Tower Bersama Infrastructure Bersiap Amankan Operasional dan Layani Kenaikan Pesanan

Helmy Yusman Santoso, Direktur Keuangan TBI.
Helmy Yusman Santoso, Direktur Keuangan TBI.

Datangnya pandemi Covid-19 boleh dibilang tidak mengganggu sektor bisnis telekomunikasi, termasuk penyediaan infrastrukturnya. Malah, secara umum justru mendorong bisnis ini. Maklumlah, adanya pandemi mendorong orang menggunakan lebih banyak layanan komunikasi digital, baik untuk urusan bisnis maupun pekerjaan. Apalagi, dengan adanya tren working from home (WFH) dan online learning. Karena itu, keandalan infrastruktur telekomunikasi memegang peran penting.

Salah satu pemain penting di bisnis penyediaan infrastruktur telekomunikasi di Tanah Air adalah PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBI, kode bursa: TBIG). Jasanya adalah penempatan BTS (base transceiver station) para operator telekomunikasi di menara-menara milik TBI. “Kami beruntung bergerak di bidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi ini,” kata Helmy Yusman Santoso, Direktur Keuangan TBI.

Menurut Helmy, adanya kebijakan WFH, online learning, dan online meeting,telah meningkatkan permintaan data ke kalangan operator telekomunikasi. Hal ini meningkatkan permintaan kebutuhan titik lokasi penempatan BTS. Alhasil, katanya, permintaan kolokasi BTS dan pembangunan menara baru pun meningkat.

Per 30 Juni 2020, TBI memiliki 15.893 site telekomunikasi. Site telekomunikasi miliknya ini terdiri dari 15.772 menara telekomunikasi dan 121 jaringan DAS (Distributed Antenna System). Dengan angka total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 30.918, rasio kolokasi (tenancy ratio) perusahaan infrastruktur ini menjadi 1,96, naik dari 1,85 di akhir 2019.

Yang juga membuat TBI aman dari dampak pandemi, pendapatannya secara eksklusif berdasarkan pada kontrak 10 tahun yang tidak dapat dibatalkan pelanggan. “Karenanya, kami berharap tidak ada dampak dari Covid-19 terhadap pendapatan terkontrak kami,” ujar Helmy. Sebaliknya, pihaknya terus menerima pesanan yang kuat dari pelanggan telekomunikasi karena mereka meningkatkan kapasitas jaringan di seantero negeri.

Bukan berarti TBI tanpa tantangan. Adanya ancaman penyebaran Covid-19 tentu menjadi perhatian. Karena itu, perusahaan menjalankan sejumlah langkah. Yang utama, tentu saja, bagaimana mengatur SDM TBI dalam bekerja di situasi pandemi.

Menurut Helmy, TBI telah mengambil langkah-langkah tambahan untuk memastikan bisa menjaga kesehatan karyawan selama masa pandemi ini. TBI juga telah menerapkan Rencana Kesinambungan Bisnis (Business Continuity Plan). Seiring dengan itu, dikembangkan pula Rencana Kesinambungan Operasional, untuk memastikan punya sumber daya yang cukup untuk menjaga operasional berjalan aman. Apalagi, mengingat adanya peningkatan pesanan dari pelanggan.

Diberlakukan mulai 16 Maret 2020, karyawan TBI bisa melakukan pekerjaan mereka dari rumah untuk meminimalkan penyebaran virus. Mereka diberi akses jarak jauh ke server perusahaan. Untuk pelanggan, disediakan layanan call center yang beroperasi 24/7 (24 jam, tujuh hari seminggu).

Helmy mengungkapkan, beberapa karyawan TBI tetap harus mengunjungi lokasi site pelanggan, baik untuk instalasi, layanan, maupun perbaikan. Namun, jika memungkinkan, dilaksanakan secara virtual untuk meminimalkan kunjungan ke pelanggan.

TBI pun bekerjasama erat dengan para pemasok, untuk memastikan pasokan dan pengiriman bahan baku (terutama baja) ke lokasi bisa berjalan dengan baik. “Kami pun terus memonitor dan berkomunikasi dengan pelanggan yang terkena dampak pandemi,” kata Helmy lagi.

Untuk tahun 2020, TBI menargetkan penambahan 3.000 penyewaan baru. Dalam semester I/2020, perusahaan ini secara organik berhasil menambahkan angka penyewaan kotor sebanyak 2.517. “Seiring dengan pelanggan telekomunikasi kami yang fokus pada densifikasi dan perluasan jaringan 4G mereka, kami mendapat permintaan kolokasi yang kuat,” Helmy memaparkan.

Bagaimana kinerjanya? Bila kita tilik dari laporan keuangan yang tersedia, pada semester I/2020 TBI berhasil menggaet pendapatan Rp 2,57 triliun, naik 13,18% dibandingkan periode yang sama pada 2019 yang sebesar Rp 2,27 triliun. Perusahaan yang beraset sekitar Rp 34 triliun (2020) ini mencatat laba bersih semester I/2020 sebesar Rp 510 miliar, meningkat 33,51% dibandingkan laba bersih semester I/2019 yang sebesar Rp 382 miliar. (*)

Joko Sugiarsono/Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)