CGI Darajat Kembangkan Desa Wisata

Energi panas bumi adalah salah satu sumber energi terbarukan. Anak usaha Chevron Geothermal mengoperasikan dua proyek geothermal di Indonesia. Yakni, Chevron Geothermal Indonesia Ltd (CGI) yang mengelola proyek Darajat dan Chevron Geothermal Salak Ltd yang mengoperasikan proyek Salak. CGI Darajat yang mulai beroperasi sejak 1994 silam, menghasilkan energi panas bumi yang dimanfaatkan salah satunya untuk pembangkit listrik.

Manajer Tim Policy, Government & Public Affairs CGI Darajat, Deden M. Idhani, mengatakan, kapasitas produksi listrik dari panas bumi mencapai 271 megawatt (MW) per tahun. Kapasitas listrik sebesar itu bisa digunakan untuk menerangi 1,7 juta rumah dan berkontribusi dalam pasokan listrik untuk wilayah Jamali (Jawa, Madura, Bali).

Menurut dia, program efisiensi energi yang dilakukan mampu menekan penggunaan listrik yang jika dikonversi setara dengan penghematan listrik di 47 ribu rumah. Selain itu, pola 3R untuk penanganan limbah B3 telah menghasilkan rasio pengurangan limbah B3 hingga 22%.

chevron

CGI Darajat berusaha memandirikan masyarakat sekitar agar berwawasan lingkungan. Salah satunya dengan membangun sentra budidaya dan pengolahan jamur tiram sejak 2012 lalu. Masyarakat mendapat pelatihan budidaya jamur hingga mampu menghasilkan produk yang dihasilkan diberi nama Renjati (Rendang Jamur Tiram).

Anak usaha Chevron, produsen panas bumi terbesar di dunia itu, juga memberdayakan masyarakat dengan membangun Desa Wisata Ciburial. Suguhan atraksi wisata seperti musik tradisional, pencak silat, dan tari, melengkapi indahnya panorama alam di wilayah yang masih berada di wilayah CGI Darajat.

“Pemberdayaan masyarakat ini juga solusi agar masyarakat mengurangi aktivitas di lereng-lereng curam di sekitar WKP (wilayah kerja panas bumi). Mereka nekat membuka kebun sayuran di lahan yang kemiringan lerengnya berbahaya, bisa longsor,” kata Deden.

Sejak dibuka tahun 2012, pengunjung awalnya hanya sekitar 1.000 orang dengan total pendapatan hanya Rp 3 juta pertahun. Seiring berjalannya waktu, jumlah pengunjungnya telah mencapai 3.500 orang pertahun dengan pendapatan Rp 148 juta. Dari semula hanya dua kelompok masyarakat yang menyuguhkan atraksi wisata, kini sudah ada 6 kelompok. “Penjualan para UMKM binaan bisa mencapai Rp 190 juta hingga 2015,” katanya. (Reportase: Arie Liliyah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)