Efisiensi Dilakukan Jaya Ancol untuk Menjaga Aliran Dana

Direksi PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk pada paparan publik virtual di Jakarta, Senin, 24 Agustus 2020. (Foto : Dok)

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk melakukan efisiensi dan penghematan untuk menjaga aliran kas seiring dengan penyusutan omset perseroan di masa pandemi Covid-19. Teuku Sahir Sahali, Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol, mengatakan manajemen perseroan mengedepankan efisiensi, berhemat, dan selektif menentukan pengeluaran. “Ada penundaan belanja tanpa mengurangi kualitas belanja untuk biaya maintenance wahana rekreasi, perawatan hewan, dan gaji karyawan,” ujar Teuku Sahir dalam paparan publik virtual di Jakarta, Senin (24/8/2020).

Emiten properti yang sahamnya berkode PJAA ini terdampak pandemi virus corona seiring diberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sejak Maret lalu. Pendapatan PJAA pada semester I tahun ini turun sebesar 58,18%, atau menjadi Rp 254,21 miliar dari Rp 607,89 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pada periode ini, Pembangunan Jaya Ancol menderika kerugian Rp 146,37 miliar dari laba bersih senilai Rp 71,22 miliar. Jika dihitung-hitung laba bersih perseroan menyusut drastis hingga 306%. "Laba bersih turun 306% atau rugi Rp 146 miliar,” ucap Direktur Keuangan Pembangunan Jaya Ancol, Hari Sundjojo.

PJAA menutup operasional Taman Impian Jaya Ancol sejak 14 Maret 2020 hingga 19 Juni lalu. Pada 20 Juni 2020, perseroan kembali membuka wahana rekreasi ini meski jumlah pengunjung dibatasi untuk mematuhi protokol kesehatan dan PSBB. “Sejak dibuka 20 Juni lalu, jumlah pengunjung Ancol sekitar 10% dari jumlah pengunjung di hari normal,” kata Teuku Sahir menambahkan. Sebelum pandemi Covid-19, jumlah pengunjung Ancol pada liburan panjang mencapai angka 120 ribu orang per hari. Untuk liburan akhir pekan, jumlahnya berkisar 40 ribu orang per hari dan hari normal sebanyak 10 ribu hingga 20 ribu pengunjung.

Di masa yang tidak pasti ini, perseroan melakukan dua hal agar omset tidak semakin menyusut. “Yang pertama, kami menjaga cashflow agar tidak banyak yang cash out. Yang kedua, kami promosi lebih intensif untuk menambah pengunjung lebih banyak agar mendapat cash in ke kas perusahaan,” ungkap Teuku Sahir.

Salah satu efisiensi yang diterapkan adalah memangkas belanja modal alias capex yang di tahun ini direvisi menjadi Rp 178 miliar dari sebelumnya senilai Rp 765 miliar “Revisi pengeluaran capex menjadi Rp 178 miliar,” imbuh Hari. PJAA telah menyerap capex sebesar Rp 110 miliar hingga semester I tahun ini.  Harga saham PJAA pada penutupan perdagangan awal pekan ini senilai Rp 570, turun 2,56% dari perdagangan sebelumnya Rp 585.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)