Efek Stimulus Fiskal AS Terhadap Pasar Saham

Pembukaan perdagangan BEI di 2 Januari 2020. (Ilustrasi foto : Vicky Rachman/SWA)

Sentimen mutasi virus dan penolakan Donald Trump terhadap stimulus fiskal sempat membuat investor menjadi khawatir. Namun, kekhawatiran ini akhirnya sirna lantaran Donald Trump menandatangani menandatangani Undang-Undang (UU) mengenai anggaran negara sebesar US$ 2,3 triliun. Ellen May, inspirator investasi dan tim periset Ellen May Research Institute, menyebutkan pengesahan UU ini mendorong pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup naik 1,41% menjadi 6.094 poin pada perdagangan Senin, 28 Desember 2020. Stimulus yang disetujui Donald Trump menambah sentimen positif bagi pasar saham, sehingga menambah optimisme investor.

Ellen menyampaikan saham-saham komoditas seperti batubara, minyak dan gas, emas, metal serta CPO akan mencetak kinerja baik di 2021. “Pada umumnya komoditas akan terdorong oleh pemulihan permintaan, seiring pulihnya ekonomi konsumen terbesar komoditas, yaitu China dan India,” tutur Ellen dalam risetnya di Jakarta, Selasa (29/12/2020).

UU itu mengatur lima aspekk, yang pertama adalah bantuan untuk pengangguran AS, yang akan mendapat dana US$ 300 per minggu hingga pertengahan Maret tahun depan. Kedua, pembayaran langsung senilai US$ 600 per keluarga dan US$ 600 untuk setiap anak. Yang ketiga, dana US$ 284 miliar dalam bentuk pinjaman, sebagai Program Perlindungan Gaji untuk bisnis kecil. Keempat, dana US$ 30 miliar untuk distribusi vaksin Covid-19. Kelima, dana US$ 20 miliar untuk tes Covid-19 dan tracing contact.

Ellen menjelasakan UU tersebut menjadi katalis positif bagi harga emas. Hari ini harga emas dibuka naik 1% dan mencapai harga tertinggi, US$ 1.900 per ons troi. Stimulus menjadi pendorong bagi kenaikan harga emas. Stimulus yang diberikan oleh AS, terutama stimulus pemberian dana langsung, akan meningkatkan jumlah uang beredar di masyarakat atau inflasi. Emas adalah salah satu safe haven yang digunakan untuk lindung nilai terhadap inflasi.

Selain itu, kondisi ekonomi yang masih penuh dengan ketidakpastian mendorong indeks dollar AS melemah. Indeks dollar AS hari ini sudah turun 0,13% dan turun 12% sejak April 2020. Ketidakpastian ekonomi akibat pandemi mendorong investor beralih ke emas. Mengingat kondisi ekonomi AS yang masih belum stabil dan stimulus yang diberikan, emas masih berpotensi naik di 2021 menuju harga US$ 2.000 per ons troi. “Kebijakan suku bunga rendah AS juga bisa menjadi katalis positif bagi harga emas. Tren penurunan kurs dollar AS dan juga rendahnya suku bunga di AS akan membuat aliran dana mengalir ke emerging market seperti Indonesia. Hal ini menjadi hal yang positif untuk pasar saham Indonesia,” ungkap Ellen.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)