Mario Minardi di Tangan Generasi Ketiga

FullSizeRender (3)

Di tangan Handiman Ali, Presiden Direktur PT Mario Minardi Indonesia, ia membuat beberapa inovasi yang membuat merek sepatu premium Mario Minardi tampil lebih segar. Salah satu inovasinya adalah membuka flagship store pertama di mal Kota Kasablanka di 2012. Gerai ke-2 dibuka di mal Lotte Shopping Avenue, Jakarta Selatan.

Yang berbeda dari flagship store yang ke-2 ini adalah tempatnya lebih luas, sekitar 170 m2 dan mengusung konsep one stop shopping. Selain sepatu, di toko kedua ini, Mario Minardi menggandeng The Cufflink store dan Quinton Windsor untuk menyediakan busana pria. Juga, Infoot 3D scanner. Pertimbangannya, mayoritas ukuran kaki manusia tidak sama antara kaki kiri dan kaki kanan, dengan 3D scanner ini, konsumen bisa mendapatkan sepatu yang benar-benar sesuai dengan ukuran kaki kanan dan kiri.

“Lotte Shopping Avenue kami pilih karena lokasinya yang prestigious. Di sini, koleksi yang kami hadirkan lebih lengkap. Kami hadirkan kemeja dan juga 3D scanner. Kami buat toko ini sebagai one stop shopping buat pelanggan kami,” jelasnya.

Banyak yang mengira Mario Minardi adalah merek sepatu dari Italia karena potongan yang rapi, jahitan halus, dan model elegan, namun Mario Minardi sebenarnya adah merek lokal. Tepatnya, ini adalah merek Indonesia yang terdaftar di Italia dan merupakan pelopor produsen sepatu yang mengimpor mesin, material, serta teknologi pembuatan sepatu dari negara asal pizza tersebut.

Didirikan pertama kali di tahun 1982 oleh kakek Handiman, kini Mario Minardi dipegang oleh generasi ketiga. “Sebagai generasi ketiga, beberapa hal yang saya lakukan untuk membesarkan Mario Minardi adalah terus berinovasi, terus berekspansi, dan lebih banyak bekerja sama dengan pihak lain. Salah satunya dengan menghadirkan 3D scanner dan bekerja sama dengan The Cufflinkstore,” ujarnya.

Meski bahan baku 80% diimpor dari Italia dan Amerika, lisensi dari Italia, register di Italia tapi manufaktur dan industri ada di Jakarta. Pabrik yang berlokasi di Kuningan, Jakarta Selatan ini memilki kapasitas produksi 12 ribu pasang sepatu perbulannya. 80% hasil produksi sepau diekspor ke Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang dan saat ini sedang menjajaki pasar Vietnam. Di pabrik ini, Mario Minardi juga membuat sepatu untuk 2 brand internasional, yakni Black Stone dan Bexley.

Salah satu keunggulan Mario Minardi adalah melayani pemesanan sepatu made-to-order atau Bespoke shoes di bawah merek The Gentlemen’s Wardrobe (TGW) untuk para pria yang menginginkan kepuasan tersendiri dengan memesan desain yang khusus dibuat untuk mereka dan dengan melalui proses pengukuran setiap kaki secara detail.

Pelanggan yang memesan Bespoke shoes dapat memilih material, sol, insole, dan warna sesuai dengan keinginan dan bisa meng-engraved inisial nama di sepatu. econd line kedua Mario Minardi, 1983 yang mengincar segmen anak muda menghadirkan model-model yang sesuai dengan anak muda seperti sneakers dan boots.

Selain sepatu, Mario Minardi juga menyuguhkan ikat pinggang, tas, dan dompet yang terbuat dari kulit. Saat ini, kebanyakan model Mario Minardi diperuntukkan untuk pria namun, mulai di tahun 2015 Mario Minardi menyediakan sepatu untuk perempuan. Meskipun model sepatu untuk perempuan masih di bawah 10% , tahun ini Mario Minardi akan menambah lebih dari 25 model untuk sepatu perempuan.

Harga sepasang sepatu Mario Minardi berkisar antara Rp1-5 juta. Untuk Bespoke dimulai dari harga Rp 3,5 juta. Produk ini ada juga di beberapa departemen store seperti Seibu, Sogo, Sarinah, dan Galaries Lafayette.

Selain di Jakarta, Mario Minardi bisa ditemui di Surabaya, Medan, Bali, Bandung, dan Samarinda. Tahun ini, Mario Minardi akan membuka satu toko baru di Jakarta. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)