Ethica Resmikan Pabrik Bernilai Rp1 Triliun di Jababeka

Indrawati Taurus, Presiden Direktur PT Ethica Industri Farmasi (kedua dari kiri) dan Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek (Foto: Anastasia/SWA).

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila Moeloek, meresmikan pabrik baru PT Ethica Industri Farmasi di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat. Perusahaan ini merupakan hasil joint venture antara perusahaan farmasi global Fresenius Kabi asal German dan Soho Global Health.

Investasi sebesar Rp1 triliun digelontorkan guna pendirian pabrik diatas lahan seluas 4,3 hektare dan teknologi guna proses produksi. Nantinya, pabrik ini akan memproduksi 20 jenis obat injeksi dalam bentuk ampul dan vial melalui teknologi antiseptic dan sterilisasi akhir.

Gerrit Steen, Fresenius Kabi Board Member & President Region Asia, menjelaskan, pabrik yang telah dibangun ini akan dapat menyediakan lebih banyak lagi obat injeksi bagi penderita penyakit kritis dan ronis bagi masyarakat Indonesia. “Produk-produk ini nantinya tidak hanya akan memenuhi kebutuhan program Jaminan Kesehatan Nasional, tapi juga negara-negara di Asia dan Australia. Hal ini sejalan dengan instruksi pemerintah untuk mengembangkan industri farmasi dan alat kesehatan di Indonesia,” kata Gerrit.

Lebih lanjut, Gerrit menilai Indonesia memiliki iklim investasi industri farmasi yang baik, karena dipicu oleh membludaknya jumlah penduduk dan naiknya indutri farmasi nasional sebesar 10% dibanding tahun lalu. Selain itu, mengacu pada data World Bank, Indonesia mengalami lonjakan yang signifikan, yaitu naik 34 peringkat dalam waktu 2 tahun atau berada pada posisi 72 dalam hal kemudahan berbisnis. "Fakta ini sangat luar biasa untuk kami, ini merupakan hasil dari kebijakan taktis yang dilakukan pemerintah. Hal tersebutlah yang mendasari kami untuk menanamkan investasi di sini,” ujarnya.

Sementara itu, Indrawati Taurus, Presiden Direktur PT Ethica Industri Farmasi, mengatakan, pihaknya akan memproduksi obat injeksi untuk kebutuhan program Jaminan Kesehatan Nasional. Teknologi mutakhir yang digunakan akan dapat menghasilkan obat berstandar internasional sekaligus terjangkau. “Kami mendukung program pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi produk farmasi di pasar Asia dan juga ikut berkontribusi untuk perkembangan industri obat injeksi di Indonesia yang rata-rata tumbuh sebesar 11% per tahun,” kata Indrawati.

Diresmikannya pabrik ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah produksi menjadi 3 kali lipat atau 130 juta ampul per tahunnya. Utamanya untuk dapat memenuhi program JKN milik pemerintah. Selain itu, pihaknya juga menargetkan dapat melahirkan 40 jenis obat injeksi baru alias menjadi 60 jenis obat yang dapat dihasilkan dalam 3 tahun mendatang.

Ke depan, Indrawati membidik negara-negara kawasan ASEAN sebagai tujuan ekspor. “Dengan adanya inovasi dan penamban jumlah produksi, kami berencana melakukan ekspor ke Hongkong, Korea Selatan, Filipina, singapura, Thailand, Taiwan, Vietnam, dan Australia,” ujarnya.

Masih di tempat yang sama, Menteri Kesehatan, Nina Moeloek, menyatakan, saat ini ada 230 industri farmasi yang menyediakan kebutuhan obat nasional, dan harapanya mereka dapat memberikan peran yang lebih besar lagi dalam penyediaan obat. Hal ini mengingat target pemerintah yang mewajibkan seluruh masyarakat untuk mengikuti program JKN pada 2019 mendatang. Besarnya populasi, berimplikasi pada meningkatnya permintaan atas obat, sehingga pihaknya mendorong industri untuk membuat banyak obat yang terjangkau untuk memenuhi kebutuhan nasional.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)