Pertamina Investasi US$ 195 Miliar Hingga 2030

PT Pertamina (Persero) mencanangkan 5 pilar untuk 2030 mendatang, yaitu pengembangan sektor hulu, efisiensi di semua lini, peningkatan kapasitas kilang & petrokimia, pengembangan infrastruktur pemasaran, serta perbaikan struktur keuangan. Menurut CFO Pertamina, Arief Budiman, ada gap pasokan minyak mencapai 1,9 juta barel perhari pada 2030 mendatang. Produksi seluruh Indonesia saat ini hanya 700 ribu barel perhari. Itu artinya, dalam 15 tahun ke depan investasi untuk meningkatkan produksi harus dinaikan 3 kali lipat yang menelan dana hingga US$ 195 miliar. “Sekitar 15% dibiayai dari dana internal,” kata dia.

Menurut dia, strategi untuk mencapainya pertama, adalah pengembangan dari hulu ke hilir. Dia percaya ketahanan energi nasional ada di sektor hulu. Upaya perseroan memperbesar kapasitas kilang akan sia-sia kalau sektor hulu, alias produksinya tak mampu memenuhi.

“Kami masih impor 75% dari 1,5 juta barel yang ada sekarang. Perhitungannya itu setengahnya impor dari setengah yang kami proses. Namun, BBM itu barang impor yang tidak mahal,” ujar eks Presiden Direktur di PT McKinsey Indonesia ini.

arief budiman cfo pertamina CFO Pertamina, Arief Budiman

Dia menjelaskan, Pertamina akan mengoptimalkan investasi dan melakukan kerjasama dengan banyak pihak. Model skema bisnis yang dipilih adalah Build- Operate -Own (BOO) dan Build-Operate-Transfer. Sebelumnya, Pertamina yang sepenuhnya menanggung, saat ini berubah mulai ada pentahapan.

“Misalnya, investasi untuk 1 kilang membutuhkan US$ 5 miliar, kini kami pisah menjadi setengahnya. Memang lebih lama, namun dalam waktu 3 tahun kami sudah mulai mendapat uang lebih banyak,” kata dia.

Arief menambahkan, pengembangan sektor hilir juga mendesak dilakukan. Misalnya, perbaikan infrastruktur pemasaran seperti terminal, depot, SPBU. Meski begitu, dana investasinya tidak sebesar penguatan di sektor hulu. Meski harga minyak masih bertahan di level terendah, Pertamina membutuhkan kepastian sumbernya.

“Kami akan melakukan pemrograman di hulu. Kami baru dapat proyek Mahakam untuk 2018. Lalu, pengembangan ekspansi internasional. Kami sudah 15% ekspansi ke internasional dan akan ditambah lagi. Tahun ini, masih di hilir dan 15 tahun ke depan akan ke hulu,” katanya.

Dia menambahkan, Pertamina juga terus melakukan konsolidasi dan restrukturisasi anak-anak perusahaan yang mencapai 22 perusahaan. Nah, ke-22 perusahaan ini juga punya 132 anak usaha (cucu). Beberapa perusahaan sudah dalam proses restrukturisasi. Untuk memudahkan proses, ia berkomunikasi secara intensif dengan CFO dari 22 anak perusahaan.

“Kami punya berbagai forum khusus dan di sana kami melihat delivery apa saja yang sudah mereka lakukan, disebutnya back to project. Apa saja yang sudah dilakukan di 2015 dan targetnya di 2016. Apa saja produk yang sudah dihasilkan,” kata dia. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)