Essenza Perluas Lini Bisnis ke Perhotelan dan Properti

Aktivitas di pabrik PT Intikeramik Alamsari Industri, produsen keramik Essenza.

Perusahaan holding pemegang merek dagang keramik “Essenza”, PT Intikeramik Alamasri Industri (IKAI), perluas lini bisnisnya ke perhotelan dan properti. Direktur Utama IKAI Teuku Johas Raffli menuturkan, perluasan bisnis ke perhotelan dan properti, selain untuk menyerap produksi keramik “Essenza” juga dimaksudkan sebagai recurring income bagi bisnis IKAI. “Kami juga akan mendapat kenaikan NAV (Net Asset Value) atau kenaikan dari pertumbuhan dari nilai aset itu sendiri,” tuturnya. 

Siklus bisnis perhotelan berbeda dari industri keramik sebagai core bisnis IKAI sehingga berimbas positif terhadap keuangan emiten secara keseluruhan termasuk membuka peluang bisnis lain. Dia menjelaskan bisnis hotel dan keramik memiliki siklus yang berbeda sehingga justru saling mendukung neraca keuangan emiten.

Bisnis perhotelan akan mencapai puncak pada Desember, Januari maupun hari-hari besar, sebaliknya pada waktu-waktu tersebut industri keramik mengalami penurunan penjualan.

Selain mengandalkan penyerapan di lingkup usahanya, untuk memperluas pasar, IKAI juga akan menjalin kerjasama dengan mitra distribusi untuk menjangkau skala nasional.Pertumbuhan ekonomi, iklim politik dan keamanan yang semakin membaik, mendorong perusahaan optimis untuk terus melakukan ekspansi. Dengan berinvestasi di bisnis perhotelan IKAI akan memperleh pendapatan rutin yang stabil. Selain itu, IKAI menargetkan akan mendapatkan laba dari pertumbuhan aset sendiri sehingga portofolio IKAI akan semakin besar. Tahun ini perusahaan yang pernah berjaya memasarkan  produksi poerselain dan ubin dengan merek Essenza ke pasar domestik dan internasional  berencana akan membeli 3-4 hotel dengan nilai dikisaran nilai investasi harga Rp 500 miliar.

Potensi tersebut menjadi dasar bagi IKAI untuk terus memperbesar portofolio perhotelan pada kelas hotel bintang tiga hingga bintang empat. Ditargetkan setiap tahun IKAI akan membeli tiga hingga empat hotel dengan nilai investasi sedikitnya Rp500 miliar.

“Kami memproyeksikan pada tahun 2024, seharusnya posisi aset IKAI akan berada pada posisi Rp 5 triliun. Hal ini tidak lepas dari sisi aset seperti tanah dan bangunan yang sudah pasti setiap tahun akan naik,” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, kenaikan pendapatan operasional juga akan diperoleh dari operasional hotel. Sehingga untuk mencapai target tersebut dibutuhkan keahlian dan fokus mengelola portofolio berupa hotel sebagai industri jasa.

Meski demikian, diversifikasi usaha IKAI tidak akan meninggalkan usaha keramik yang pernah berekspasi hingga ke lebih 30 negara. “Untuk pasar dalam negeri kami akan fokus pada pasar keramik high end sehingga tidak perlu bersaing dengan keramik asal China yang dijual murah,” ujar Yohas.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)