CITA Alokasikan Dana US$ 400 Juta Bangun Pabrik Alumina

Paparan Publik CITA di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2020. (Foto : Vicky Rachman/SWA).

PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) memproyeksikan pendapatan di kuartal II/2020 senilai Rp 2,6 triliun. Angka itu berpotensi tumbuh sebesar 104,72% dari Rp 1,27 triliun di kuartal I/2020. Pada periode yang sama ini, laba bersih diestimasikan mencapai Rp 480 miliar, lebih tinggi dari Rp 289,9 miliar. “Ini estimasi pendapatan dan laba bersih yang akan kami umumkan dalam waktu dekat ini,” ujar Yusak Lumba Pardede, Direktur Cita Mineral Investindo di Jakarta (30/7/2020).

Perusahaan tambang logam yang sahamnya berkode CITA ini optimistis produksi bauksit atau metallurgical grade bauxite (MGB) di tahun ini berkisar 10,2 juta ton hingga 11 juta ton. Yusak menyampaikan dengan berlanjutnya pembangunan tahap kedua yang dikelola PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) memperoleh tambahan kuota ekspor sekitar 4 juta ton per tahun. WHW adalah anak perusahaan CITA.

Kondisi ini membuka peluang bagi CITA untuk meningkatkan kapasitas produksi bauksit sampai dengan 10 juta ton per tahun. Sekitar 8,3 juta ton ditujukan untuk penjualan ekspor MGB yang diharapkan bisa berlanjut sampai dengan tahun 2023 dalam bentuk MGB, dan sisanya sekitar 1,7 juta ton dialokasikan untuk menyuplai MGB untuk dijadikan alumina/smelter grade alumina (SGA) oleh WHW.

CITA, emiten di bidang pertambangan bauksit dan produsen SGA pertama di Indonesia melalui WHW itu, mengekspor alumina sebesar 70-80% dari jumlah total produksi ke Tiongkok. Sisanya diekspor ke India, Malaysia, dan domestik yaitu ke PT Indonesia Asaham Aluminium (Inalum). “Kami sudah menandatangani enam kontrak dengan Inalum, tiga kontrak dengan Inalum sudah kami selesaikan,” ucap Hidayat Sugiarto, Direktur HMW menambahkan. Hidayat menyebutkan HMW menjajaki ekspor alumina ke Uni Eropa di masa mendatang.

Laju bisnis CITA diyakini perseroan akan tumbuh lantaran bauksit dan alumina merupakan bagian dari komponen kendaraan listrik. Di Indonesia, menurut Hidayat, permintaan kedua komoditas ini akan tinggi seiring dengan program pemerintah untuk menggenjot produksi kendaraan listrik.

Salah satu rencana bisnis perseroan untuk mengantisipasi tingginya permintaan komponen mobil listrik adalah mendirikan pabrik pemurnian alumina tahap kedua dengan kapasitas produksi 1 juta ton. “Pabrik ini yang diperkirakan selesai di tahun tahun 2021, investasinya senilai US$ 400 juta," ucap Yusak. Apabila pabrik ini sudah beroperasi maka total kapasitas produksi WHW akan bertambah menjadi 2 juta ton per tahun.

Dengan adanya relaksasi ekspor MGB sampai dengan tahun 2023 dan target penyelesaian pabrik WHW tahap kedua itu maka CITA menargetkan performa bisnis ke depannya Sebagai informasi, CITA melalui entitas asosiasi WHW menjadi satu-satunya produsen SGA di Indonesia yang memasoknya ke Inalum. “Di tahun 2020, WHW memiliki enam kontrak supply SGA kepada Inalum dengan total kontrak sebesar 180 ribu metrik ton. Hal ini dilakukan untuk menambah pasokan bahan baku dan mengurangi impor bagi kebutuhan industri dalam negeri,” ujar Yusak.

Penjualan CITA pada kuartal I-2020 sebesar Rp 1,276 triliun, naik sebesar 42,67% dibandingkan pada periode yang sama di tahun 2019 yang mencapai sebesar Rp 894,7 miliar. Laba bersih terkoreksi sebesar 12,5% atau menjadi Rp 289,9 miliar dari Rp 331,5 miliar di periode yang sama pada tahun sebelumnya. Harga saham CITA pada Kamis pekan ini turun 0,50%, menjadi Rp 1.990 dari Rp 2.000 di perdagangan sehari sebelumnya.

Editor : Eva Martha rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)