Tingkat Kebahagiaan Bisa Diukur dari Ponsel

Bagi orang Indonesia, ponsel atau telepon genggam bukan lagi dipandang sebagai kebutuhan sekunder tapi sudah bermigrasi ke kebutuhan primer. Tak heran jika Ario Pratomo, Direktur Pengelola Director PT Unique Kargozine mengatakan, tingkat kebahagiaan seseorang bisa diukur dari keberadaan ponsel. Bagaimana caranya?.

Cara yang mudah adalah melihat kebiasaaan pengguna ponsel, misalnya saat masuk ke dalam mobil, yang dicari pasti colokan ponsel ketimbang menyalahkan mesin. Kedua, apabila ponsel tertinggal di rumah, maka si pengguna tak segan-segan untuk memutar balik kemudinya untuk mengambil ponsel atau jika tidak, pengguna akan merasa was-was dan tidak tenang karena tak menggenggam benda itu.

Kebahagiaan atau karakter seseorang juga bisa dilihat dari ponsel. Baterai yang hampir habis, sinyal yang lemah, hingga jaringan dari ponsel atau operator kadangkala membuat pengguna menunjukkan tampak aslinya. “Nomofibia di Indonesia sudah sangat tinggi, “ tukas pemilik blog sheggario.blogspot.com

Ario sendiri mengaku memiliki tiga ponsel, satu untuk kepentingan bisnis, dan lainnya untuk urusan pribadi. Saking gemarnya bermain ponsel, ia menyediakan dana khusus untuk membeli ponsel setiap bulan. “Hampir setiap bulan saya pasti beli ponsel atau gadget. Saya coba yang baru, kalau sudah puas, saya jual lagi,” ujarnya seraya tertawa.

Sebutan bagi orang-orang yang mengalami gangguan mental berupa takut berpisah dengan ponsel adalah nomofobia. Mengutip artikel dari Health24, Selasa (28/2/2012), ciri-ciri orang yang mengalami gangguan tersebut antara lain, serangan panik, pusing, kepala berputar-putar, sesak napas, mual, keringat dingin, denyut jantung meningkat, gemetar dan nyeri dada. (Ario Fajar/EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)