Angkasa Pura II Kaji Penerbitan Obligasi Rp 3 Triliun

(Kiri) Muhammad Awaluddin, Bos Angkasa Pura II dan (tengah) Andra Y. Agussalam, CFO Angkasa Pura II. (Foto : Vicky Rachman/SWA)

PT Angkasa Pura II (Persero) berencana menggalang dana dari obligasi senilai Rp 3 triliun yang nantinya dipergunakan sebagai modal kerja (capital expenditure) guna menyokong rencana bisnis di masa mendatang. “Dalam dua tahun ke depan, kami mempertimbangkan untuk menghimpun dana dari obligasi sebesar Rp 3 triliun,” ujar Andra Y. Agussalam, Direktur Keuangan Angkasa Pura II di Gedung Bursa Efek Indonesia.

Perseroan masih mengkaji besaran nilai emisi obligasi di tahun 2019 atau tahun 2020 lantaran mempertimbangkan beberapa variabel, antara lain kebutuhan dana serta perkembangan proyek pembangunan bandara atau revitalisasi terminal bandara.

Andra menyebutkan Angkasa Pura II (AP II) memiliki opsi untuk menerbitkan obligasi di semester I dan II tahun 2019. ”Namun, kami mencermati terlebih dahulu  perkembangan proyek di lapangan," sebut Andra.

Opsi menerbitkan obligasi ini merupakan respons AP II yang berhasil menghimpun dana senilai Rp 750 miliar dari Obligasi Berkelanjutan I Tahap I 2018 yang tercatat di BEI pada Kamis pekan ini. Pencatatan obligasi itu terbagi menjadi 2 seri yakni Seri A bernilai Rp 200 miliar bertenor 3 tahun dengan kisaran tingkat bunga sebesar 8,65% per tahun. Kemudian, Seri B senilai Rp 550 miliar bertenor 5 tahun dengan kisaran tingkat bunga tetap sebesar 8,95% per-tahun.

Bunga obligasi akan dibayarkan setiap 3 bulan sesuai dengan tanggal pembayaran masing-masing bunga obligasi. "Mulai tahun ini kita sudah melakukan penataan pengelolaan bandara, dan diharapkan hasil obligasi untuk pengembangan-pengembangan usaha Angkasa Pura II ke depan," kata Direktur Utama Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin.

Pencatatan obligasi ini dilakukan setelah AP II mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa keuangan (OJK) pada tanggal 5 Desember silam. Andra menambahkan dana hasil obligasi yang diperoleh perseroan setelah dikurangi biaya emisi akan dipergunakan untuk memaksimalkan pembangunan infrastruktur bandara yang dikelola AP II. Dalam aksi korporasi ini, perseroan menunjuk PT Bahana Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi.

Awaluddin menyebutkan, saat ini pihaknya mengelola 15 bandara dan di tahun depan sudah terdapat empat bandara baru yang masuk dalam rencana bisnis.  Perseroan mengalokasikan belanja modal sekitar Rp 11 triliun - 12 triliun pada 2019 untuk mendukung rencana pengembangan usaha kebandarudaraan, pemeliharaan infrastruktur, dan ketiga adalah pengembangan bisnis-bisnis baru yang memiliki potensi cukup besar.

Awaluddin menjelaskan, belanja modal itu  sekitar 60% untuk mengembangkan Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, seperti revitalisasi Terminal IC dan 2F di bandara tersebut. Selain menghimpun dana dari pasar modal, AP II berencana melebarkan sayap bisnisnya yang menargetkan pengelolaan bandara udara di Clark, Filipina. "Nilai konsesi di Clark itu senilai Rp 15 triliun dalam 25 tahun," ucap Awaluddin. Perseroan yang tergabung dalam konsorsium sedang mengikuti proses tender untuk mengelola dan membangun terminal di bandara Clark.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)