Di Pengujung Tahun, Jasa Keuangan Tetap Stabil

Pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia. (Ilustrasi Foto : Vicky Rachman/SWA)

Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan menilai stabilitas sektor jasa keuangan dalam kondisi terjaga dengan intermediasi sektor jasa keuangan membukukan kinerja positif dan profil risiko industri jasa keuangan manageable.

Sentimen positif yang berasal dari kesepakatan perang dagang AS-Tiongkok dan kemenangan PM Boris dalam pemilu Inggris mewarnai dinamika perekonomian global di akhir 2019. Selain itu, berlanjutnya kebijakan dovish oleh beberapa bank sentral negara maju terus menjaga likuiditas global dan penguatan pasar keuangan global.

Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK, Anto Prabowo, mengatakan pasar SBN per 20 Desember 2019 mengalami penguatan dengan yield turun sebesar 94,2 basis points (year to date) disertai dengan aliran investor non residen ke pasar SBN tercatat Rp 171,0 triliun. Sementara itu, pasar saham menguat sebesar 4,53% (month to date) atau 1,45% (year to date) menjadi 6.284,4 poin. Penguatan ini ditopang oleh aliran masuk investor non residen. Di periode itu, investor non residen mencatatkan net buy di pasar modal sebesar Rp 47,8 triliun.

Kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan November 2019 sejalan dengan perkembangan yang terjadi di perekonomian domestik. Kredit perbankan mencatat pertumbuhan positif sebesar 7,05% dibandingkan tahun lalu, yang ditopang oleh kredit investasi yang tetap tumbuh double digit di level 13,71%. Piutang pembiayaan Perusahaan Pembiayaan meningkat 4,5% (year on year). Di tengah pertumbuhan intermediasi lembaga jasa keuangan, profil risiko masih terkendali dengan rasio NPL gross sebesar 2,77% (NPL net 1,20%) dan Rasio NPF sebesar 2,5%.

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 6,72%, lebih tinggi dari capaian tahun lalu. Selain itu, sepanjang Januari-November 2019, industri asuransi berhasil menghimpun premi sebesar Rp 261,7 triliun tumbuh sebesar 6,1% (year on year). Sampai dengan 23 Desember 2019, penghimpunan dana melalui pasar modal telah mencapai Rp 166 triliun. “Adapun jumlah emiten baru pada periode tersebut sebanyak 54 perusahaan dengan pipeline penawaran sebanyak 55 emiten dengan total indikasi penawaran sebesar Rp 15,6 triliun,” ujar Anto dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Jum’at (27/12/2019).

Sampai dengan 20 Desember 2019, pertambahan kepemilikan SBN oleh perbankan tercatat sebesar Rp 193,2 triliun. Sementara itu, pertambahan kepemilikan SBN oleh dana pensiun sebesar Rp 43,9 triliun dan asuransi sebesar Rp13,6 triliun (year to date). Jumlah ini mencerminkan positifnya peran lembaga jasa keuangan dalam mendukung pembiayaan perekonomian nasional dimana dana yang berhasil dikumpulkan dari sektor jasa keuangan dimanfaatkan oleh pemerintah untuk pendanaan pembangunan.

Risiko nilai tukar perbankan berada pada level yang rendah, dengan rasio Posisi Devisa Neto (PDN) sebesar 2,13%, jauh di bawah ambang batas ketentuan sebesar 20%. Sementara itu, likuiditas dan permodalan perbankan berada pada level yang memadai. Liquidity coverage ratio dan rasio alat likuid/non-core deposit masing-masing sebesar 201,7% dan 99,63%, jauh di atas ambang batas/threshold masing-masing sebesar 100% dan 50%. Permodalan lembaga jasa keuangan terjaga stabil pada level yang tinggi. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan sebesar 23,81%. Sejalan dengan itu, Risk-Based Capital industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 725% dan 329%, jauh diatas ambang batas ketentuan sebesar 120%.

OJK memantau dinamika perkembangan ekonomi global dan berupaya memitigasi potensi risiko yang ada terhadap kinerja sektor jasa keuangan. OJK juga terus memperkuat koordinasi dengan para stakeholder dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)