Sinergi Microsoft dan Kemenparekraf Majukan Industri Kreatif Nasional

Microsoft Indonesia, hari ini, Rabu (12/3/2014), secara resmi memulai jalinan kerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang dilakukan oleh Ukus Kuswara, Sekretaris Jendral Kemenparekraf dan Andreas Diantoro, Presiden Direktur Microsoft Indonesia. Penandatanganan MoU ini disaksikan oleh Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Cesar Cernuda, Presiden Microsoft Asia Pacific.

microsoft indonesia kemenparekraf mari elka

“MoU ini strategis, memberi kesempatan pada Indonesia untuk meningkat kemampuan sumber daya manusia pariwisata dan ekonomi kreatif dalam menghadapi tantangan era digital yang makin mendominasi dunia. Kita punya banyak Orang Kreatif dashyat, dan mereka harus unggul dalam menghadapi persaingan di era digital,” kata Mari E Pangestu, seusai menyaksikan penandatanganan MoU.

Mari menuturkan, teknologi, inovasi, dan industri kreatif adalah katalis yang akan mendorong Indonesia untuk menjadi negara maju. Dia lalu mengatakan, "Kemitraan ini merupakan langkah besar ke depan untuk mewujudkannya, dan saya menghargai kelanjutan investasi Microsoft dalam mengembangkan industri kreatif di Indonesia,” ucap Mari.

Melalui kerja sama ini, Kemenparekraf akan mendukung program-program Microsoft mengenai perlindungan hak cipta untuk industri kreatif, khususnya untuk sub industri yang bersangkutan dengan pengembangan piranti lunak dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan Microsoft akan memberikan arahan dan masukan dalam menyusun Guiding Principles untuk perlindungan hak cipta untuk industri ekonomi kreatif.

Microsoft juga akan mendukung kementerian untuk mengedepankan program perlindungan hak cipta dan anti pemalsuan dari segi perlindungan konsumen, serta memberikan rangkaian pelatihan untuk pengawas ‘Sentra Kreatif’ kementerian dengan program dan kurikulum Digital Literacy Microsoft.

“Perlindungan hak cipta penting untuk menumbuhkan daya kreasi masyarakat. Pelanggaran terhadap HAKI akan membunuh daya kreasi dan pada akhirnya akan merugikan masyarakat secara keseluruhan, karena kita akan kehilangan proses dan produk kreatif. Dan pada ujungnya kita akan semakin tergantung pada dunia luar, dan kehilangan kemandirian," ujar Mari.

Kemenparekraf juga akan mendukung program-program Microsoft yang mendepankan pengembangan industri kreatif dan generasi muda Indonesia, antara lain program Youth Spark dan Citizenship. “Kami menyadari kemampuan dan sumber daya yang dimiliki masing-masing pihak dan kami setuju untuk mensinergikan kegiatan-kegiatan dari kedua program yang saling terkait dalam suatu kegiatan bersama agar dapat memaksimalkan peningkatan kualitas dan kapasitas industri pariwisata dan ekonomi kreatif,” jelasnya.

Sementara itu, Cesar Cernuda, Presiden Microsoft Asia Pacific menekankan komitmen Microsoft untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap perlindungan hak karya intelektual sebagai tulang punggung dari pertumbuhan industri ekonomi kreatif. “Microsoft mendasarkan usahanya pada penciptaan teknologi baru yang inovatif dan berguna dan mengkomersialisasikan mereka dalam bentuk fitur, produk, dan jasa yang meningkatkan produktivitas dan memberikan nilai bagi pelanggannya. Microsoft berinvestasi lebih dari US$ 9 miliar per tahun di riset dan pengembangan untuk memajukan upaya-upaya ini. Dan, salah satu pemegang terbesar kekayaan intelektual di dunia dengan lebih dari 11.200 paten di AS dan lebih dari 4.600 paten di negara-negara lain. Karena itu adalah kewajiban moral Microsoft untuk membantu Pemerintah Indonesia dan mengedukasi masyarakatnya untuk menghormati dan melindungi properti intelektual inovator dari negeri sendiri,” kata Cesar.

"Sejak penandatanganan nota kesepahaman dengan United in Diversity Forum untuk bersama-sama mengembangkan Teknologi dan Inovasi Pusat bernama UID Campus Creative pada Oktober 2013, Microsoft terus melanjutkan komitmennya dalam mengembangkan inovasi di Indonesia. Kami memahami bahwa tidak ada negara di dunia ini bisa maju dan membangun ekosistem yang kuat untuk inovator tanpa menghormati dan melindungi kekayaan intelektual," kata Andreas Diantoro, Presiden Direktur Microsoft Indonesia, menambahkan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)