Diva dan NFC Kuasai Big Data dan Rantai Pasok Digital

(ke-1 dari kiri) Stanley Tjiandra, Investor Relation NFC dan Abraham Theofilus, Direktur Utama NFC (ke-3 dari kiri))

Setahun sudah dua anak perusahaan Kresna Graha Investama, yakni PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (Diva) dan PT NFC Indonesia Tbk (NFC) melakukan penawaran saham perdananya (IPO) di 2018. Pada saat itu, Diva berhasil meraup dana segar Rp 632 miliar dan NFC mendapatkan Rp 308,3 miliar yang digunakan untuk modal kerja dan pengembangan infrastruktur.

Suntikan dana IPO tersebut membuahkan hasil. Pada akhir 2018, total aset Diva berhasil tumbuh 483,9 persen year on year (YoY) menjadi Rp855,7 miliar, dari Rp146,6 miliar pada 2017. Sementara itu, laba bersih meningkat 4,5 kali menjadi Rp9,8 miliar dari Rp2,2 miliar pada 2017. Serupa dengan NFC, yang pendapatannya naik 1,9 kali menjadi Rp 2,5 triliun.

Lantas, hal apa yang dilakukan kedua perusahaan hingga sukses mencatatkan angka tersebut? Diva sebagai akselerator bisnis digital menyasar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar dapat lebih mudah mengakses produk digital. Untuk mencapai misi tersebut, ada dua produk yang ditawarkan, yakni Diva Smart Outlet dan Diva Intelligent Instant Messaging (IM).

Diva Smart Outlet adalah platform penjualan Point of Sales (PoS) yang terintegrasi (payment gateway) yang memfasilitasi UMKM untuk melakukan penjualan berbagai barang dan jasa (baik digital maupun non-digital). Sementara itu IM merupakan platform penjualan lewat pesan instan populer seperti Line, Whatsapp, Telegram, dan Facebook Messaging.

Raymond Loho, Direktur Utama Diva, menekankan, strategi platform IM lebih efektif untuk menyasar pelanggan yang belum memiliki rekening bank. Selain itu, jalur sosial media dianggap lebih mudah diakses bagi UMKM.

“Dari 18 ribu mitra UMKM kami, sebanyak 70-80 persen menggunakan Instant Messaging, karena itu yang penetrasinya paling cepat. Begitu menggunakan Smart Outlet juga kami punya kriteria untuk penjual yang bisa sampai level tertentu. Ada yang sudah sampai levelnya pun menolak untuk menggunakan Smart Outlet karena pelanggan mereka masih pakai cash,” tutur Raymond pada acara Paparan Publik di Jakarta, (21/5/2019).

Sementara Diva menyasar downstream, NFC dikerahkan untuk ekosistem digital secara upstream lewat tiga anak perusahaannya. Pertama, NFCXC , yakni platform bursa produk. Melalui NFCXC, distributor dan reseller produk digital baik besar maupun kecil dapat saling bertransaksi, sehingga menciptakan pasar yang jauh lebih efisien dan likuid. “Seperti bursa saham, hanya saja ini untuk pulsa. Jadi, harga-harga lebih transparan di kalangan distributor dan reseller,” terang Stanley Tjiandra, Investor Relation NFC.

Per akhir 2018, NFCXC berhasil menggaet 25 ribu pengguna terdaftar dengan rata-rata transaksi Rp 6,8 miliar per hari. “Pendapatan yang dihasilkan dari lini bisnis ini sangat berperan dalam membangun arus kas kami, karena kami sedang merancang dan mengembangkan bursa digital lainnya, yang akan diperkenalkan secara bertahap,” ujar Abraham Theofilus, Direktur Utama NFC dalam Laporan Tahunan 2019 NFC.

Kedua, NFC menaungi PT Digital Marketing Solution (DMS) yang merupakan platform digital berbasis cloud. Kini DMS memiliki 4 ribu titik iklan yang tersebar di 24 kota di Indonesia.

Unit bisnis ketiga NFC bergerak di bidang media dan hiburan, yaitu PT Oona Media Indonesia dengan produk berupa Oona TV. “Kami menawarkan layanan Video on Demand (VoD) dan lebih dari 200 saluran TV lokal dan internasional secara gratis. OONA adalah kunci kami ke depan untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap dan rinci mengenai demografi konsumen kami, termasuk perilaku dan karakteristik mereka,” terang Abraham.

Dengan banyaknya jaringan dari bisnis anak perusahaan, Perseroan bisa mengakomodasi keperluan para klien pengiklan di DMS agar bisa mengetahui tren dan karakter pasar. Sementara itu, big data yang didapatkan juga akan dimanfaatkan untuk keperluan bisnis.

“Kami juga mengembangkan kecerdasan buatan (AI) yang bisa memprediksi kira-kira barang apa yang akan menjadi tren ke depan berdasarkan data historis yang kami punya. Data yang kami punya akan kami feedback-an lagi ke pelanggan kami,” ungkap Raymond.

Sekian anak perusahaan Kresna Graha Investama itu bergerak merangkai jalan menuju visi jangka panjang Kresna Graha Investama untuk masuk ke bisnis big data. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Stanley, “End-gamenya adalah kami ingin menjadi perusahaan yang sangat kuat di big data. Satu bisnis yang akan kami sasar adalah penguasaan bisnis dari supply chain.”

Raymond mengibaratkan anak perusahaan sebagia puzzle yang nantinya akan dirangkai. Satu puzzle yang akan disasar ke depan adalah bidang logistik. “Manajemen merasa ini harus diperkuat karena bisnis yang besarnya adalah supply chain. Kami tahu di satu daerah resourcenya apa, demandapa, di daerah lain punya apa. Dengan memiliki koneksi yang kuat, bisa disambungkan dari satu noda ke noda yang lain,” ujar Stanley.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)