangan antara lingkungan hidup, masyarakat, dan ekonomi dibawah prinsip tata kelola perusahaan.  “Di Indonesia, setelah SCG berinvestasi dalam sebuah perusahaan, kami mengalokasikan anggaran dan melakukan upaya terbaik dalam meningkatkan keamanan dan standar lingkungan yang baik pada pabrik kami serta kualitas kehidupan karyawan SCG. Kami juga ingin menjadi bagian dari komunitas dan menjadi perusahaan yang baik di Indonesia. Misi kami dalam waktu dekat adalah melanjutkan pengembangan bisnis di ASEAN dan berkontribusi pada pertumbuhan berkelanjutan di negara-negara ASEAN tempat kami beroperasi,” tutur Chaovalit.

Indonesia, Vietnam, dan Myanmar menjadi negara tujuan investasi dan pengembangan produk dan jasa bernilai tambah tinggi (High Velue-Added/HVA) dengan investasi senilai Rp 645 triliun atau setara USD 70 juta untuk riset dan pengembangan.

Total investasi SCG di Indonesia untuk tahun 2012 terhitung mencapai Rp 4,910 triliun (US 532 juta dollar). Investasi di tahun 2012 meliputi pabrik beton ringan baru (Greenfield) senilai Rp 393 miliar (US 41 juta dollar), akuisisi bisnis beton siap pakai (ready-mix concrete) senilai Rp 1,344 triliun (US 135 juta dollar), serta pabrik semen baru (Greenfield) di Jawa Barat yang memiliki kapasitas produksi sebesar 1,8 juta ton per tahun senilai Rp 3,173 triliun (US 356 juta dollar), yang akan dimulai pada pertengahan 2015.  “SCG memiliki visi untuk menjadi pemimpin bisnis yang berkelanjutan di ASEAN, dan Indonesia merupakan salah satu negara strategis tempat kami berfokus. Kami secara intensif melakukan investasi dalam berbagai jenis usaha di Indonesia selama periode 2011-2012, yang menjadikan Indonesia saat ini menduduki peringkat pertama dalam hal total aset bisnis SCG di negara-negara ASEAN selain Thailand. Total aset SCG di Indonesia terhitung kurang lebih mencapai Rp 9,464 triliun (US 983 juta dollar), menyumbangkan sebesar 55% dari total aset SCG di kawasan ASEAN. SCG melihat bahwa pasar Indonesia akan terus tumbuh dalam jangka waktu yang panjang. Kami juga akan terus mencari peluang investasi baru di Indonesia,” ujar Chaovalit.

Selain investasi bisnis, SCG juga berkontribusi untuk masyarakat Indonesia. Pada tahun 2012, SCG meluncurkan program ‘SCG Sharing the Dream di Indonesia. Program pengembangan masyarakat ini menyediakan beasiswa bagi siswa-siswi berprestasi yang memiliki catatan akademik diatas rata-rata, memiliki perilaku yang baik pada orang tua serta memiliki ambisi kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tahun lalu, program ini memberikan beasiswa iuran sekolah dan perlengkapan belajar serta seminar konsultasi pendidikan kepada 200 pelajar Indonesia. Hingga saat ini, program SCG Sharing the Dream telah memberikan lebih dari 5.000 beasiswa setiap tahunnya kepada pelajar di negara-negara ASEAN.

Dalam paparan kinerjanya untuk tahun 2012, Presiden dan CEO SCG Kan Trakulhoon mengumumkan laporan keuangan konsolidasi (unreviewed) SCG dan anak perusahaan untuk tahun fiskal 2012 dengan peningkatan pendapatan penjualan sebesar 11 persen atau senilai Rp 122,219 triliun (USD 13,115 juta) dibandingkan tahun sebelumnya.  Peningkatan tersebut tercapai berkat kenaikan harga produk dan pertumbuhan volume penjualan di seluruh bisnis SCG.

Adapun laba di tahun 2012 justru menurun 14 persen atau setara Rp 7,070 triliun (USD 759 juta) dibandingkan tahun fiskal sebelumnya.  Penurunan ini mencerminkan rendahnya margin bisnis bahan kimia, hilangnya inventarisasi di kuartal II 2012, dan penutupan pabrik milik Bangkok Synthetic Company Limited 9BST), perusahaan asosiasi SCG Chemicals.

Untuk kinerja bisnis perusahaan di wilayah operaional ASEAN (di luar Thailand), pendapatan penjualan untuk tahun 2012 mengalami pertumbuhan sebesar 39 persen atau setara Rp 9,358 triliun (USD 1,004 juta) dibandingkan tahun sebelumnya.  Pendapatan penjualan tersebut merupakan 8 persen dari total pendapatan penjualan SCG.  Indonesia sendiri memberikan kontribusi sekitar 55 persen dari total pendapatan SCG di luar Thailand.  Di Indonesia, menurut Chaovalit, diperkirakan SCG menguasai 20 persen market share pada produk ready mix concrete dan menempati peringkat ketiga di pasar untuk produk ceremix.

Dia menilai pasar Indonesia khususnya konsumsi semen terus bertumbuh.  “Dalam 5-6 tahun ke depan konsumsi masyarakat masih akan tumbuh, tapi jika kami ingin memperbesar bisnis kami di sini juga harus sesuai dengan skala pertumbuhan itu,” ujarnya.  Menurutnya, SCG masih mempelajari berbagai kemungkinan untuk menambah investasi di bidang lain di Indonesia.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)