Panca Mitra Incar Dana IPO RP 1 Triliun

Martinus Soesilo, Presiden Direktur PT Panca Mitra Multiperdana. (Foto : Vicky Rachman/SWA)

PT Panca Mitra Multiperdana (PMMP) memproyeksikan perolehan dana dari penawaran saham perdana atau IPO (initial public offering) sebesar Rp 1 triliun.

Martinus Soesilo, Presiden Direktur PMMP, mengatakan, target dana IPO ini sedang difinalisasi yang nilainya akan diumumkan lebih rinci pada bulan depan. “Kurang lebih Rp 1 triliun, tapi kami akan mengumumkan nilainya saat public expose di Jakarta pada bulan depan,” ujar Martinus di pabrik PMMP, Situbondo, Jawa Timur, pada Minggu (18/3/2018).

Perusahaan eksportir udang dari Situbondo, Jawa Timur, ini berencana melaksanakan IPO di Bursa Efek Indonesia pada Mei atau Juni tahun ini. Rencananya, perseroan akan  menggunakan dana IPO untuk modal kerja sebesar 80% dan belanja modal (capital expenditure) sebesar 20%.

PMMP yang didirikan pada 2004 oleh Soesilo Soebardjo (Komisaris PMMP) ini adalah eksportir udang jenis vannamei dan black tiger (udang windu). “Tahun lalu, kami mengekspor udang sebanyak 10.167 ton. Tahun ini kami menargetkan ekspor naik 2 kali lipat, sekitar 20 ribu ton,” ucap Soesilo. Volume ekspor di tahun lalu itu tumbuh sebesar 5,15% dari 9.669 ton di tahun 2016. Manajemen perseroan mengklaim PMMP merupakan salah satu dari tiga besar eksportir udang di Indonesia.

Martinus menambahkan, negara tujuan ekspor yang paling banyak menyerap udang milik perseroan adalah Amerika Serikat, yakni sekitar 70%. Sisanya diekspor ke Puerto Riko, Jerman, Hong Kong, Singapura dan Jepang (20%). Mayoritas udang yang diekspor perseroan ke negara-negara tersebut adalah udang mentah.

Rinciannya, ekspor udang vannamei sebanyak 7.432 ton dan udang windu 2.224 ton. Sedangkan, porsi udang olahan sebesar 511 ton, atau 5% dari jumlah total ekspor di tahun lalu. Porsi jenis udang yang diekspor pada tahun ini tidak jauh berbeda dari tahun lalu. Perseroan belum berancang-ancang menambah negara tujuan ekspor lantaran ingin memperkuat pasar ekspor di negara tersebut. "Merek produk kami adalah Leader dan kami juga mengekspor untuk merek private label-nya konsumen," sebut Martinus

Tren permintaan ekspor yang grafiknya meningkat itu direspons perseroan dengan membangun 3 pabrik selama periode 2015-2017. Pembangunan pabrik ini menambah kapasitas produksi. Menurut Soesilo, nilai investasi di salah satu pabrik yang baru dibangun itu menghabiskan dana sekitar US$ 20 juta. “Saya yang merancang desain dan konstruksi bangunan pabrik ini karena saya berpengalaman di industri udang sejak tahun 1984. Jadi saya mengetahui persis rancangan bangunannya,” jelas Soesilo yang pernah berkarier sebagai kepala produksi dan kepala pabrik di salah satu perusahaan agri-food terbesar di Indonesia sejak tahun 1984 hingga awal 2000-an.

Lebih lanjut, kakek dari 2 cucu ini menyebutkan pabrik PMMP di Situbondo sebanyak 4 unit yang menempati lahan seluas 15 ha dan pabrik di Nunukan, Kalimantan Utara, sebanyak 2 unit. Jadi, jumlah pabrik PMMP ini 6 unit. Lalu, pabrik di Situbondo memiliki 16 cold storage (ruang penyimpanan) yang bersuhu minus 20 derajat dan pabrik Nunukan memiliki 5 cold storage. Perseroan memiliki anak usaha, PT Tri Mitra Makmur, yang mengelola pabrik di Nunukan.

Pengolahan udang di pabrik Situbondo. (Foto : Vicky Rachman/SWA).

Sertifikasi Internasional

Udang dari Nunukan dikirim ke pabrik Situbondo untuk diolah dan dikemas sesuai standar yang ditetapkan negara tujuan ekspor. Martinus mengatakan,  pihaknya telah mendapat sertifikasi internasional, Best Aquaculture Practices (BAP) bintang 4 atau kategori tertinggi yang memudahkan produk perseroan menembus Amerika Serikat dan negara-negara lainnya. “Syarat yang diajukan negara-seperti Amerika Serikat itu sangat tinggi. Kami bersyukur telah memperoleh sertifikasi BAP bintang 4,” jelas pria kelahiran 34 tahun silam ini.

Sertifikasi merupakan syarat yang diajukan para importir, misalnya Walmart, perusahaan ritel di Amerika Serikat. Perusahaan ini sejak tahun 2005 mengekspor udang ke Walmart. Sedangkan ekspor ke Jepang salah satunya mengirim ke Marubeni. “Dalam waktu dekat ini, Marubeni yang mengimpor udang dari kami bertemu manajemen Seven Eleven, Jepang, di pabrik Situbondo untuk menjajaki ekspor udang,” ungkap Soesilo. PMMP mengekspor udang ke Marubeni untuk didistribusikan ke beberapa perusahaan di Jepang. Nantinya, pasokan udang untuk Seven Eleven di Jepang akan didistribusikan oleh Marubeni.

Adapun PMMP mendapat pasokan udang dari penambak udang di Medan, Makassar, Banyuwangi, Situbondo dan Probolinggo. “Kami tidak memiliki tambak, kami bermitra dengan penambak yang kualitasnya sudah disertifikasi internasional dan sesuai standar,” sebut Martinus. Beberapa tambak telah mendapat sertifikasi BAP. Perseroan di tahun lalu, lanjut Martinus, telah menggelontorkan dana sebesar US$ 78 ribu untuk membiayai sertifikasi tambak milik para mitranya. Tujuan sertifikasi BAP adalah meningkatkan kualitas udang dan memperlancar pasokan bahan baku ke pabrik PMMP.

 

www.swa.co.id

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)